Sabtu, 09 Oktober 2010
CERMIN RIAK HUJAN (EXTENDED LIST)
DENGARKAN DAN RENUNGKAN .......
Minggu, 12 September 2010
SARASVATI EP RIVIEW
Bagaimana kabarnya Risa Saraswati?, tentu ini menjadi pertanyaan bagi mereka familliar dengan karakter vokal yang soulfull dan gloomy. Ternyata setelah hengkang dari HOMOGENIC, Risa membuat solo album atau tepatnya EP album (PreAlbum sebelum album yang sebenarnya ada), saya tahu dari teman savior saya, bahwa Risa bersolo karir dengan membuat solo dengan nama SARASVATI, ya nama SARASVATI sendiri diambill dari nama belakangnya SARASWATI, yang kalau dalam bentuk bahasa sangsekertanya SARASVATI yang berarti DEWI ILMU PENGETAHUAN.(http://www.facebook.com/risasarasvati?ref=ts#!/note.php?note_id=146378648724566).
Lagu tersebut disisipi sentuhan etnik tradisional serta disisipi lirik dengan berbahasa daerah atau berbahasa sunda disertai dengan suara seruling yang menambah kuat karakter dari lagu yang suram, nah setelah saya membaca penjelasan tersebut kemudian saya mendengarkan lagu bilur tersebut, sangat Gloomy dan itu pun membuat saya merinding karena apa yang digambarkan risa dalam penjelasannya sangat kuat terasa dalam setiap lirik lagu bilur yang digambarkan dalam bentuk frase khiasan, ah.... saya tidak bisa komentar jujur saya hanya bisa mendengarkan dan mencoba melayangkan ke dalam imagi lirik lagu bilur.
Gambaran album EP Risa Saraswati tersebut sangatlah Melankolis (saya tidak mau mengatakan gothik karena melankolis adalah kata yang tepat menggambarkan album Sarasvati), Nuansa yang berbeda dengan HOMOGENIC, karena disini Risa Saraswati terlihat mengeksplor habis-habisan sisi melankolis, sehingga terdengar Gloomy dan Gelap tapi tidak suram tepatnya masih terdapat gambaran harapan yang tergambarkan dalam album tersebut. Satu lagi yang tidak pernah hilang yaitu karakter vocal Risa Saraswati yang sangat kuat dan khas, sehingga kita dapat merasakan penjiwaan dari Risa Saraswati, itulah membuat perbedaan yang besar dengan musisi lainnya. Risa Saraswati telah berhasil memberikan Penjiwaan pada setiap lagunya, sehingga kita mungkin bisa merasa merinding ataupun terdiam sejenak ketika mendengarkan lagu-lagu dari EP Sarasvati.
NB:
Jumat, 10 September 2010
NIHIL
SARASVATI EP ALBUM
Selendang bersulam sutra, biduri lembayung jingga...
Saksi mati tuk bersaksi, gelimang pesona diri...
Belia usia dulu, ruap cinta tlah menggebu...
Samar kulihat dunia...tak sadar semua fana...
Sekilas lihatlah mega, anugerah tiada tara...
Ini tak adil untukku, halimun hitam merasuk...
Ceracau getir ibunda, gemertak sengap hatinya...
Firasat tak penah salah...Hanya kuberbuat... Ulah....
Semerbak dupa iringi kumelangkah..
Cungkupku hanya tanah...
Bilur hati merambah...
Akan datangkah bagiku...Kesempatan...
Bila tak ada titian...
Diri yang rupawan...
Bila tak ada titian...Jalan yang....Rupawan...
"Duh, teungteuingeun...tuntung lengkah...geuning...bet peurih..."
NB:
Manusia Stagnan
Kamis, 01 Juli 2010
At a glimpse: Sarasvati: Chapter Two
You recognize Sarasvati as the Hindu goddess of knowledge, arts and music, but music fans in Indonesia probably know of another Sarasvati — Risa Saraswati from the Bandung-based electropop outfit Homogenic.
Sarasvati: Courtesy of Ferry Nurhayat
However, this association is no longer relevant since Risa recently announced she had left Homogenic citing artistic differences. Homogenic’s management said in a statement that Risa had decided to resign from Homogenic because of irreconcilable differences between her future plan and that of the band.
Risa, however, remained tight-lipped about why she had left the band that had introduced her to the Indonesian music scene.
But for Rissa, life has gone on since her departure from Homogenic. She continues to write new material and continues playing music as part of her dedication to fans who have demanded new music from her.
And now Rissa is making a return to the limelight with her new seven-track EP. In fact she is also assuming a new moniker as Sarasvati, after the Hindu goddess mentioned above.
“To be honest with you, being a solo artist is something I have been thinking about for a while,” Rissa told The Jakarta Post. With her outstanding vocal range, which some describe as angelic, she will no doubt be a serious contender for the title of Indonesia’s most cutting-edge female solo performer.
Being a solo performer has also allowed Sarasvati to do something she was unable to with Homogenic — write her own material.
“I wrote five songs for this EP. The other two tracks are my take on other people’s songs,” she said.
The new materials however would not be so dissimilar with her outputs with Homogenic. The song contains the trick that she has perfected over the years with the band, the ethereal and dreamy soundscapes that has become the trademark of Homogenic.
“I’m pursuing my own obsession,” she said.
“With this kind of work, I want people to know that every goodbye leaves us with a hole inside. I’m losing some things. But on the other hand, I want to fill that hole by creating Sarasvati.”
So far, Sarasvati has not had a single stage performance and fans can be forgiven for being skeptical of her new project. Can she live up to her old band’s reputation?
“Well, you can expect something theatrical as you would expect from the tale of Sarasvati,” she said with a smile. But one thing is for sure: When it comes to good music, Sarasvati is no newbie.
One of these days, you can probably download her new single “Oh I Never Know” free. Follow her at www.twitter.com/risa_saraswati for more details.
At a Glimpse is all about the local music scene. Give us a shout at sundayglimpse@gmail.com. Also, become our friend at www.facebook.com/sundayglimpse and follow us at twitter.com/sundayglimpse.
http://www.thejakartapost.com/news/2010/06/27/at-a-glimpse-sarasvati-chapter-two.html
Kamis, 17 Juni 2010
Epic Symphony – Homogenic
album ini bagus. secara musikal sangat top dan lebih hebatnya lagi karakter yang sudah terbentuk sejak debut album ini.. musik mereka sangatlah Homogenic, ya walaupun masih ada rasa rasa dari para pendahulu elektro pop with female vocal seperti dubstar, everything but the girl (ebtg). Tapi musik Homogenic memiliki kedalaman nya tersendiri yang hanya bisa didapat di album ini.
Homogenic atau terbentuk dari bagian bagian yang serupa atau identik. Musik mereka semuanya terbentuk dari pola pola yang homogen. Beat sintetis, keyboard dan vokal. Bebunyian yang nyaris serupa itu dipadu sedemikian rupa sehingga tidak jatuh dalam perangkap monotonitas atau kebosanan.
Hogenitas tiap tiap lagu membentuk kesatuan album yang sinambung… nyaris tanpa cacat. Bunyi bunyian yang sintetis dan dingin dapat dibayangkan sebagai dunia es yang terbuat dari kaca rapuh. Dengan nuansa ethereal yang sangat kental sekali.
Coba pejamkan mata. Rasakan jiwa musik mereka yang dingin.
Digabung dengan hangatnya vokal Risa. Yang bisa bernyanyi dengan lembut tapi bertenaga. (tenaga lembut) ingat lembut, bukan lelembut.
Progresi ditiap lagu terasa lancar, begitu pula progresi album ini.. semua mengalir dengan hasil pengalaman perlagu yang berbeda beda. Seperti sebuah perjalanan melayang di dunia es kaca yang dingin ditemani bunyi roda kereta yang berdentum sesuai irama dan suara yang menghangatkan.
Beberapa lagu bisa benar benar mempengaruhi emosi. Karena adanya penjiwaan yang benar benar baik. Salah satu lagu terkuat dalam bahasa Indonesia?semu? entah kenapa bisa memunculkan kesedihan yang misterius.
Ataupun lagu berbahsa Inggris ?faithfull dream? yang memunculkan perasaan serupa dengan saat kita terbangun dari mimpi yang mengharukan. Misalnya mimpi bertemu dengan orang kesayangan yang telah meninggal. Atau ketemu dengan bleki kesayangan kita yang mati karena flu. Sedih dan bahagia bercampur aduk.
?Taste of Harmony? membawa kita jalan jalan lagi ke dunia mimpi yang penuh khayalan bahagia, dimana semuanya sangat serasi (harmonis) dan sangat nyaman untuk bermain dan bergembira. Seperti bermain petak jongkok dicincin Jupiter, atau Gobaksodor di aurora atau seru juga maen prosotan di Pelangi.
Tadi adalah lagu lagu terkuat di album ini.tapi lagu lagu lain pun memainkan emosi pendengar seperti membangkitkan kenangan masa lalu, sesuai dengan kekuatan masing masing lagu,
Semua empati yang dihasilkan oleh musik Homogenic dihasilkan dari beat sintetis, dan keyboard, dan beberapa additional gitar. Dan tentu saja kekuatan vokal yang sangat berperan disini dalam menemani kita menjelajahi dunia mimpi. Itu dari sisi musikal.
Hal yang mengganggu kesinambungan album ini, justru datang dari bahasa. Bahkan saat didengarkan sambil tidur tiduran rileks pun, pergantian dari lagu berbahasa Inggris ke lagu berbahasa Indonesia bisa menjadi pengganggu. Walaupun kecil, tapi menurut gue sih harus tetap diperhatikan.
Seperti muncul perasaan yang aneh… seperti berada di udara sejuk Lembang Jawa Barat lalu tiba tiba ada di pedesaan dingin Iceland…untuk lebh ekstremnya mungkin sebuah album kompilasi antara Iwan Fals dengan Bob Dylan.. adanya jurang kebudayaan… ngga seekstrem itu sih,
Adanya dua bahasa bisa jadi untuk awal permulaan mencari jati diri, tetapi justru bisa mengaburkan karakter Homogenic yang sebenarnya sudah terbentuk. Seperti bumerang yang jika tidak dikuasai dengan baik justru akan menyerang kediri sendiri.
Sumber: http://deathrockstar.info/epic-symphony-homogenic/