Label

Selasa, 12 Mei 2009

Fakta dari terbunuhnya mhs indonesia di Singapore telah terungkap

From: sapto pramudyo [mailto:tujuh2005@yahoo.com]
Sent: Friday, April 24, 2009 9:23 PM
To: Pramudyo, Sapto
Subject: Fw: [atmi_32] Fakta dari terbunuhnya mhs indonesia di Singapore telah terungkap



----- Forwarded Message ----
From: "yunus.aryanto@dankosfarma.com"
To: mala ; Yuliningsih ; yoel@proenergi.com; jonathan.acc@himalayatex.co.id; susandika.cahyo@BETADINE-INA.COM; aliandy.nababan@energi-mp.com; Yudi Hariadi ; nurhance@puninar.com; Salman Paris Panggabean ; atmi_32@yahoogroups.com
Sent: Friday, April 24, 2009 9:36:44 AM
Subject: [atmi_32] Fakta dari terbunuhnya mhs indonesia di Singapore telah terungkap





Kayaknya sih emang di Indo banyak yg pinter tapi sayangnya kalah sama penjahat ye........


Topik: FW: [ppidenhaag] Fakta dari terbunuhnya mhs indonesia di Singapore telah terungkap



Subject: FW: [ppidenhaag] Fakta dari terbunuhnya mhs indonesia di Singapore telah terungkap




The family of David Hartanto Widjaja and his father, Mr Hartanto Widjaja, his elder brother and his mother flew back to Jakarta on 4 March 2009 . Nanyang Technological University (NTU) student David Hartanto Widjaja, 21, fell to his death on 2 March 2009 from the roof of a bridge that links NTUís School of Electrical & Electronic Engineering to an adjacent building. Widjaja had earlier stabbed his project supervisor, Associate Professor Chan Kap Luk.


A rose left at the spot where David Hartanto Widjaja, 21, a final-year Indonesian undergraduate at Nanyang Technological University (NTU), had jumped to his death on 2 March 2009 . He had earlier attacked Associate Professor Chan Kap Luk with a knife before fleeing and taking his own life. Both Widjaja and the professor were from the School of Electrical and Electronic Engineering (EEE).



NTU president Su Guaning embraces David’s father at the serivce before cremation at the Mandai Crematorium. Standing first from left is associate professor Lok Tat Seng, Dean of students.

[David Hartanto Widjaja’s parents and older brother identify and claim his body at the mortuary. The body was cremated at Mandai crematorium later in the day.



David’s father takes a final look at his deceased son before the cremation at Mandai crematorium. Second from left is the elder brother of David. David’s mother (in white, partially hidden) and a counsellor (first from left) was also present.



NTU President, Su Guaning embraces David’s mother during the service before cremation at the Mandai Crematorium. David’s father is on the far right of the picture and his elder brother is seated on the left of the picture.



Blood stains on the floor in Professor Chan Kap Luk’s office.



Blood stains on the office desk of Professor Chan Kap Luk.



A cleaner mops away blood stains on the stairs. It is believed that Nanyang Technological University (NTU) student David Hartanto Widjaja fled down this flight of stairs after stabbing Associate Professor Chan Kap Luk.



Blood stains on a door handle to a stair well where the deceased student was believed to have fled after stabbing Prof Chan.



Police officers covering the body of Nanyang Technological University (NTU) student David Hartanto Widjaja



Police and mortuary workers remove the body of Nanyang Technological University (NTU) student David Hartanto Widjaja.



Friends of the deceased Indonesian student talking to plain clothes police investigator (light blue top) at the scene of te incident.





Cleaners clean up the blood stains on the door and along the corridor leading to Prof Chan’s office where he was believed to have been stabbed.



Professor Chan’s vacant office after the attack by an Indonesian student.



xterior of the deceased Indonesian student hostel room in Hall 4.



The entrance to the offices where Prof Chan was believed to have been stabbed. Pieces of heavily blood-stained cloth are strewn all over the floor.



A knife blade at the scene yesterday.



Interior of the hostel room of the deceased Indonesian student.



Bood stains on the glass roof of a walkway where the student is believed to have fallen from.

akhirnya kekejaman Prof Chan terungkap !!
pembunuh mahasiswa indonesia sudah dipenjara... ......

Kisah David Hartanto - akhirnya kekejaman Prof Chan terungkap !!

Angel adalah mahasiswa kampus Nanyang Technological University , ia adalah
angkatan terbaru dalam tahun ajaran baru. Siang itu ia sedang menikmati
makan paginya di sekitar halaman kampus, seorang pria duduk disampingnya
dengan tersenyum sambil menghapuskan keringatnya dengan handuk kecil yang
ia ambil dari tas jinjingnya. Pria berkacamata itu tampak memperhatikan
selembaran kertas yang berisikan beberapa catatan miliknya. Pria itu begitu
terburu-buru membaca kertas itu hingga berterbangan saat angin bertiup
kencang, Angel melihat pria itu kewalahan dan mencoba membantu memunggut
setiap lembaran ke sisi pria itu. Sambil tersenyum pria itu berkata "
Terima kasih..."
"Sama-sama.. .!"
"Saya David... Kamu mahasiswi baru disini ya?"
"Iya... Kok tau? Saya Angel...!"
"Yup... Tentu saja saya tau! Karena saya sudah menjelang semester
akhir...!"
"Wow... Ga bisa dibayangkan bertapa lamanya kamu belajar disini...
Apalagi saya?"
"Yup... Membosankan tapi inilah hidup harus dijalanin... Selama kamu
menikmati waktu kamu tidak akan sadar kalau tiba-tiba kamu sudah mau
lulus..."
Angel tersenyum lalu bertanya pada pria itu. "Apa kertas yang kamu baca
itu...?"
"Ini adalah bagian-bagian dari skripsi tugas akhir saya... Mau lihat?"
"Yup... Mau dong...!"
Angel memperhatikan susunan kata-kata dan angka yang nyaris saja membuat
matanya berkunang-kunang. David tertawa melihat kebingungan itu...
"Ngomong-ngomong. .. Inti dari skripsi kamu tentang apa sih? Ribet saya
melihatnya hehehe"
"Hehehe... Ini tentang mimpi masa depan saya dan saya harap kelak berguna
bagi siapapun?"
"Wah... Sebegitu hebatnya...? "
"Yup... Kapan-kapan saya akan ceritakan... Tapi kalau sekarang jangan
dulu...!"
"Hehehe Ok, saya tunggu ya...?"
"Kamu main Facebook...? "
"Yup... Saya ada! Kamu?"
Mereka dua sahabat baru saling bertukar informasi tentang situs Facebook
mereka, David harus berpamitan karena ia harus bertemu dengan Dosen
pembimbingnya, Sedangkan Angel kembali ke kelasnya. Rika sahabat Angel
menyambutnya dengan tersenyum, lalu Angel bercerita tentang pertemuannya
dengan seorang seniornya di taman tadi, begitu terkejutnya Angel ketika tau
bahwa pria itu adalah salah satu jawara Olimpiade pendidikan.
"Terang saja dia begitu yakin bahwa ia akan menciptakan sebuah penemuan
besar ?" ujar Angel dalam hati.
Pertemuan itu tidak begitu saja berakhir, Angel dan David saling
berkomunikasi via mesengger dan Facebook. David sosok yang supel,
bersahabat dan kocak tapi ia terkadang bisa menjadi orang yang serius bila
sedang mengerjakan sesuatu, begitulah kisah yang mengawali hubungan dekat
keduanya. Angel memang kuliah karena uang yang dimiliki ayahnya bukan
karena kepintaran seperti David yang mendapatkan beasiswa karena
kepintarannya.

Karena sering merasa kesulitan mengejar penjelasan dosennya, Angel sering
bertanya kepada David yang selalu membantunya. Suatu malam Angel merasa
kesulitan untuk mengerjakan tugas kuliahnya, ia mencoba menghubungi David
tapi sayang pria itu tidak mengangkat teleponnya. Karena tugas ini begitu
mendesak ia pun nekad menuju rumah David, pada saat ia datang ke
apartementnya David sedang tertidur. Ia mencoba membangunkan pria itu.
David pun terbangun.
"Idih ditelepon kok ga angkat sih?"
"Sorry ketiduran, saya kekurangan jam tidur gara-gara pengen selesaikan
tugas skripsi saya!"
"Oh gitu ya... jadi saya ganggu ga kalau minta tolong bantuin kerjain
tugas?"
"Boleh saja tapi dengan syarat kamu traktir saya makan bakmi?"
"Dengan senang hati..."
David berhasil membuat Angel menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya, Angel
menepati janji untuk meneraktir makan bakmi. Saat itu mereka sedang makan
di restorant bakmi.
"David, kita kan sudah dekat... Saya masih penasaran dengan Proyek ambisius
dalam skripsi kamu boleh saya tau?"
"Ok deh, saya kasih tau... Jadi."
David bercerita bahwa ia sedang mencoba untuk meniliti bagaimana sebuah
bloutooth bisa menghantarkan listrik bagi sekitarnya. Penelitian ini sudah
ia lakukan sejak awal semester enam lalu, kini tahap penilitiannya mencapai
70%, ia yakin pada saat nanti penilitian ini bisa membuat semua orang
merasa senang, selain membantu penghematan listrik, penemuan ini bisa
membuat dirinya di akui sebagai peneliti.
Angel begitu terkesima dengan kisah ambisius itu tapi ia masih bingung. Ia
tidak mencoba bertanya banyak hal selain menunggu hasil penelitian sahabat
baiknya itu.
David yang merasa penilitiannya adalah pertama dalam sejarah dunia,
akhirnya terlena dengan kegiatannya di dalam kamar setiap harinya. Sejak
enam bulan lalu pihak universitas sudah memperingatkan tentang
pemberhentian beasiswanya, tapi ia hanya menganggap ancaman itu ringan
karena yakin kelak pihak universitas akan menyesal melakukan tindakan itu
bila penemuannya di akui, dan kenyataannya beasiswanya benar-benar dicabut.
Professor Chan adalah dosen pembimbing David yang sudah mengenal pria itu
sejak lama, ia sadar David adalah murid pintar dan mempunyai masa depan
yang baik disamping sifat kekanak-kanakannya. Suatu hari ketika ia sedang
terduduk David datang padanya, bertanya tentang ide skripsi yang ia
paparkan. Dengan santai sang Prof berkata, "Apakah kamu sedang bermimpi,
bagaimana mungkin sebuah teknoloagi nirkabel dapat menghantarkan listrik...
Ada-ada saja, lebih baik kamu cari ide yang lain!"
"Tapi saya yakin bisa Prof?"
"Kalau begitu tunjukkan pada saya permainan kamu!"
"Baik... Kita lihat saja!"
David seolah tertantang oleh dosen pembimbingnya itu untuk membuktikan
bahwa ia mampu menciptakan apa yang ia pikirkan, ia pun semakin
mengorbankan waktunya untuk penelitian eksentriknya. Sahabat-sahabat yang
ia kenal mulai melihat David bagaikan seorang dukun rumahan yang membukat
prakter dirumahnya untuk bicara hanya lewat laptopnya. Angel yang setiap
harinya mempunyai segudang pekerjaan rumah bahkan harus memaklumi keinginan
David untuk tidak diganggu sementara ini.
"Tidak menerima tamu di rumah dan telepon untuk sementara ini" begitulah
tulisan status David pada Facebooknya.
Dua minggu lamanya penelitian itu berlanjut hingga mengalami beberapa
kegagalan, modal David pada saat itu hanya dua hendphonenya yang
berbluetooth, Ia berharap penilitiannya berhasil dengan berbagai cara.
Suatu malam ketika ia mulai menyerah setelah mencoba beberapa kali,
akhirnya penemuannya itu berhasil walau hanya sebatas lima menit lamanya,
ia berteriak bahagia dan bertekad menunjukkan keberhasilannya pada sang
dosen.
Paginya David benar-benar pergi menuju ruangan Prof Chan. Mereka bicara
dengan santai sembari David mulai memberikan praktek penelitiannya. Sang
Prof yang awalnya cuek tiba-tiba nyaris menjatuhkan kacamatanya ketika
melihat David berhasil membuktikan kata-katanya.
"Lihat Prof... Saya buktikan bahwa saya bisa...!" Prof terkagum-kagum
dengan apa yang David tunjukkan
"David... Kamu sungguh luar biasa, bagaimana kamu bisa menemukan hal
mustahil di dunia ini menjadi nyata... Kamu akan menjadi peraih nobel
karena ini!"
"Ya saya tau... !"
Tiba-tiba muncul pikiran picik dari sang Professor untuk melihat jalan
kerja penelitian David, ia menyuruh David menyempurnakan penilitian yang ia
buat kemudian membawanya kembali. Baginya David bagaikan tambang emas yang
akan membuatnya kaya dan termansyur, ia mulai berpikir merebut hasil
penelitian David yang luas biasa itu. David yang tidak sadar dengan pikiran
jahat sang Prof benar-benar terus mendalami penelitiannya.
Ketika David sedang merencanakan penelitiannya, sang Professor berpikir
untuk mencari orang yang bisa menjadi saksi penelitian David diakui menjadi
miliknya. Untuk itu ia membuka file dokumentasi mahasiswa yang berprestasi
lainnya, ia mulai teringat dengan beberapa asisten dosen yang diberhentikan
beberapa saat lalu. Ia mulai melirik seorang Zhou, seorang pria asal Cina
yang sedang frustasi karena dipecat.

Ketika Prof menawarkan ide untuk mengangkat Zhou menjadi asistennya, pria
itu begitu bahagia karena akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sehingga bisa
mengirimkan uang kepada ibunya yang sedang sakit. Pria itu tidak sadar
sedang dimanfaatkan oleh sang Prof untuk menjadi saksi pada penelitian
palsunya. Bahkan Sang Prof memberikan bantuan kepada Zhou untuk mengobati
sang Ibu yang menghadapi operasi kanker.

"Kamu tenang saja, saya akan memberikan perkerjaan yang baik padamu. Tentu
saja saya akan membantu biaya pengobatan ibu kamu hingga sembuh. Kamu bisa
kerja dua hari lagi dari sekarang, ok. Ini uang yang kamu butuhkan!"
"Terima kasih" Ucap Zhou yang begitu bahagia mendapatkan bantuan dari pria
itu.

David berhasil menyempurnakan penilitiannya, ia sungguh tak kuasa menahan
bahagia dengan apa yang ia temukan. Ia teringat pada Angel, ia pun mengajak
gadis itu untuk bertemu merayakan kerberhasilannya. Tak tanggung-tanggung
mereka makan di Restorant hotel yang mahal, Angel pun heran dengan undangan
itu.
"Tumben kamu ada waktu untuk ngajak makan! Apalagi ditempat mewah lagi?"
"Hehehe... Tenang saja. Ini hanya sebagai bentuk perayaan, dan kelak saya
akan ajak kamu ke tempat yang lebih hebat lagi...!"
"Wah... Wah... jadi tersanjung.. . Memang perayaan apa sih!"
"Coba keluarkan Hendphone kamu yang berbluetooth? "
Angel bingung tapi ia melakukan apa yang dipinta David. Dengan sekejap
hendphonenya tertuliskan "Sedang mengisi baterai" angel terkejut, "Astaga!!
David kamu berhasil...? "
"Yup... Aku berhasil...! "
Angel dan David menghabiskan malam indah itu dengan penuh antusias, ia tak
pernah menyangka begitu hebatnya sang sahabat kekanak-kanakannya itu.
Akhirnya mereka pulang, karena David besok akan membawakan hasil
penelitiannya itu kepada sang Dosen, David begitu ingin menampar para
atasan universitas yang memberhentikan beasiswanya dengan prestasinya.
Ketika David mengirimkan email kepada Dosennya untuk bertemu besok.
Keesokan paginya. Prof Chan sudah mengingatkan David untuk membawa semua
dokument proses berjalannya penelitiannya dalam USB agar ia bisa meneliti
langsung kelayakan penelitian David.
Awalnya, David agak bingung tapi Prof menyakinkan bahwa ia hanya ingin
mencoba dengan caranya agar penelitian David dianggap sah. Tanpa pikir
panjang David membawa penelitian itu dalam bentuk USB segera ke kampus pagi
sekali pukul 7 sesuai jadwal yang ditentukan Prof Chan. Sebelum berangkat
David mengirimkan pesan kepada Angel untuk bertemu di kampus makan siang
bersama. Saat pesan SMS itu masuk Angel masih tertidur, David pun berangkat
sepagi mungkin menghadap sang Prof. Ketika tiba di lantai 4 sang Professor,
David menemukan sang Prof sedang terduduk sehabis memotong apel. Ketika
David datang ia membuang sisa Apel itu ke keranjang sampah, dan menyimpan
pisau itu ke saku bajunya. David tak sadar sedang berada dalam jebakan sang
Prof Chan. Pria tua itu meminta David untuk sekali lagi mencontohkan hasil
penilitiannya, setelah menyaksikan penelitian itu pria itu semakin yakin
bahwa David benar-benar jenius. Ia meminta David untuk memberikan USB itu
lalu berkata dengan santai, "David... Apakah kamu yakin ini penilitian
kamu?"
"Ya, tentu saya yakin. Memang kenapa Prof?"
"Apakah kamu tidak sedang mengambil penelitian seorang mahasiwa lain
bernama Zhou,?"
"Zhou siapa dia?"
"Dia adalah asisten dosen yang sudah dipecat, ada kemiripan antara
penelitian kamu!"
"Mustahil... !" ucap David kesal.
"Kamu boleh bilang mustahil tapi saya punya hasil document dia yang sama...
coba perhatikan komputer saya?"
David menyaksikan sebuah klip kecil yang menunjukkan penelitian yang
dilakukan seorang pria dan Prof mengatakan bahwa pria itu adalah Zhou yang
sedang mendemokan hasil yang sama dengan David.
"Tidak mungkin. Prof. Bagaimana pria itu bisa melakukan hal yang sama
dengan saya!"
Prof tersenyum sambil berkata. "Kamu bukanlan seorang di dunia yang ini
yang Jenius, masih banyak lagi..!"
David terdiam mulai berpikir ada yang salah, ia yakin sang Professor
melakukan tindakan licik.
"Professor kembalikan USB saya...!?"
"Untuk apa...?"
"Tidak apa-apa, saya ingin dikembalikan saja...!"
"Tidak bisa, ini akan menjadi barang bukti bahwa kamu telah melakukan
pelanggaran di kampus karena melakukan penjiplakan karya orang lain sebagai
skripsi kamu!"
David mulai emosional.
" Silakan saja, saya tidak takut, saya akan buktikan bahwa itu tidak
benar...!" ucap david sambil hendak keluar dari ruangan.
Cara professor dalam ancaman sepertinya salah, ia pun mendekati David
sambil membujuk pria itu untuk tenang. Sembari menawarkan opsi lain berupa
uang dalam jumlah yang banyak, David tetap pada pendiriannya bahwa ia
adalah sang penemu pertama kali. Prof Chan yang emosional langsung
menusukkan pisau itu ke bagian belakang badan david tapi hanya sebuah
goresan kecil, David berteriak minta tolong. Zhou yang akan memulai
kerjanya hari ini berpikir untuk datang menemui Prof. Chan hari ini, ia
mendengarkan suara teriakan dari arah pintu Prof Chan. David yang merasa
terancam berusaha melawan dengan sekuat tenaga, tapi sebuah bilasan pisau
di leher membuatnya langsung tersungkur tak sadarkan diri. Tapi David masih
mampu berdiri dan meraih pintu dan membukanya, Zhou yang berada di depan
pintu terkejut melihat adegan itu. David yang mulai tak sadarkan diri mulai
berlari tanpa arah dan akhirnya terjatuh dari balkom lantai empat dekat
ruangan itu. Zhou begitu shock melihat kejadian itu, Prof Chan yang melihat
Zhou ada disana langsung menyuruh pria itu masuk ke ruangan.
"Kamu melihat semuanya?"
"Tidak saya tidak melihatnya.. .!"
"Ingat... Saya yang menyelamatkan nyawa ibu kamu, sebaiknya kamu tutup
mulut.!"
"Saya tidak akan katakan apapun...!"
Prof Chan yang begitu panik mulai tenang dan berpikir sesuatu.
"Tusuk punggung saya dengan pisau ini..." Perintah Prof pada Zhou. Zhou
tidak punya pilihan selain melakukan perintah sang Prof Chan. Lalu pria itu
menyuruh Zhou mencabut gagang pada pisau. Sebelumnya ia katakan bahwa ia
akan membuat seolah-olah David bunuh diri dan tusukan pada dirinya hanya
sebagai alibi, untuk menghilangkan barang bukti gagang pisau itu harus
segara dibawa pergi oleh Zhou agar tidak terdapat sidik jari dan
membiarkan mata pisau terletak di lantai. Zhou yang panik melakukan begitu
saja perintah sang Prof, dan rencana itu berjalan dengan baik.

Angel yang baru saja menerima pesan David segera menuju kampus, ketika Ia
datang banyak garis polisi terpampang di pintu Kampus, ia bertanya-tanya
ada apa gerangan. Seorang mahasiwa mengatakan bahwa seorang mahasiswa bunuh
diri dengan melompat. Angel begitu bingung, dan ketika ia mendekat hatinya
bergetar dan berteriak histeris ternyata pria itu adalah David. Beberapa
saat kemudian Prof Chan keluar dengan bantuan alat medis
seperti orang sekarat. Beberapa orang mencoba menenangkan Angel, Terlihat
Zhou saksi kasus itu berdiri ketakutan menyaksikan kejadian itu. Prof Chan
melirik Zhao dari matanya tersilat pesan kepada Zhou untuk tidak bertindak
apapun selain menjaga rahasia ini. Kejadian kematian David begitu memukul
Angel, gadis itu bahkan berpikir telah jatuh cinta pada sang pria ceria
itu. Kematian yang begitu misterius membuat Angel begitu penasaran dengan
apa yang terjadi, Tidak mungkin seorang David yang mempunyai masa depan
begitu cermelang harus bunuh diri. Ia tidak yakin dengan kematian itu,
walaupun bersedih hati ia bertekad mencari kebenaran kematian itu karena ia
yakin David tidak akan melakukan tindakan bodoh disaat ia sedang menggapai
mimpinya. Prof Chan berhasil selamat dan keluar dari rumah sakit dua hari
kemudian. Zhou yang menjadi saksi mata merasa sangat bersalah dengan berita
miring yang ada di media seolah membuatnya menjadi pria pendusta, tapi ia
tidak mungkin tega memberikan penyataan kalau Prof Chan adalah orang
dibalik semua ini. Prof Chan meneleponnya untuk mengatakan sekali lagi
bahwa sang ibu selamat karena dia. Zhou merasa hina ia pun memutuskan untuk
bunuh diri dengan mengantung diri di balkon rumahnya. Prof Chan berpikir
kini hidupnya akan damai karena semua yang terlibat dalam kematian David
telah musnah, terlebih alibi yang ia lancarkan berjalan sempurna. Angel
menyadari ada kenjanggalan dalam semua ini, ia mulai mencari semua data
yang bisa membuktikan bahwa apa yang terjadi pada David adalah sebuah
konspirasi yang dilakukan Prof Chan. Berbulan-bulan ia melakukan berbagai
cara untuk melakukan pembuktian. Prof Chan yang sembuh merasa mulai perlu
untuk mengeluarkan bukti penelitian yang ia ambil dari David. Hebatnya
penelitian itu adalah nama yang sama dengan milik David, Angel pun sadar
niat dibalik semua kematian David adalah ambisi sang Prof untuk mengambil
hak cipta David. Untungya David pernah membuktikan terlebih dahulu hasil
karyanya saat makan di restorang mewah, file name Bluetooth milik David
masih tersimpan di ponselnya. Ia pun seperti mendapatkan semangat untuk
membuktikan kebeneran, ia laporkan semua bukti yang ia punya kepada Polisi,
Polisi pun melakukan investigasi ulang dan mendapatkan sebuah kebeneran
yang terjadi. Prof Chan yang baru saja menikmati nama besarnya, akhirnya
mendapatkan ganjalan perbuatannya karena kelicikan dan kekejamannya, Angel
berhasil membuktikan bahwa pria itu layak dipenjara seumur hidup. Angel
merasa lega karena perkenalan dia dengan David adalah sebuah pesan takdir
nyata untuk membelah masa depan David yang telah hilang. Kini semuanya bisa
tenang, Angel pun bisa tenang melepas kepergian sahabatnya.
SUMBER:

Jumat, 10 April 2009

SHOCKING BLUES PROFIL

SHOCKING BLUE

Many don't know it, but the Hague group Shocking Blue were already making records before Mariska Veres entered as their singer in 1968. During that initial period (1967-68), the lineup was: Robbie van Leeuwen (vocals, guitar, ex-Motions), Fred de Wilde (vocals, ex-Hu & Hilltops), Klaasje van der Wal (bass) and Cor van Beek (drums, ex-Sect). In 1968, Fred was replaced by Mariska, who had already made a solo single in 1965. She was discovered by manager Cees van Leeuwen at the jazz festival in Loosdrecht. She already had some group experience, with the Bumble Bees.

With "Venus", Shocking Blue scored an international hit (number one in the U.S.), but, unfortunately, the decay of the group began shortly thereafter. Constant changes in the lineup were to blame, for one thing: in 1970, Leo van de Ketterij came on board, to boost the group as the second guitarist, but he left less than a year later. Also in 1971 Klaasje, who departed to join Antilope, was succeeded by Henk Smitskamp, ex-Sandy Coast. In 1973 Robbie withdrew himself from the position as a lead guitarist, and on stage had to be replaced by Martin van Wijk, ex-Jupiter.

In 1974, the group broke up. Robbie formed Galaxy Lin, a short-lived jazz-rock outfit, and later - another studio outfit Mistral; Cor and Martin went to Lemming; Mariska continued making a number of solo records. Henk went on to join Livin' Blues.

1967 Love is in the air/What you gonna do Polydor S 1248
1968 Lucy Brown is back in town/Fix your hair darling
Pink Elephant PE 22001
Send me a postcard darling/Harley Davidson 22004
LP Polydor 236173
LP Beat with us Karussell 635240
1969 Long and lonesome road/Fireball of love Pink Elephant PE 22007
Venus/Hot sand 22015
Mighty Joe/Wild wind 22029
LP At home 888001
LP Sensational (comp.) Discofoon 7077
1970 Never marry a railroad man/Roll engine roll Pink Elephant PE 22040
Hello darkness/Pickin' tomatoes 22045
Scorpio's dance/Sally was a good old girl promo
LP Scorpio's dance 877002
LP Hello darkness (comp.?) 888007
1971 Shocking you/Waterloo 22050
Blossom lady/Is this a dream 22053
Out of sight out of mind/I like you 22055
LP Shocking you (aka "3rd Album") 877010
1972 Inkpot/Give my love to the sunrise 22604
Rock in the sea/Broken heart 22059
Eve and the apple/When I was a girl 22066
LP Live in Japan 888014
LP Best 888015
LP Inkpot 877018
LP With love (comp.) Capri CA 38
LP Attila Pink Elephant PE 877025
1973 Venus/Mighty Joe/Never marry a railroad man 22063
Oh Lord/Everything that's mine 22741
Let me carry your bag/I saw you in June 22068
LP Ham (same as Dream On Dreamer) 877039
LP Eve and the apple (same as Dream On Dreamer) Polydor 2310260
1974 This America/I won't be lonely long Pink Elephant PE 22812
Good times/Come my way 22846
LP Een groot uur Capri 2CO 57/58
LP Good times Pink Elephant PE 877069
1975 Gonna sing my song/Get it on 22071
LP Golden stars Omega LPX 423
1977 Venus/Hot sand Pink Elephant HP 79733

[28-09-1968]^21*5 LUCY BROWN IS BACK IN TOWN shocking blue
[14-12-1968]^11*7 SEND ME A POSTCARD shocking blue
[08-03-1969]^17*7 LONG LONESOME ROAD shocking blue
[12-07-1969]^3*26 VENUS shocking blue
[29-11-1969]^1*18 MIGHTY JOE shocking blue
[06-06-1970]^1*12 NEVER MARRY A RAILROAD MAN shocking blue
[21-11-1970]^6*8 HELLO DARKNESS shocking blue
[06-03-1971]^12*5 SHOCKING YOU shocking blue
[21-08-1971]^2*10 BLOSSOM LADY shocking blue
[27-11-1971]^6*10 OUT OF SIGHT OUT OF MIND shocking blue
[11-03-1972]^5*9 INKPOT shocking blue
[19-08-1972]^12*5 ROCK IN THE SEA shocking blue
[09-12-1972]^13*8 EVE AND THE APPLE shocking blue
[07-04-1973]^14*5 OH LORD shocking blue

VERES, MARISKA
(1947 - 2006)

Mariska started out in 1964 as a vocalist in Les Mysteres; after that she also sang in the Blue Fighters (1966), Danny & Favourites (1967) and the Motowns (1967). In 1968, she was asked to join Shocking Blue, the outfit in which she found fame all over the world. After the group disbanded in 1974, Mariska made a number of solo-records, sang in Mistral (1978) and also participated in the ill-fated Shocking Blue reunion in 1980.

1965 Topkapi/Is het waar Imperial IH 639
1967 Dag en nacht/Al wordt 't nu winter Philips JF 333893
1975 Take me high/I'm loving you Pink Elephant PE 22091
Tell it like it is/Wait till I get back to you Pink Elephant PE 22099
1976 Lovin' you/You showed me how Pink Elephant PE 22176
Little by little/Help the country Pink Elephant PE 22200
Mach mich frei/Ich liebe doch nur dich Omega 36351
1977 Too young/You don't have to know Scramble SRS 510013
1978 Bye bye to romance/It's a long hard road CNR 141480
1980 Looking out for number one/ ?
1982 Wake up city/In the name of love EMI 5C 006-26780

Dutch charts:

MARISKA VERES
30-8-75 SINGLE 27 3 TAKE ME HIGH
29-11-75 SINGLE tip TELL IT LIKE IT IS
31-7-76 SINGLE 16 6 LOVIN' YOU
20-11-76 SINGLE tip LITTLE BY LITTLE
16-7-77 SINGLE tip TOO YOUNG

SIX YOUNG RIDERS

Robbie van Leeuwen's part-time group, including also Henk Smitskamp and Rene Nodelijk.

1967 Let the circle be unbroken/Count down Havoc SH 128

MISTRAL

Studio group led by Robbie van Leeuwen (ex-Galaxy Lin).

Musicians involved included Rick van der Linden (guesting on keyboards) and Kid van Ettinger (bass).

Vocalists: Sylvia van Asten (1977, member of Funny Face), Marjan Schattelijn (1978), Mariska Veres (1978) and Sheen Milholland (1980). From 1981, Funny Face were occasionally billed as Mistral.

1977 Jamie/Nectar CNR 141421
1978 Starship 109/Love destruction CNR 141455
Neon city/Asphalt CNR 141496
1980 You're my hero/New born butterfly CNR 141619
I feel it/Too late to be sorry CNR 141692

Dutch charts:

MISTRAL

3-12-77 SINGLE 15 8 JAMIE
8-4-78 SINGLE 9 8 STARSHIP 109 [Alarmschijf op 1-4-78]
21-10-78 SINGLE 37 3 NEON CITY

MYSTÈRES

Beat group from The Hague; in 1964, they won the first prize at the talent hunt in Meerrust-Warmond. Also toured Germany. The lead singer was Mariska Veres.

1964 Summertime

BLUE FIGHTERS

The Blue Fighters from The Hague released one flexi-EP. The line-up featured: John Merano (v), Henk Scheepstra (dr), Ed Koetsier (b, to Nicols), Ton van Oudheusden (g) and Rob Poerbo (g). In 1966, they accompanied Mariska Veres (ex-Mystères) for a short while. A year before that, they took part in
the Cabaret der Onbekenden.

1965 EP

THE SHOCKING BLUE STORY

Although glibly labelled by many as one-hit wonders - albeit international ones, due to the US chart-topping success of 'Venus' - Shocking Blue have recently had their music rediscovered and reassessed by critics and public alike.

Though the band reached the peak of their commercial success at the start of the Seventies, their origins lay further back in the diverse, exciting and woefully ignored Dutch scene of the mid-Sixties.

The Dutch beat boom started when Johnny Kendall and the Heralds' version of 'St James' Infirmary' charted in late 1964. Prior to that, most of the home- grown acts to find success had either been wholesome teen stars or guitar instrumental acts in the style of the Shadows.

Many of the leading lights of the beat boom got their start in these guitar groups. In several instances, the groups themselves evolved and changed styles: ZZ and the Maskers dropped the leader's name for several singles and backed Chubby Checker when he was based in the country (after marrying the Netherlands' representative in a Miss World contest!)

While major cities like Amsterdam and Rotterdam all had bands of note, the Hague was undoubtedly the Netherlands' musical hotbed. Almost everything was covered, from cultural outlaws such as Q65, through beat groups such as The Hunters (Focus star Jan Akkerman's first major act) through many pop acts the Sandy Coast and Golden Earring (who at this time could be compared with the Hollies). But one band alone captured the style and energy of British Mod acts like the Small Faces and the Action: that was the Motions.

Robbie van Leeuwen, guitarist, songwriter and effectively leader of Shocking Blue, had previously held a similar position in the Motions in their early hit making phase. Those hits included 'It's Gone', 'Wasted Words' (a paean to Dr. Martin Luther King), 'Every Step I Take' and 'Everything That's Mine' the latter one of the finest slices of Mod/Art Pop produced anywhere in the world.

The Shocking Blue story effectively started when Van Leeuwen left the Motions in 1967 due to conflicts with lead singer Rudy Bennett. He recruited members from other Hague bands for his new group: the line-up for the first Shocking Blue singles, up to and including the first hit, 'Lucy Brown Is Back In Town', was Van Leeuwen (guitar), Fred de Wilde (vocals), Klaasje van de Waal (bass) and Cor van Beek (drums). The single charted well, things were about to change.

About the same time as Lucy Brown's release, fellow Hague band Golden Earring had hit the jackpot with the pure bubblegum of 'Dong Dong Di Ki Di Gi Dong'. A band was hired to play at the party they held to celebrate their first Number 1; named the Bumble Bees, they were fronted by a strong and striking female vocalist. Shocking Blue's manager and publisher both attended the party, and both felt certain this singer would be ideal for their band. The woman in question was Mariska Veres.

The new line-ups' first single, 'Send Me A Postcard', was a runaway success in the Netherlands, while the follow-up 'Long Lonesome Road', also made the domestic Top 20. But it was the third single with Veres that would seal the band's fate. 'Venus' made Number 3 in Holland, but significantly topped the charts in several countries, including Belgium, France, Italy, Spain and Germany.

The record came to the attention of a newly formed American record label, Colossus. The label's head Jerry Ross signed Shocking Blue for the States and was rewarded when 'Venus' hit the top there in February 1970. Ross also signed two other Dutch acts, the Tee Set (formed by former After Tea singer Peter Tetteroo) and the George Baker Selection: the Tee Set's 'Ma Belle Amie' also rose high in the US charts to Number 5, while Baker's biggest hit for Colossus, 'Little Green Bag', was later used on the soundtrack of the 90s film "Reservoir Dogs".

Shocking Blue's follow-up to 'Venus', 'Mighty Joe', made Number 1 in Holland and charted almost everywhere its predecessor had. But the international success 'Venus' had appeared to herald failed to materialise. Although the band was still releasing excellent and often innovative singles and still charting in Europe, Van Leeuwen was dissatisfied and increasingly frustrated by the limits of Shocking Blue's chart success. When mainland European bands once again returned in vogue on the back of ABBA's Eurovision victory, the band failed to capitalise and eventually split.

Mariska Veres continued as a solo singer, Van Leeuwen producing her on songs like 'Too Young' and 'Loving You' (both included as bonus tracks on this compilation), he also enjoyed local success in the mid-Seventies with a group, Galaxy Lin.

But Shocking Blue returned to the fray, albeit for one night only, in 1984 at a Back to the Sixties festival in Den Bosch along with the surviving members of Q65, the Shoes and members of other Hague groups. It proved to be a night to remember: Van Leeuwen still had style, and Veres still had one of the greatest female rock voices: the band's interpretations of Jefferson Airplane's 'Somebody To Love' and 'White Rabbit' were just as strong as their own songs.

The continuing interest in Sixties music, along with the realisation that bands whose mother tongue is not English are as musically valid as British, American and Antipodean acts, has led to an increasing appreciation of Shocking Blue's music. Their songs receive radio and club play, while bands have also covered the songs: the most significant re-recording came from grunge supergroup Nirvana, whose debut release on the Sub Pop label was a version of 'Love Buzz' that's rather different to the one you hear here. 'Venus', meanwhile, has proved to have a life of its own. It's been used in television advertisements, while Bananarama's version equalled the original chart position in the US in 1986.

Photos of the band indicate that Shocking Blue seems to trade on Veres' striking, essentially female appearance. Yet it fails to smack of exploitation simply because of the sheer power of the woman. Much has been made of her ancestry - part-German, part-Hungarian Gypsy, and the resulting dark, sultry features. Here was a woman in control. Her voice had and still has a strength and quality that puts her on a par with other powerful female contemporaries like Julie Driscoll and Grace Slick. Maybe the time has come to acknowledge this fact as we enjoy a collection of Shocking Blue classics.
Sumber: http://www.alexgitlin.com/shocking.htm

Jumat, 20 Maret 2009

Kontrol Buruh dan Nasionalisasi

Kontrol Buruh dan Nasionalisasi – Bagian III Print E-mail
By Rob Lyon
Tuesday, 10 March 2009

Pengalaman Yugoslavia

Saya ingin menghabiskan beberapa menit untuk berbicara mengenai Yugoslavia dan mengenai masalah koperasi pekerja serta apa yang disebut dengan sosialisme-pasar. Ini adalah topik yang penting dan sangat relevan dengan persoalan kontrol buruh di Venezuela. Banyak dari ini juga terkait dengan gagasan-gagasan yang sedang didorong ke depan oleh kaum Kiri Baru di Cina saat ini.

Perusahaan-perusahaan di Yugoslavia merupakan perusahaan milik negara dan secara resmi diserahkan kepada para buruh untuk dijalankan melalui dewan-dewan buruh atau melalui komite-komite manajemen-mandiri (self-management). Satu hal yang paling penting untuk disadari dan perlu diingat saat membahas komite-komite manajemen-mandiri ini adalah bahwa mereka berfungsi di dalam pasar - mereka berkompetisi secara nasional maupun internasional. Perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik ini berpromosi, bersaing, dan melakukan apa pun untuk meningkatkan profit mereka. Pengejaran atas profit inilah yang menyebabkan para tenaga ahli dan manejer-manejer mendominasi para buruh.

Perpecahan Tito-Stalin menyulut perkembangan manajeman-mandiri ini di Yugoslavia. Hingga tahun 1948, Yugoslavia memiliki sistem yang sangat mirip dengan apa yang ada di Uni Soviet. Pada saat itu, Partai Komunis Yugoslavia adalah partai yang paling setia kepada Stalin. Tetapi Tito telah memimpin perjuangan bersenjata melawan kaum Nazi dan telah merebut kekuasaan dengan kekuatannya sendiri, tanpa bantuan dari Tentara Merah Uni Soviet. Dia memiliki basis kekuatannya sendiri, dan ini menyebabkan sejumlah sengketa dengan Stalin dan birokrasi Soviet. Setelah perpecahan Tito-Stalin, Pemerintah Yugoslavia tiba-tiba mengumumkan bahwa Uni Soviet telah merosot ke dalam "Kapitalisme Negara".

Dalam upayanya untuk menemukan sebuah justifikasi ideologi untuk perpecahan dengan Stalin, para birokrat Yugoslavia lebih lanjut menyatakan bahwa kepemilikan negara hanyalah prasyarat untuk sosialisme. Secara umum, ini adalah benar. Mereka mengatakan bahwa untuk membangun sosialisme, relasi-relasi sosialis atas produksi perlu dikembangkan; yang tentu saja juga tepat. Akan tetapi, mereka percaya bahwa relasi-relasi sosialis atas produksi akan dikembangkan dengan manajemen-mandiri, bila tidak demikian mereka percaya bahwa sistem sosialis akan merosot ke dalam despotisme birokratik (ini merupakan sebuah skema cerdik yang digunakan oleh para birokrat Yugoslavia untuk mendapatkan dukungan dari kelas buruh dalam persengketaannya dengan Uni Soviet dan untuk mendorong proposal "reformasi"). Mereka menyerang kontrol ekonomi terpusat di USSR. Namun, bukan kontrol ekonomi terpusat yang merupakan masalah, ketiadaan kontrol buruhlah yang merupakan masalah. Reformasi pasar juga diusulkan sebagai cara untuk mendorong ekonomi yang terpuruk dan untuk mencari sumber-sumber perdagangan lainnya karena dukungan Uni Soviet telah terputus (Perdagangan dengan USSR dan negara-negara Blok Timur lainnya menyumbang 50% dari ekspor dan impor. Pada tahun 1950, ini anjlok menjadi 0%).

Pada tahun 1950, Yugoslavia memperkenalkan sebuah undang-undang baru mengenai manajemen-mandiri buruh. Mereka berpendapat bahwa desentralisasi manajemen-mandiri buruh adalah awal dari lenyapnya sebuah Negara (the withering of the state). Dalam kenyataannya, kekuasaan ada di tangan birokrasi negara. Rencana Lima Tahun pertama (1947-1952) tidak mencapai target. Kualitas produk rendah, dan dari tahun 1949 produktivitas tenaga kerja telah mengalami penyusutan. Para birokrat Yugoslavia mulai mencari sebuah "prosedur otomatis" untuk mengatur ekonomi - serupa dengan bagaimana pasar berfungsi di bawah kapitalisme. Karena ketiadaan kontrol buruh sejati sebagai perangkat untuk mengontrol kualitas produksi, kaum Stalinis terpaksa mencari "mekanisme pasar". Dari awal sudah tampak jelas bahwa langkah-langkah ini akan melepas serangkaian kontradiksi. Kaum Stalinis sedang mencoba untuk melakukan satu hal yang mustahil, yakni mencoba membuka pasar dan pada saat yang sama mencoba untuk mempertahankan kontrol pusat.

Pengelolaan perusahaan menjadi tanggung jawab dewan-dewan buruh ketimbang para menteri-menteri negara. Rencana-rencana rinci produksi dialihkan ke perencanaan dasar untuk investasi. Tingkat upah ditetapkan oleh pusat, namun dalam tiap-tiap perusahaan upah ini dilengkapi dan ditambah dengan bonus-bonus, mengikat upah yang lebih tinggi dengan pengejaran profit. Namun, ini hanya di atas kertas. Komite-komite manajemen-mandiri dikontrol oleh manejer-manejer perusahaan, yang dekat dengan para birokrat dan menteri negara. Komite-komite ini jelas-jelas di bawah kontrol Partai dan serikat buruh. Manejer-manejer sering kali ditunjuk berdasarkan loyalitas politik pada kementerian negara, dan tentu saja menerima upah yang lebih tinggi daripada para buruh yang mereka perintah.

Hal penting lainnya yang perlu diingat adalah bahwa perusahaan-perusahaan ini sekarang dikenakan pajak (ketimbang mentransfer pendapatan mereka ke negara), dan dana tersebut digunakan oleh negara untuk investasi baru dan pembangunan perusahaan-perusahaan baru. Persahaan-perusahaan baru ini dengan cepat diserahkan kepada "dewan-dewan buruh" untuk dijalankan. Keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan ini tidak didistrubusikan kembali oleh negara, tetapi disimpan oleh perusahaan tersebut.

Penting untuk disadari bahwa para buruh hanya memiliki kontrol terhadap tempat kerja mereka secara formal. Di bawah manajemen-mandiri, kaum buruh seharuskan menjalankan pabrik dan bebas untuk membuat keputusan-keputusan mengenai pemasaran dan produksi. Akan tetapi, sebenarnya negaralah yang masih mengendalikan ekonomi dan perusahaan-perusahaan di bawah manajemen-mandiri buruh. Negara memiliki wewenang untuk menunjuk direktur-direktur pabrik dan mengalokasikan dana untuk tiap-tiap perusahaan. Meskipun produksi mengalami boom, kontrol negara atas investasi menyebakan pendanaan yang terus menerus untuk perusahaan-perusahaan yang tidaklah efisien, khususnya yang secara politik didukung oleh birokrasi negara.

Sistem ini memang menikmati periode kesuksesan yang singkat, dimana Yugoslavia memiliki pertumbuhan ekonomi yang paling pesat di seluruh dunia pada tahun 1950-an. Namun pada tahun 1957, Kongres Dewan-Dewan Buruh (pertemuan Dewan-Dewan Buruh yang pertama dan yang terakhir) menuntut kontol yang lebih besar. Penting untuk dipahami bahwa dewan-dewan ini merupakan badan-badan birokrasi yang berada di bawah kontrol para manejer dan tenaga-tenaga ahli di perusahaan. Mereka menginginkan regulasi negara yang lebih longgar dan pajak yang lebih rendah. Perusahaan-perusahaan ini ingin lebih banyak uang masuk ke mereka sehingga mereka dapat berinvestasi sendiri ketimbang negara yang membuat keputusan investasi.

Komite-komite manajemen-mandiri semakin sadar akan kepentingan mereka sendiri, yakni kepentingan yang berlawanan dengan kepentingan para birokrat dan kementerian negara. Mereka berargumen bahwa kebijakan-kebijakan ini adalah langkah-langkah yang bergeser dari "Kapitalisme Negara" dan menuju sosialisme. Dalam kenyataannya ini adalah untuk memperkenalkan pasar dan bergerak menuju kapitalisme, atau lebih tepat lagi ini adalah persiapan transisi menuju kapitalisme. Di bawah sebuah negara pekerja yang sejati, dalam suatu kondisi terisolasi, tidaklah keliru untuk memperkenalkan reformasi pasar yang terbatas, seperti yang pernah dilakukan oleh Bolshevik dengan NEP (New Economy Policy; Kebijakan Ekonomi Baru). Reformasi-reformasi pasar digunakan untuk mengatasi penyimpangan dan ketidak-efisienan dalam perekonomian, dan untuk meningkatkan produksi (khususnya produksi pertanian). Hal ini terjadi di Yugoslavia dengan perencanaan birokratiknya, di mana ketidak-efisienan dan produktivitas yang rendah tampak jelas, terutama setelah mereka diisolasi oleh USSR. Akan tetapi, reformasi pasar di bawah Stalinisme mengembangkan logika internalnya sendiri, seperti yang kita lihat di Yugoslavia pada akhirnya dan yang kita lihat di Cina sekarang ini. Pasar tidak digunakan untuk mengembangkan sektor ekonomi negara dan perencanaan ekonomi negara, sebaliknya sektor ekonomi negara dan rencana ekonomi negara justru mendanai pasar. Ini juga menciptakan kondisi di mana para birokrat dan manejer tertarik untuk memberikan legitimasi dan formalisasi atas kontrol dan kekuasaan mereka yakni dengan menjadi kaum borjuis.

Pertumbuhan yang tinggi pada tahun 1950-an roboh pada awal tahun 1960-an, dan sebagai akibatnya reformasi-reformasi yang diusulkan oleh dewan-dewan buruh diimplementasi. Ini merepresentasikan sebuah pergeseran yang besar ke arah pasar dan kekuatan para manejer yang semakin besar. Namun, pada tahun 1962 Rencana Ekonomi Ketiga dicampakkan hanya setelah 1 tahun karena krisis ekonomi. Produksi industri anjlok ke setengah dari tingkat produksi pada tahun 1960, impor naik terus, ekspor ambruk, dan inflasi semakin meningkat dengan sangat besar.

Respon dari birokrasi negara adalah dengan bergerak lebih jauh menuju "sosialisme pasar". Negara menginginkan perusahaan-perusahaan Yugoslavia menjadi perusahaan yang kompetitif di pasar dunia, dan monopoli negara atas perdagangan luar negeri dihapus, serta membuat mata uang dapat diperdagangkan. Para birokrat Yugoslavia berpendapat bahwa jika para buruh tidak membuat keputusan-keputusan investasi yang fundamental melalui dewan-dewan buruh, maka mereka benar-benar tidak memiliki kontrol. Itu semua bisa dirangkum dalam sebuah pepatah di Yugoslavia: "He who rules over expanded reproduction rules society" (Mereka yang menguasai produksi yang berkembang, menguasai masyarakat).

Dan di sini pertanyaannya adalah: apakah kelas buruh berkuasa ketika kelas buruh dipecah-pecah, melalui perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik individual yang mengendalikan investasi dan produksi; atau ketika kelas buruh sebagai satu kesatuan, melalui negara, mengontrol investasi dan produksi? Tentunya yang kedua adalah yang benar. Di bawah model Yugoslavia, perusahaan individual yang mengejar keuntungan adalah pihak yang berkuasa, dan bukan kelas buruh. Nasionalisasi ekonomi, kepemilikan negara atas ekonomi, dan perencanaan ekonomi secara demokratis adalah faktor-faktor yang menjamin kontrol buruh atas seluruh ekonomi dan bukan hanya satu pabrik atau industri. Ini juga menjaga karakter sosial dari ekonomi dan perkembangan relasi-relasi sosialis di dalam produksi. Sosialisme berarti sentralisasi ekonomi, kontrol atas keseluruhan ekonomi oleh kelas buruh secara demokratis, guna mengembangkan ekonomi secara keseluruhan dan menjamin kepentingan kelas buruh secara keseluruhan - bukan hanya menjamin kepentingan pribadi dari sebuah pabrik atau industri tertentu. Masalah di Yugoslavia bukanlah karena kuasa atas pabrik diserahkan ke komite-komite manajemen-mandiri; ini sebenarnya bisa menjadi sebuah langkah yang sangat progresif dan demokratis selama ekonomi tersebut disusun ke dalam sebuah rencana terpusat yang demokratis, di bawah kontrol kelas buruh, yang melibatkan sebuah negara pekerja yang sejati. Masalahnya adalah bahwa kontrol ekonomi terdesentralisasi dan kontrol ekonomi diserahkan kepada kepentingan dari tiap-tiap perusahaan. Pemburuan profit dan kepentingan pribadi dari perusahaan-perusahaan ini menyebabkan para manejer dan teknisi spesialis mengontrol komite-komite manajemen-mandiri.

Hasil dari reformasi-reformasi ini tidaklah mengejutkan. Ketidaksetaraan meningkat pada tahun 1960an di antara perusahaan-perusahaan di dalam industri yang sama, di antara industri yang berbeda-beda, di antara kota dan desa, dan di antara daerah-daerah. Pada pertengahan tahun 1960-an tingkat pendapatan di Slovenia adalah enam kali lebih besar daripada di Kosovo. Yang kaya menjadi lebih kaya, dan tidaklah mengejutkan kalau pengaruh kaum buruh jatuh dibandingkan dengan pengaruh tenaga ahli di perusahaan. Sebab jika tujuannya adalah untuk menghasilkan keuntungan, maka buruh akan cenderung makin bergantung kepada para tenaga ahli dan manejer untuk menghasilkan keuntungan. Bila saja kontrol ekonomi disentralisasi dan direncanakan secara demokratis untuk kepentingan seluruh rakyat, maka pengaruh para buruh akan meningkat dalam relasinya dengan para tenaga ahli karena keahlian dan pengetahuan dari para ahli akan digunakan untuk kepentingan ekonomi secara keseluruhan daripada untuk memenuhi kepentingan sempit mereka sendiri. Demokrasi buruh dapat menggantikan pasar sebagai sarana untuk mengatur ekonomi.

Satu langkah besar lainnya menuju kapitalisme adalah dibubarkannya program investasi negara dan bank sentral negara. Dana investasi negara dibubarkan dan dinvestasikan ke dalam bank manajemen mandiri, yang kemudian meminjamkan uang ke perusahaan-perusahaan atas dasar orientasi laba.

Semua kebijakan ini menyebabkan pemberontakan terhadap pasar pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, yang dipimpin oleh para pelajar, kaum muda dan rakyat miskin. Mereka menentang pasar, meluasnya kesenjangan sosial, dan meningkatnya kekuasaan bank-bank dan para manejer atas perusahaan-perusahaan.

Dari tahun 1974 "sosialisme pasar" telah dicampakkan karena demonstrasi-demonstrasi buruh yang sangat besar, yang memuncak di pendudukan Universitas Belgrade selama tujuh hari dengan slogan "Hancurkan Kaum Borjuasi Merah". Akhirnya perencanaan ekonomi dibawa kembali, tetapi tetapi yang dibawa kembali bukanlah model Soviet birokratik, dan juga bukan perencanaan ekonomi yang demokratis. Tiap-tiap perusahaan menegosiasi "perjanjian" investasi Lima Tahun dengan negara.

Melihat sejarah Yugoslavia, kita bisa menyaksikan bahwa selalu ada sebuah perjuangan antara sentralisasi dan de-sentralisasi, serta perjuangan antara kasta manajerial dan kasta birokrasi negara. Stalinisme secara fundamental gagal untuk menyelesaikan permasalahan kesenjangan regional di Yugoslavia. Ketika desentralisasi dan reformasi pasar diperkenalkan pada tahun 1950-an, ini dilihat sebagai sebuah kemenangan oleh para birokrat-birokrat nasional. Kepentingan nasional sempit mereka telah menunjukkan bahwa mereka lebih tertarik untuk mengembangkan perekonomian nasional mereka sendiri dengan mengesampingkan yang lain. Ini juga memberikan lebih banyak kekuasaan ke tangan para manejer.

Ketika negara pusat berusaha untuk memperkenalkan kembali kebijakan-kebijakan sentralisasi pada tahun 1970-an, langkah ini ditentang oleh para birokrat nasional dan manejer (khususnya mereka yang berada di Slovenia dan Kroasia). Ini adalah sebuah perjuangan antara kelompok-kelompok birokrasi yang berbeda, yang mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda juga. Di satu sisi kelompok-kelompok birokrasi nasional dan kasta manejer mendorong de-sentralisasi dalam rangka mendorong kepentingan dan kekuatan mereka, sedangkan negara pusat mendorong sentralisasi (pada 1970-an). Pencampakkan "sosialisme pasar" merupakan suatu upaya oleh para birokrat negara, yang menyadari bahwa reformasi pasar tengah mengancam kekuasaan mereka, dan untuk menegaskan kembali kontrol mereka atas para manejer dan kelompok-kelompok birokrasi regional. Contohnya, jika pada pertengahan tahun 1960-an upah di Slovenia adalah enam kali lebih besar daripada di Kosovo, adalah mudah untuk melihat mengapa para birokrat Slovenia, yang memiliki pandangan nasional sempit, akan memiliki minat desentralisasi - supaya mereka bisa menuai keuntungan dari kekayaan daerah mereka daripada melihatnya mengalir ke tetangga mereka.

Model manajemen-mandiri Yugoslavia memiliki masalah-masalah besar - masalah-masalah yang memainkan peran signifikan dalam perpecahan yang brutal di negeri ini (yang pada akhir tahun 80an dan tahun 90an pecah menjadi 8 negara yakni Bosnia, Serbia, Kosovo, Slovenia, Macedonia, Montenegro, Kroasia, dan Srpska. Perpecahan yang brutal ini membawa perang dari tahun 1991 hingga 2001 dan memakan korban jiwa lebih dari 140 ribu - catatan Editor). Karena tiap-tiap perusahaan berkompetisi di pasar, mereka hanya memikirkan kepentingan sendiri-sendiri. Mereka hanya tertarik dengan laba maksimum, supaya sebagian dari laba tersebut (bagian yang tidak dipergunakan untuk biaya atau investasi ke depan) dapat digunakan untuk meningkatkan gaji buruh. Ini menempatkan kontrol di tangan para manejer dan tenaga ahli dan bukan di tangan komite-komite buruh. Kita akan menyaksikan masalah yang sama ketika kita membahas kontrol buruh di Venezuela. Koperasi-koperasi di Venezuela, karena masih beroperasi di bawah ekonomi kapitalis, berada di bawah tekanan untuk memaksimalkan keuntungan. Ini menciptakan kontradiksi-kontradiksi di dalam perusahaan dan cenderung menempatkan kontrol di tangan para manejer daripada komite-komite buruh. Pengejaran laba membuat perusahaan-perusahaan bertarung satu sama lain dalam kompetisi, membuat buruh bertarung dengan buruh yang lain dalam kompetisi, dan juga mengarah ke perbedaan internal di tiap-tiap pabrik, dimana para manejer dan para tenaga ahli bermaksud memperketat kontrol mereka dalam rangka untuk mendapatkan kekuasaan dan akses keuntungan. Inilah mengapa industri-industri yang telah dinasionalisasi harus diintegrasikan ke dalam sebuah perencanaan ekonomi yang demokratis, dan semua industri yang telah dinasionalisasi harus berada di bawah kontrol buruh, serikat-serikat buruh, dan negara.

Untuk mengatasi kesenjangan antar perusahaan ini di Yugoslavia, perusahaan-perusahaan yang miskin berusaha untuk meningkatkan upah. Karena harus membayar gaji para buruh, mereka tidak memiliki dana untuk diinvestasikan. Ini lalu menghambat laju pertumbuhan ekonomi mereka, yang kemudian akan mengurangi pendapatan mereka. Akibatnya mereka mulai meminjam dari bank manajemen-mandiri, menjadi berhutang banyak, dan meningkatkan tingkat inflasi.

Ada juga masalah pengangguran. Secara umum, perusahaan-perusahaan manajemen mandiri tidak memecat atau memberhentikan karyawan. Namun, mereka juga tidak menciptakan banyak pekerjaan. Mengapa? Karena pendapatan para buruh terikat langsung dengan laba perusahaan, jadi semakin banyak buruh yang dipekerjakan semakin sedikit upah untuk setiap buruh. Ini berarti bahwa masyarakat miskin di pedesaan akhirnya pergi ke Eropa Barat untuk bekerja. Pada tahun 1971, tingkat pengangguran di Yugoslavia adalah sebesar 7%. Namun, 20% dari tenaga kerja bekerja di luar negeri.

Masalah utama yang lain adalah perpecahan kelas pekerja. Kepemimpinan Yugoslavia menyatakan bahwa model manajemen-mandiri mereka akan mengarah ke pengembangan relasi-relasi produksi sosialis. Namun, jika relasi-relasi produksi sosialis adalah tujuan kita, maka keputusan investasi tidak dapat diserahkan ke tangan tiap-tiap perusahaan secara terpisah, karena tiap-tiap perusahaan tersebut tidak mengetahui kebutuhan masyarakat atau perekonomian secara keseluruhan. Lagi-lagi, kepentingan tiap-tiap perusahaanlah yang berkuasa, bukan kepentingan kelas. Kenyataannya, kepentingan buruh berada di bawah kepentingan perusahaan mereka. Mereka hanya melakukan investasi untuk menciptakan lebih banyak laba di hari depan. Karena rasio upah dan laba adalah tetap, satu-satunya cara untuk menaikkan upah adalah dengan meningkatkan laba, yang berarti meningkatkan eksploitasi terhadap kelas buruh. Seiring dengan fakta bahwa para buruh bisa melihat suatu kontradiksi antara apa yang dikatakan oleh kepemimpinan Yugoslavia mengenai manajemen mandiri buruh dan apa yang sesungguhnya terjadi, ini yang menyebabkan demoralisasi dan apati di kelas pekerja. Pada tahun 1970an, absentisme meningkat tajam.

Sistem ini, sekali lagi, mirip dengan anarki kapitalisme ketimbang keharmonian relasi produksi sosialis. Para birokrat Yugoslavia juga membongkar monopoli negara atas perdagangan luar negeri, dan sebagai akibatnya ini membuat tiap-tiap perusahaan Yugoslavia berhubungan langsung dengan pasar dunia. Ini memberi peluang bagi kapitalisme dan imperialisme untuk mengintervensi ekonomi Yugoslavia secara langsung dan tanpa kontrol atau pengawasan dari pusat.

Selama tahun 1970-an, perusahaan-perusahaan manajemen-mandiri meminjam cukup banyak dari bank-bank Barat. Tujuan awal mereka adalah bahwa mereka akan meminjam, kadang-kadang dalam jumlah besar, dan menginvestasikan uang ini ke dalam perluasan dan modernisasi perusahaan mereka dengan harapan bahwa mereka akan bisa mengekspor produk mereka ke Eropa Barat dan membayar kembali pinjaman tersebut. Namun, resesi internasional pada tahun 1979 menghancurkan harapan ini. Perusahaan-perusahaan tersebut menemui kesulitan untuk membayar kembali pinjaman mereka. Selain itu, karena tidak adanya monopoli negara atas perdagangan luar negeri, tidak ada seorangpun yang tahu jumlah total utang luar negeri. Pada akhirnya, Yugoslavia harus menanggung hutang tersebut sebagai hutang negara. Standar hidup ambruk. Antara tahun 1982 dan 1989 standar hidup rakyat turun 40%. Inflasi melambung tinggi - pada tahun 1987 tingkat inflasi mencapai 150%, tahun 1989 meningkat menjadi 1950%.

Pada tahun 1988 Yugoslavia memiliki hutang luar negeri per kapita paling tinggi di seluruh Eropa, yang jumlah totalnya mencapai lebih dari 20 milyar dolar AS. Antara tahun 1984 dan 1988, Yugoslavia membayar 14 milyar dolar AS untuk bunga utang, dan ini meruntuhkan perekonomian.

Pada tahun 1980-an IMF menetapkan syarat-sayarat yang ketat untuk memperbarui pinjaman. Tentu saja, ini berarti pemotongan "anggaran sektor sosial". IMF memaksa bank-bank manajemen-mandiri untuk menjadi bank-bank swasta, dan perusahaan-perusahaan manajemen-mandiri menjadi perusahaan dengan status kepemilikan yang jelas, yakni menjadi perusahaan-perusahaan kapitalis.

Penting untuk digarisbawahi bahwa semua ini merupakan akibat langsung dari kebijakan-kebijakan "sosialisme pasar", dan ini langsung menyebabkan perpecahan Yugoslavia yang brutal. Bahkan, bagi perusahaan-perusahaan dan bank-bank manajemen-mandiri, perubahannya menjadi perusahaan swasta dan kapitalis bukanlah suatu langkah yang besar. Para manejer dari perusahaan-perusahaan manajemen mandiri menjadi pemilik dari perusahaan tersebut, dan sekarang mereka memperoleh laba daripada menerima upah yang tinggi.

Krisis ekonomi yang memukul Yugoslavia di tahun 1980-an adalah penyebab dari krisis politik. Kelompok-kelompok birokrasi yang memerintah di berbagai daerah beralih ke nasionalisme dan kebijakan menyalahkan tetangga mereka. Berhadapan dengan kemungkinan adanya revolusi buruh yang sejati, mereka menggunakan sentimen nasionalisme dan kita semua tahu hasilnya.

Apa pelajaran dari pengalaman Yugoslavia? Yang diperlukan adalah kepemilikan negara atas industri-industri yang penting dan monopoli negara atas perdagangan luar negeri. Melenyapnya Negara tidak akan terjadi dengan menyerahkan industri-industri dan perusahaan-perusahaan yang telah dinasionalisasi ke para buruh dan para manejer dan membuat mereka jadi pemegang saham. Di Yugoslavia, dimana para manejer mengendalikan komite-komite manajemen-mandiri, ini menyebabkan perpecahan kelas buruh. Membuat kaum pekerja menjadi pemilik tiap-tiap perusahaan secara terpisah bukanlah kepemilikan sosial. Komite-komite manajemen-mandiri (yang dikontrol oleh para manejer) berfungsi seperti pemilik pribadi dan ini mengarah langsung ke restorasi penuh dari kapitalisme. Kunci ke arah transformasi sosialis dan melenyapnya Negara di dalam negara buruh yang cacat adalah dengan kontrol buruh yang sejati. Sosialisme bukan hanya mengenai menjaga kepentingan para buruh di tingkat lokal dan tiap-tiap perusahaan individu. Sosialisme adalah mengenai menjaga kepentingan kelas pekerja, ekonomi, dan masyarakat secara keseluruhan. Untuk ini, kepemilikan negara sangat diperlukan. Kepemilikan negara mempertahankan karakter sosial dari ekonomi, namun tidak menandakan kepemilikan sosial. Suatu ekonomi yang telah dinasionalisasi, yang dipusatkan ke dalam satu perencanaan yang demokratis, di mana tiap-tiap pabrik memiliki dewan direksi yang anggotanya terdiri dari 1/3 buruh lokal, 1/3 serikat pekerja, dan 1/3 wakil negara (atau beberapa variasi dari komposisi ini), mempertahankan kepentingan kelas pekerja secara keseluruhan, dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan. Hanya dengan cara ini produktivitas dapat ditingkatkan dan kekuatan-kekuatan potensial ekonomi, yang dibebaskan dari ikatan kepemilikan pribadi dan nation-state, dapat dilepaskan. Ketidaksetaraan di dalam masyarakat dapat diatasi, sehingga kepemilikan negara menjadi kepemilikan sosial yang sejati.

Pelajaran penting lainnya dari Yugoslavia adalah internasionalisme. Kehancuran Uni Soviet dan Blok Timur merupakan hasil dari pandangan nasional yang sempit dari para birokrasi yang berkuasa di masing-masing negara. Mereka hanya mengorganisasi ekonomi mereka sendiri dan berdagang di antara mereka sendiri. Dengan berbasiskan Bolshevisme dan internasionalisme sejati, kita akan mampu mengintegrasikan perekonomian-perekonomian nasional yang berbeda-beda dan membangun sebuah rencana ekonomi yang terpadu dan demokratis dengan menggunakan sumber-sumber ekonomi dan kekuatan tenaga buruh dari semua negara mulai dari Havana hingga Beijing. Ini akan melepaskan kekuatan produksi dari negara-negara tersebut, mengusung perkembangan ekonomi sosialis, dan mengarah ke perkembangan hubungan produksi sosialis dan kepemilikan alat-alat produksi secara sosial yang sejati.

Bersambung ke Bagian 4

(Diterjemahkan oleh Syaiful dan diedit oleh Ted. Sumber: Workers' Control and Nationalization - Part Three oleh Rob Lyon, 3 Februari 2006)

http://www.marxist.com/kontrol-buruh-dan-nasionalisasi-bagian-iii.htm

Selasa, 17 Februari 2009

Tingkap-tingkap langit pengharapan

Langit Biru begitu pekat, Bunga-bunga POPPY bermekaran menghiasi padang-padang persemaian, sedikit saja ku reguk dalam-dalam, aroma mu akan membuat ku selalu merasa ada di dalam Surga yang surgawi. Oh para pencari kemuliaan tunjukanlah arti sebuah kemuliaan seorang manusia sebagai manusia bukan sebagai HOMO HOMINI LUPUS, adakah kemuliaan seorang manusia itu sepadan dengan setiap nectar Bunga-bunga POPPY yang membuat ku terlupa akan semua tujuan hidupku yang tidak diberikan jalan tangga-tangga kehidupan oleh mereka yang disebut manusia, sepertinya aku harus menjadi Adimanusia agar dapat memecah-mecah kehidupan apa yang biasa disebut manusia-manusia penghisap, Hanya itu satu-satunya jalan menjadi ADIMANUSIA yang bersama dengan Nectar Bunga-bunga POPPY yang selalu menghiasi harumya dunia.

Minggu, 15 Februari 2009

MINUS TEMAN?

Apa artinya teman, itu saya tidak pahami sama sekali, kebanyakan mereka hanya tahu kalau teman adalah segalanya, adakah mereka mengenal apa yang disebut teman atau pun sahabat secara mendalam atau hanya berdasarkan luapan emosi yang sangat dangkal, saya sendiri secara pribadi anti sosial kronis, pernah punya teman dekat namun pada akhirnya saya dijadikan sebagai tameng untuk menutupi semua kesalahan, akhirnya saya kena getahnya dimarahi oleh orang tua sahabat saya sendiri, bahkan diusir, sejak awal saya tahu memang semua itu salah, tapi kenapa saya mau menutupi kesalahan teman atau sahabat saya? jawabannya adalah karena saya terlalu memakai perasaan tepatnya terbawa emosi, fuiiih, lebih baik tidak punya teman, kesepian-kesepian deh, setidaknya ego saya tidak ada yang dikorban kan sepihak.
semua orang hanya memandang pertemanan ataupun relasi hanya sebatas intrest itu sebabnya homo menjadi Homo Homini lupus,! SHIT!
Artinya teman hanya sebagai sebuah relasi yang sifatnya Monolog bukannya Dialaog, akibatnya bisa ditebak bahwa tidak ada yang abadi dalam sebuah relasi hanya sebuah kepentingan yang sifatnya sangat - sangat Pragmatis. Mengerikan!!!
Tidak ada yang tulus , tidak ada baik, tidak ada kepercayaan, yang ada hanya sentimen sinisis dan Kepentingan dan kepentingan selalu. DAMN!!!
Proses yang selalu berulang yang pada akhirnya akan menjadi sebuah KENIHILAN
SAYA pengagum Teori ABSURD(NIHILISME)Nietszche, Saya sangat setuju apa yang dikatakan Nietszche "Bahwa Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?"
Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125(WIKIPWEDIA.COM),

ARTINYA APA? SEMUA PROSES BERULANG TERSEBUT MENGANDUNG SEBUAH NILAI YANG DI SEBUT NIHLISME ATAU ABSURDITAS//////

Sabtu, 14 Februari 2009

ABSURD

Benarkah Tuhan saudah mati seperti apa yang dikatakan oleh Nietzsche dalam karyanya Also sprach Zarathustra( demikaian lah sabda Zarathustra dalam terjemahan bebas), tapi setelah saya membaca karyanya akhinya saya menemukan bibit atheis.
Jujur saja benar memang bahwa Tuhan sudah saya bunuh dengan pisau-pisau manusia.

setelah saya coba pahami bahwa bukan Tuhan yang di kritk oleh Nietzsche, teteapi manusialah yang melakukan rutinitas Theologis dalam perspektif EGOSENTRIS dalam bentuk pemujaan yang berlebihan, harus diakui saya terkadang juga seperti itu, Hingga sampai pada perenungan bahwa Tuhan itu memang tidak ada(Mengenai hal tersebut sebagian dari pribadi saya masih bergejolak menentang pribadi atheis dalam diri saya kalau sewaktu-waktu saya benar-benar menjadi atheis), hal tersebut dapat dibuktikan dengan sangat sederha KITA DALAM HAL INI MANUSIA ADALAH OBJEK BAGI TUHAN, DI SINI TUHAN ADALAH BERKEDUDUKAN SEBAGAI SUBJEK, TUHAN JUGA SEBAGAI OBJEK BAGI MANUSIA KALAU BEGITU APAKAH ADA EKSISTENSI DARI ENTIATAS TUHAN- MANUSIA- TUHAN? SAYA RASA SEMUA ATAU AHLI FILSUF TIDAK AKAN MAMPU MEMECAHKAN HA TERSEBUT, Nietzsche HANYA MEMBERIKAN FAKTA BAHWA MANUSIA SELALU MENCARI PEMBENARAN ATAS SEGALA PERBUATANNYA, DALAM BENTUK PELARIAN THEOLOGIS DALAM HAL INI AGAMA DAN TUHAN YANG MENJADI CANDU YANG HALAL KARENA ITU HANYA BERADA DALAM KONTEKS MANUSIA IN PERSONA, MUNAFIK KAH MANUSIA ? ATAU BERDOSAKAH MANUSIA DENGAN MENUJUKAN KEBANGGAAN SECARA BERLEBIHAN ATAS AGAMA YANG MEREKA YAKINI SEHINGGA MENGCULTUSKAN IMAGE-IMAGE ATAU SIMBOL-SIMBOL TERTENTU!!!!. ITULAH RUTINITAS YANG SELALU BERULANG-ULANG, KENIHILANAN SEBAGAIMANA YANG DIMAKSUD OLEH NIETZCHE
Saya kira jawaban tersebut kalau dicari kemungkinan manusia tersebut akan menemukan dirinya tersesat, akhirnya akan mempertanyakan akan kah yang diyakini selama inin sebagai keyakinan adalah benar pada hakikatnya? pasti haslinya akanABSURD MUTLAK karena dalam dunia ini satu-satunya Yang mempunyai nilai mutlak adalah RELATIFITAS atau kenisbian akan sebuah citra, eksistensi dan apapun itu namanya !!!!!!!!!!!!!!!