Selasa, 17 Februari 2009
Tingkap-tingkap langit pengharapan
Langit Biru begitu pekat, Bunga-bunga POPPY bermekaran menghiasi padang-padang persemaian, sedikit saja ku reguk dalam-dalam, aroma mu akan membuat ku selalu merasa ada di dalam Surga yang surgawi. Oh para pencari kemuliaan tunjukanlah arti sebuah kemuliaan seorang manusia sebagai manusia bukan sebagai HOMO HOMINI LUPUS, adakah kemuliaan seorang manusia itu sepadan dengan setiap nectar Bunga-bunga POPPY yang membuat ku terlupa akan semua tujuan hidupku yang tidak diberikan jalan tangga-tangga kehidupan oleh mereka yang disebut manusia, sepertinya aku harus menjadi Adimanusia agar dapat memecah-mecah kehidupan apa yang biasa disebut manusia-manusia penghisap, Hanya itu satu-satunya jalan menjadi ADIMANUSIA yang bersama dengan Nectar Bunga-bunga POPPY yang selalu menghiasi harumya dunia.
Minggu, 15 Februari 2009
MINUS TEMAN?
Apa artinya teman, itu saya tidak pahami sama sekali, kebanyakan mereka hanya tahu kalau teman adalah segalanya, adakah mereka mengenal apa yang disebut teman atau pun sahabat secara mendalam atau hanya berdasarkan luapan emosi yang sangat dangkal, saya sendiri secara pribadi anti sosial kronis, pernah punya teman dekat namun pada akhirnya saya dijadikan sebagai tameng untuk menutupi semua kesalahan, akhirnya saya kena getahnya dimarahi oleh orang tua sahabat saya sendiri, bahkan diusir, sejak awal saya tahu memang semua itu salah, tapi kenapa saya mau menutupi kesalahan teman atau sahabat saya? jawabannya adalah karena saya terlalu memakai perasaan tepatnya terbawa emosi, fuiiih, lebih baik tidak punya teman, kesepian-kesepian deh, setidaknya ego saya tidak ada yang dikorban kan sepihak.
semua orang hanya memandang pertemanan ataupun relasi hanya sebatas intrest itu sebabnya homo menjadi Homo Homini lupus,! SHIT!Artinya teman hanya sebagai sebuah relasi yang sifatnya Monolog bukannya Dialaog, akibatnya bisa ditebak bahwa tidak ada yang abadi dalam sebuah relasi hanya sebuah kepentingan yang sifatnya sangat - sangat Pragmatis. Mengerikan!!!
Tidak ada yang tulus , tidak ada baik, tidak ada kepercayaan, yang ada hanya sentimen sinisis dan Kepentingan dan kepentingan selalu. DAMN!!!
Proses yang selalu berulang yang pada akhirnya akan menjadi sebuah KENIHILAN
SAYA pengagum Teori ABSURD(NIHILISME)Nietszche, Saya sangat setuju apa yang dikatakan Nietszche "Bahwa Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?"
Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125(WIKIPWEDIA.COM),
ARTINYA APA? SEMUA PROSES BERULANG TERSEBUT MENGANDUNG SEBUAH NILAI YANG DI SEBUT NIHLISME ATAU ABSURDITAS//////
Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125(WIKIPWEDIA.COM),
ARTINYA APA? SEMUA PROSES BERULANG TERSEBUT MENGANDUNG SEBUAH NILAI YANG DI SEBUT NIHLISME ATAU ABSURDITAS//////
Sabtu, 14 Februari 2009
ABSURD
Benarkah Tuhan saudah mati seperti apa yang dikatakan oleh Nietzsche dalam karyanya Also sprach Zarathustra( demikaian lah sabda Zarathustra dalam terjemahan bebas), tapi setelah saya membaca karyanya akhinya saya menemukan bibit atheis. Jujur saja benar memang bahwa Tuhan sudah saya bunuh dengan pisau-pisau manusia.
setelah saya coba pahami bahwa bukan Tuhan yang di kritk oleh Nietzsche, teteapi manusialah yang melakukan rutinitas Theologis dalam perspektif EGOSENTRIS dalam bentuk pemujaan yang berlebihan, harus diakui saya terkadang juga seperti itu, Hingga sampai pada perenungan bahwa Tuhan itu memang tidak ada(Mengenai hal tersebut sebagian dari pribadi saya masih bergejolak menentang pribadi atheis dalam diri saya kalau sewaktu-waktu saya benar-benar menjadi atheis), hal tersebut dapat dibuktikan dengan sangat sederha KITA DALAM HAL INI MANUSIA ADALAH OBJEK BAGI TUHAN, DI SINI TUHAN ADALAH BERKEDUDUKAN SEBAGAI SUBJEK, TUHAN JUGA SEBAGAI OBJEK BAGI MANUSIA KALAU BEGITU APAKAH ADA EKSISTENSI DARI ENTIATAS TUHAN- MANUSIA- TUHAN? SAYA RASA SEMUA ATAU AHLI FILSUF TIDAK AKAN MAMPU MEMECAHKAN HA TERSEBUT, Nietzsche HANYA MEMBERIKAN FAKTA BAHWA MANUSIA SELALU MENCARI PEMBENARAN ATAS SEGALA PERBUATANNYA, DALAM BENTUK PELARIAN THEOLOGIS DALAM HAL INI AGAMA DAN TUHAN YANG MENJADI CANDU YANG HALAL KARENA ITU HANYA BERADA DALAM KONTEKS MANUSIA IN PERSONA, MUNAFIK KAH MANUSIA ? ATAU BERDOSAKAH MANUSIA DENGAN MENUJUKAN KEBANGGAAN SECARA BERLEBIHAN ATAS AGAMA YANG MEREKA YAKINI SEHINGGA MENGCULTUSKAN IMAGE-IMAGE ATAU SIMBOL-SIMBOL TERTENTU!!!!. ITULAH RUTINITAS YANG SELALU BERULANG-ULANG, KENIHILANAN SEBAGAIMANA YANG DIMAKSUD OLEH NIETZCHE
Saya kira jawaban tersebut kalau dicari kemungkinan manusia tersebut akan menemukan dirinya tersesat, akhirnya akan mempertanyakan akan kah yang diyakini selama inin sebagai keyakinan adalah benar pada hakikatnya? pasti haslinya akanABSURD MUTLAK karena dalam dunia ini satu-satunya Yang mempunyai nilai mutlak adalah RELATIFITAS atau kenisbian akan sebuah citra, eksistensi dan apapun itu namanya !!!!!!!!!!!!!!!
Kamis, 12 Februari 2009
Langit Biru
Tahun ini mulai terasa berat, memang apa yang bisa terjadi kalo semua terasa kelu untuk dirasa. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan, satu2 hanya bertahan dan terus menjadi bayang2 tagar bisa keluar dari tingkap-tingakap langit biru. Setiap ku lihat langit Biru hanya ada satu hal yanh terlintas dalam benakku, Iri. aku Iri kenapa mereka menjadi lebih dipantaskan, aku iri kepada teman baikku yang telah menjadikan ku tameng untuk segala kesalahaanya kini ia menjadi tinggi, aku iri terhadap para pendosa yang bisa menjadi paragmatis tanpa rasa pesimis, aku iri akan segala episode-episode hidup yang sangat absurd. Dia yang disebut Tuhan adakah dia?
BIRU ABSURD
Beberapa minggu lalu saya diperdengarkan beberapa lagu dari Band electro asal bandung Homogenic namanya, setelah saya dengar beberapa lagu memang bagus, yang menjadi perhatian saya beberapa lagu(walaupun hanya tahu sedikit) bernada minor, aneh malah terkesan agak kelam walaupun tidak sesuram dan kelam King Crimson dengan Epitaph Dan The Court Of Crimson King nya, Setelah saya browsing diinternet, baru saya tahu penampilan Trio Homogenic tersebut adalah Rissa, Deena, dan Gradea, yang saya tanyakan Latar belakang mereka adalah Kapitalis dengan Urban Culture atau kalau mau digampangkan penyebutanya adalah anak gaul, terlepas dari itu semua karya-karya mereka bisa dibilang bagus
Sabtu, 27 Desember 2008
Bom Napalm Model Vietnam Digunakan Melawan Kaum Tani Indonesia: Statemen Solidaritas Kepada Warga Dusun Suluk Bongkal
Bom Napalm Model Vietnam Digunakan Melawan Kaum Tani Indonesia: Statemen Solidaritas Kepada Warga Dusun Suluk Bongkal
Oleh International Marxist Tendency
Pada tanggal 18 Desember, pihak kepolisian Indonesia, yang mewakili kepentingan PT. Arara Abadi (sebuah perusahaan kertas and pulp), menyerbu warga dusun Suluk Bongkal di Sumatra yang sedang berjuang mempertahankan lahannya dari serobotan PT. Arara Abadi. Dengan dilengkapi pentungan, water canon, dan senjata api, serta dukungan preman-preman bayaran, sekitar 500 pasukan polisi menerobos barisan yang dibentuk oleh ibu-ibu dan anak-anak yang berdiri di jalan masuk desa. Lalu mereka menembaki warga dengan peluru karet dan gas air mata, memukuli mereka dengan kejam, dan membakari rumah-rumah warga dengan bom napalm yang dijatuhi dari 2 helikopter. Represi ini bukan hanya mengakibatkan banyak warga yang terluka tetapi juga meninggalnya seorang anak berumur 2 tahun (yang bernama Fitri) yang jatuh ke dalam sumur akibat lari ketakutan.
Dari laporan terakhir, sekitar 200 warga termasuk aktivis-aktivis Serikat Tani Riau ditahan dan lebih dari 400 warga sampai sekarang masih berada ditengah hutan bersembunyi dari represi polisi. Pihak kepolisian telah menambah pasukannya, dengan ribuan polisi dan preman berjaga-jaga dan mengejar para warga dan aktivis-aktivis Serikat Tani Riau.
Ratusan warga desa Suluk Bongkal diteror, 700-an rumah mereka habis terbakar, tanah pertanian dan alat produksi mereka tak terselamatkan, dan satu anak umur 2 tahun kehilangan nyawanya. Ini semua demi kepentingan PT. Arara Abadi yang ingin mengklaim tanah seluas 5 ribu hektar ini yang merupakan tanah milik rakyat.
PT Arara Abadi adalah subsidiari divisi perhutanan di Sumatra dari Sinar Mas Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia yang dimiliki oleh kapitalis nasional Eka Tjipta Widjaja. Perusahaan ini adalah bagian dari Asia Pulp & Paper (APP) yang merupakan korporasi multinasional dan salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia yang memiliki klien di lebih dari 60 negara. Disini kita lihat dengan jelas seribu benang yang mengikat kaum borjuasi nasional Indonesia dengan modal asing, dan bahwa aparatus negara Indonesia adalah tidak lebih dari alat represi dari kekuatan modal nasional dan modal asing, dalam kata lain alat represi dari kapitalisme.
Dengan krisis ekonomi global ini, seperti halnya banyak perusahaan lainnya, harga saham APP telah jatuh hampir 75% dalam waktu 6 bulan terakhir. Ini mendorong perusahaan-perusahaan kapitalis untuk lebih mengeksploitasi rakyat dengan cara: menekan upah buruh, memecat buruh, dan di dalam kasus ini menyerobot tanah rakyat guna mendapatkan profit yang lebih tinggi. Ini bukan pertama kalinya APP dan subsidiari-subsidiarinya melakukan kekejaman terhadap rakyat dalam usahanya mencari profit, dan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Cina dan Kamboja.
Oleh karena itu, International Marxist Tendency menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Menyatakan solidaritas kita kepada warga Suluk Bongkal dan kawan-kawan Serikat Tani Riau di dalam perjuangan mereka untuk membela hak mereka atas tanah mereka.
2. Mengutuk tindakan represi yang dilakukan terhadap warga Suluk Bongkal oleh pihak kepolisian yang mewakili kepentingan PT Arara Abadi.
3. Bawa ke pengadilan semua pihak yang terkait di dalam represi ini, termasuk pimpinan PT Arara Abadi
4. Menuntut dibebaskannya dengan segera 200 orang warga dan aktivis Serikat Tani Riau yang tertangkap tanpa syarat.
5. Menuntut dikembalikannya tanah milik warga Suluk Bongkal, dengan ganti rugi penuh terhadap seluruh kerusakan yang dilakukan oleh pihak kepolisian dan preman-preman bayaran.
6. Menyerukan kepada para pekerja Sinar Mas Group, APP, dan subsidiari-subsidiarinya untuk mengorganisir mogok kerja solidaritas
Krisis kapitalisme global akan semakin mempertajam and memperparah serangan-serangan terhadap rakyat pekerja dan kaum tani. Satu-satunya jalan untuk melawan ini adalah dengan mengambil sikap ofensif. Rakyat pekerja bersama-sama dengan kaum tani dan lapisan tertindas lainnya, bersatu bergerak bersama menuju sosialisme.
Nasionalisasi Ekonomi di Bawah Kontrol Buruh!
Nasionalisasi Tanah di Bawah Kontrol Tani!
Buruh dan Tani, Bersatulah!
Vietnam style napalm bombs used against Indonesian peasants: A solidarity statement for the people of Suluk Bongkal
By International Marxist Tendency
On December 18th, the Indonesian police, who represent the interests of P.T. Arara Abadi, a pulp and paper company in Indonesia, attacked the people of Suluk Bongkal village in Sumatra who have been fighting to protect their land from the encroachment of P.T. Arara Abadi. Equipped with batons, water cannons, and fire arms, also with the support of hundreds of paid thugs, about 500 police officers attacked the picket line made up of women and children who were blocking the road to the village. Then they started shooting at the people with rubber bullets and tear gas, brutally beating the people, and burning down their houses with napalm bombs dropped from two helicopters. This repression not only injured many people but also cost the life of a 2-year-old child named Fitri who fell into a well because she was running scared from the attack.
From the latest report about 200 people, including the activists from the Riau Peasants' Union, have been arrested and more than 400 people are hiding in the jungle fearing further repression. The police have brought in reinforcements, with thousands of police and hired thugs patrolling the village and hunting down the residents and activists of the Riau Peasants' Union.
Hundreds of residents of Suluk Bongkal village have been terrorized, around 700 of their houses have been burned to the ground, their agricultural land and equipment has been destroyed, and one 2-year-old child has lost her life. All this to defend the interests of P.T. Arara Abadi who wants to take over a 5000 acre piece of land which belongs to the people of Suluk Bongkal.
P.T. Arara Abadi is the Sumatra subsidiary forestry division of Sinar Mas Group, one of the largest conglomerates in Indonesia owned by the local capitalist Eka Tjipta Widjaja. This company is part of Asia Pulp & Paper (APP), a multinational corporation which is one of the largest pulp and paper companies in the world with clients in more than 60 countries. Here we see clearly the thousand threads that bind the Indonesian national bourgeoisie with foreign capital, and how the Indonesian state apparatus is nothing more than a tool of repression of foreign and national capital.
With the global economic crisis, just as in many other companies, the stock value of APP has dropped more than 75% in the last 6 months. This is pushing many capitalist companies to intensify exploitation even more by pushing down the wages of the workers, sacking the workers, and in this case taking over the people's land in order to increase profit. This is not the first time APP and its subsidiaries have been involved in repression against the people in its pursuit of profit, and not only in Indonesia but also in China and Cambodia.
Therefore, the International Marxist Tendency would like to make these statements:
1. We are in solidarity with the people of Suluk Bongkal and the comrades of the Riau Peasants' Union in the their struggle to defend their land rights.
2. We condemn the repression perpetrated against the people of Suluk Bongkal by the police forces who are representing the interests of P.T. Arara Abadi.
3. We demand that everyone involved in this repression be brought to justice, including the director of P.T. Arara Abadi.
4. We demand the immediate and unconditional release of the 200 residents and activists of the Riau Peasants' Union who have been arrested.
5. We demand the return of the land belonging to the people of Suluk Bongkal, with full compensation for the destruction carried out by the police and the hired thugs.
6. We appeal to the workers of the Sinar Mas Group, APP, and their subsidiaries to organize a strike in solidarity
The global crisis of capitalism will sharpen and worsen the attacks against workers and peasants. The only way to fight this is to take an offensive stand. The workers together with the peasants and the oppressed layers need to unite and move toward socialism.
Nationalization of the economy under workers' control!
Nationalization of land under peasants' control!
Workers and peasants unite!
_______________________________________________
Mailing list In Defence of Marxism - Indonesia (www.marxist.com)
Bahasa Indonesia: www.marxist.com/indonesian.htm
Oleh International Marxist Tendency
Pada tanggal 18 Desember, pihak kepolisian Indonesia, yang mewakili kepentingan PT. Arara Abadi (sebuah perusahaan kertas and pulp), menyerbu warga dusun Suluk Bongkal di Sumatra yang sedang berjuang mempertahankan lahannya dari serobotan PT. Arara Abadi. Dengan dilengkapi pentungan, water canon, dan senjata api, serta dukungan preman-preman bayaran, sekitar 500 pasukan polisi menerobos barisan yang dibentuk oleh ibu-ibu dan anak-anak yang berdiri di jalan masuk desa. Lalu mereka menembaki warga dengan peluru karet dan gas air mata, memukuli mereka dengan kejam, dan membakari rumah-rumah warga dengan bom napalm yang dijatuhi dari 2 helikopter. Represi ini bukan hanya mengakibatkan banyak warga yang terluka tetapi juga meninggalnya seorang anak berumur 2 tahun (yang bernama Fitri) yang jatuh ke dalam sumur akibat lari ketakutan.
Dari laporan terakhir, sekitar 200 warga termasuk aktivis-aktivis Serikat Tani Riau ditahan dan lebih dari 400 warga sampai sekarang masih berada ditengah hutan bersembunyi dari represi polisi. Pihak kepolisian telah menambah pasukannya, dengan ribuan polisi dan preman berjaga-jaga dan mengejar para warga dan aktivis-aktivis Serikat Tani Riau.
Ratusan warga desa Suluk Bongkal diteror, 700-an rumah mereka habis terbakar, tanah pertanian dan alat produksi mereka tak terselamatkan, dan satu anak umur 2 tahun kehilangan nyawanya. Ini semua demi kepentingan PT. Arara Abadi yang ingin mengklaim tanah seluas 5 ribu hektar ini yang merupakan tanah milik rakyat.
PT Arara Abadi adalah subsidiari divisi perhutanan di Sumatra dari Sinar Mas Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia yang dimiliki oleh kapitalis nasional Eka Tjipta Widjaja. Perusahaan ini adalah bagian dari Asia Pulp & Paper (APP) yang merupakan korporasi multinasional dan salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia yang memiliki klien di lebih dari 60 negara. Disini kita lihat dengan jelas seribu benang yang mengikat kaum borjuasi nasional Indonesia dengan modal asing, dan bahwa aparatus negara Indonesia adalah tidak lebih dari alat represi dari kekuatan modal nasional dan modal asing, dalam kata lain alat represi dari kapitalisme.
Dengan krisis ekonomi global ini, seperti halnya banyak perusahaan lainnya, harga saham APP telah jatuh hampir 75% dalam waktu 6 bulan terakhir. Ini mendorong perusahaan-perusahaan kapitalis untuk lebih mengeksploitasi rakyat dengan cara: menekan upah buruh, memecat buruh, dan di dalam kasus ini menyerobot tanah rakyat guna mendapatkan profit yang lebih tinggi. Ini bukan pertama kalinya APP dan subsidiari-subsidiarinya melakukan kekejaman terhadap rakyat dalam usahanya mencari profit, dan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di Cina dan Kamboja.
Oleh karena itu, International Marxist Tendency menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Menyatakan solidaritas kita kepada warga Suluk Bongkal dan kawan-kawan Serikat Tani Riau di dalam perjuangan mereka untuk membela hak mereka atas tanah mereka.
2. Mengutuk tindakan represi yang dilakukan terhadap warga Suluk Bongkal oleh pihak kepolisian yang mewakili kepentingan PT Arara Abadi.
3. Bawa ke pengadilan semua pihak yang terkait di dalam represi ini, termasuk pimpinan PT Arara Abadi
4. Menuntut dibebaskannya dengan segera 200 orang warga dan aktivis Serikat Tani Riau yang tertangkap tanpa syarat.
5. Menuntut dikembalikannya tanah milik warga Suluk Bongkal, dengan ganti rugi penuh terhadap seluruh kerusakan yang dilakukan oleh pihak kepolisian dan preman-preman bayaran.
6. Menyerukan kepada para pekerja Sinar Mas Group, APP, dan subsidiari-subsidiarinya untuk mengorganisir mogok kerja solidaritas
Krisis kapitalisme global akan semakin mempertajam and memperparah serangan-serangan terhadap rakyat pekerja dan kaum tani. Satu-satunya jalan untuk melawan ini adalah dengan mengambil sikap ofensif. Rakyat pekerja bersama-sama dengan kaum tani dan lapisan tertindas lainnya, bersatu bergerak bersama menuju sosialisme.
Nasionalisasi Ekonomi di Bawah Kontrol Buruh!
Nasionalisasi Tanah di Bawah Kontrol Tani!
Buruh dan Tani, Bersatulah!
Vietnam style napalm bombs used against Indonesian peasants: A solidarity statement for the people of Suluk Bongkal
By International Marxist Tendency
On December 18th, the Indonesian police, who represent the interests of P.T. Arara Abadi, a pulp and paper company in Indonesia, attacked the people of Suluk Bongkal village in Sumatra who have been fighting to protect their land from the encroachment of P.T. Arara Abadi. Equipped with batons, water cannons, and fire arms, also with the support of hundreds of paid thugs, about 500 police officers attacked the picket line made up of women and children who were blocking the road to the village. Then they started shooting at the people with rubber bullets and tear gas, brutally beating the people, and burning down their houses with napalm bombs dropped from two helicopters. This repression not only injured many people but also cost the life of a 2-year-old child named Fitri who fell into a well because she was running scared from the attack.
From the latest report about 200 people, including the activists from the Riau Peasants' Union, have been arrested and more than 400 people are hiding in the jungle fearing further repression. The police have brought in reinforcements, with thousands of police and hired thugs patrolling the village and hunting down the residents and activists of the Riau Peasants' Union.
Hundreds of residents of Suluk Bongkal village have been terrorized, around 700 of their houses have been burned to the ground, their agricultural land and equipment has been destroyed, and one 2-year-old child has lost her life. All this to defend the interests of P.T. Arara Abadi who wants to take over a 5000 acre piece of land which belongs to the people of Suluk Bongkal.
P.T. Arara Abadi is the Sumatra subsidiary forestry division of Sinar Mas Group, one of the largest conglomerates in Indonesia owned by the local capitalist Eka Tjipta Widjaja. This company is part of Asia Pulp & Paper (APP), a multinational corporation which is one of the largest pulp and paper companies in the world with clients in more than 60 countries. Here we see clearly the thousand threads that bind the Indonesian national bourgeoisie with foreign capital, and how the Indonesian state apparatus is nothing more than a tool of repression of foreign and national capital.
With the global economic crisis, just as in many other companies, the stock value of APP has dropped more than 75% in the last 6 months. This is pushing many capitalist companies to intensify exploitation even more by pushing down the wages of the workers, sacking the workers, and in this case taking over the people's land in order to increase profit. This is not the first time APP and its subsidiaries have been involved in repression against the people in its pursuit of profit, and not only in Indonesia but also in China and Cambodia.
Therefore, the International Marxist Tendency would like to make these statements:
1. We are in solidarity with the people of Suluk Bongkal and the comrades of the Riau Peasants' Union in the their struggle to defend their land rights.
2. We condemn the repression perpetrated against the people of Suluk Bongkal by the police forces who are representing the interests of P.T. Arara Abadi.
3. We demand that everyone involved in this repression be brought to justice, including the director of P.T. Arara Abadi.
4. We demand the immediate and unconditional release of the 200 residents and activists of the Riau Peasants' Union who have been arrested.
5. We demand the return of the land belonging to the people of Suluk Bongkal, with full compensation for the destruction carried out by the police and the hired thugs.
6. We appeal to the workers of the Sinar Mas Group, APP, and their subsidiaries to organize a strike in solidarity
The global crisis of capitalism will sharpen and worsen the attacks against workers and peasants. The only way to fight this is to take an offensive stand. The workers together with the peasants and the oppressed layers need to unite and move toward socialism.
Nationalization of the economy under workers' control!
Nationalization of land under peasants' control!
Workers and peasants unite!
_______________________________________________
Mailing list In Defence of Marxism - Indonesia (www.marxist.com)
Bahasa Indonesia: www.marxist.com/indonesian.htm
Langganan:
Postingan (Atom)