Selasa, 02 November 2010
Untuk Merapi, Rahim Sang Ibu yang tergenapi
Selasa, 12 Oktober 2010
Dialog Humanis
Segenap rindu segenggam rasa, tak terasa meneteskan darah darah yang merindu, merindu akan kemerahannya yang hangat, menghidupi setiap jalannya, menguatkan setiap nadinya. adakah mereka disetiap jalan yang sepi merasakan darah yang terhampar luas dilautan sana. (Pratikto Dwi Rahardjo)
Setiap rindu akan selalu hangat, tiada yang dapat membunuh rasa sakit dari rindu yang tergenggam, seperti hamparan lautan tak akan bisa terselami hingga maksud rindu pun tersampaikan dan selesai pada waktunya. (Vertex Patra)
Ketika semua tenggelam, semua akan binasa, melewati sedikit kerisauan dan lebih banyak kegundahan, hanya mengeluh serta menerertawaakan diri sendiri, layaknya membunuh sepi dan hiraukan diri sendiri. Janganlah engkau menganggap ringan dunia, memang seperti kapas dunia ini, ketika semua terasa ringan kita akan melayang, ketika dihembus angin nan kencang kita akan mengikuti keadaan. Lawan dan lawan serta berontaklah kita dari keadaan yang penuh kegundahan.(Pratikto Dwi Rahardjo)
Seperti langkah kecil sang gadis kecil bak tarian ringan yang semerengguh, seperti itulah hidup yang harus berlangsung, tiada kecil di dunia, dunia selalu berat seperti massanya, dan akan selalu berubah terhempas seperti kapas, ingat dengarkan dan camkanlah dan waspadalah. (Vertex Patra)
Mari menari mari tertawa bersama, mari nikmati kerinduan kita nanti diakhir zaman. jangan lupakan jangan engkau hapus kenangan kita disemua masa kita. (Pratikto Dwi Rahardjo)
Sabtu, 09 Oktober 2010
CERMIN RIAK HUJAN (EXTENDED LIST)
DENGARKAN DAN RENUNGKAN .......
Minggu, 12 September 2010
SARASVATI EP RIVIEW
Bagaimana kabarnya Risa Saraswati?, tentu ini menjadi pertanyaan bagi mereka familliar dengan karakter vokal yang soulfull dan gloomy. Ternyata setelah hengkang dari HOMOGENIC, Risa membuat solo album atau tepatnya EP album (PreAlbum sebelum album yang sebenarnya ada), saya tahu dari teman savior saya, bahwa Risa bersolo karir dengan membuat solo dengan nama SARASVATI, ya nama SARASVATI sendiri diambill dari nama belakangnya SARASWATI, yang kalau dalam bentuk bahasa sangsekertanya SARASVATI yang berarti DEWI ILMU PENGETAHUAN.(http://www.facebook.com/risasarasvati?ref=ts#!/note.php?note_id=146378648724566).
Lagu tersebut disisipi sentuhan etnik tradisional serta disisipi lirik dengan berbahasa daerah atau berbahasa sunda disertai dengan suara seruling yang menambah kuat karakter dari lagu yang suram, nah setelah saya membaca penjelasan tersebut kemudian saya mendengarkan lagu bilur tersebut, sangat Gloomy dan itu pun membuat saya merinding karena apa yang digambarkan risa dalam penjelasannya sangat kuat terasa dalam setiap lirik lagu bilur yang digambarkan dalam bentuk frase khiasan, ah.... saya tidak bisa komentar jujur saya hanya bisa mendengarkan dan mencoba melayangkan ke dalam imagi lirik lagu bilur.
Gambaran album EP Risa Saraswati tersebut sangatlah Melankolis (saya tidak mau mengatakan gothik karena melankolis adalah kata yang tepat menggambarkan album Sarasvati), Nuansa yang berbeda dengan HOMOGENIC, karena disini Risa Saraswati terlihat mengeksplor habis-habisan sisi melankolis, sehingga terdengar Gloomy dan Gelap tapi tidak suram tepatnya masih terdapat gambaran harapan yang tergambarkan dalam album tersebut. Satu lagi yang tidak pernah hilang yaitu karakter vocal Risa Saraswati yang sangat kuat dan khas, sehingga kita dapat merasakan penjiwaan dari Risa Saraswati, itulah membuat perbedaan yang besar dengan musisi lainnya. Risa Saraswati telah berhasil memberikan Penjiwaan pada setiap lagunya, sehingga kita mungkin bisa merasa merinding ataupun terdiam sejenak ketika mendengarkan lagu-lagu dari EP Sarasvati.
NB:
Jumat, 10 September 2010
NIHIL
SARASVATI EP ALBUM
Selendang bersulam sutra, biduri lembayung jingga...
Saksi mati tuk bersaksi, gelimang pesona diri...
Belia usia dulu, ruap cinta tlah menggebu...
Samar kulihat dunia...tak sadar semua fana...
Sekilas lihatlah mega, anugerah tiada tara...
Ini tak adil untukku, halimun hitam merasuk...
Ceracau getir ibunda, gemertak sengap hatinya...
Firasat tak penah salah...Hanya kuberbuat... Ulah....
Semerbak dupa iringi kumelangkah..
Cungkupku hanya tanah...
Bilur hati merambah...
Akan datangkah bagiku...Kesempatan...
Bila tak ada titian...
Diri yang rupawan...
Bila tak ada titian...Jalan yang....Rupawan...
"Duh, teungteuingeun...tuntung lengkah...geuning...bet peurih..."
NB: