Label

Jumat, 19 Maret 2010

Revolusi Tiongkok Pertama 1925-1927 adalah sebuah revolusi proletarian yang otentik. Tetapi revolusi tersebut gugur sebelum waktunya karena kebijakan-kebijakan keliru yang diinstruksikan Stalin dan Bukharin, yang menempatkan klas pekerja Tiongkok di bawah borjuasi yang konon demokratis pimpinan Chiang Kai-shek. Partai Komunis Tiongkok (PKT) melebur ke dalam Kuomintang (KMT). Bahkan, Stalin mengundang Chiang Kai-shek untuk menjadi anggota Komite Eksekutif Komunis Internasional (Komintern).

Kebijakan pembawa malapetaka ini menyebabkan kekalahan yang katastrofik pada tahun 1927 ketika sang “borjuis-demokrat” Chiang Kai-shek mengorganisir pembantaian terhadap orang-orang Komunis di Shanghai. Penghancuran klas pekerja Tiongkok menentukan watak Revolusi Tiongkok selanjutnya. Sisa-sisa Partai Komunis melarikan diri ke pedesaan. Di sana mereka mulai mengorganisir perang gerilya berbasis kaum tani. Secara fundamental ini mengubah jalannya Revolusi.

Kebusukan Borjuasi

Revolusi 1949 berhasil karena kebuntuan feodalisme dan kapitalisme di Tiongkok. Nasionalis-borjuis Chiang Kai-shek, yang merebut kekuasaan pada tahun 1927 di atas mayat-mayat para pekerja Shanghai yang tercabik-cabik, mempunyai dua dekade untuk menunjukkan apa yang dapat diperbuatnya. Tetapi, pada akhirnya Tiongkok semakin bergantung pada imperialisme, persoalan agraria tetap tidak terselesaikan, dan Tiongkok masih merupakan sebuah negeri yang terbelakang, semi-feodal, dan semi-kolonial. Borjuasi Tiongkok, bersama dengan semua klas ber-properti lainnya, bertali-temali dengan imperialisme dan membentuk sebuah blok reaksioner untuk menentang perubahan.

Kebusukan borjuasi Tiongkok tersingkap manakala kaum imperialis Jepang menyerang Manchuria pada 1931. Semasa perjuangan untuk mengalahkan para penyerbu Jepang, kaum Komunis Tiongkok menawarkan sebuah front-persatuan kepada kaum borjuis-nasionalis Kuomintang yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek. Tapi, dalam kenyataannya level kerjasama antara pasukan-pasukan Mao dan KMT semasa Perang Dunia Kedua minim adanya. Aliansi PKT dan KMT adalah front-persatuan dalam namanya saja.

Perjuangan Tiongkok melawan Jepang terjadi seiring dengan berkobar dan meluasnya Perang Dunia Kedua (PD II). Kaum Komunis memiliki andil terbesar dalam perjuangan melawan Jepang. Di lain pihak pasukan-pasukan KMT lebih mengkonsentrasikan diri untuk memerangi kaum Merah. Pada Desember 1940, Chiang Kai-shek menuntut agar Tentara Baru Keempat PKT angkat kaki dari Provinsi Anhui dan Provinsi Jiangsu. Ini menyebabkan bentrokan besar antara Tentara Pembebasan Rakyat (TPR atau PLA, People’s Liberation Army) dan pasukan-pasukan Chiang. Beberapa ribu orang tewas. Ini menandai berakhirnya apa yang disebut-sebut sebagai front-persatuan.

PD II berakhir dengan semakin menguatnya imperialisme AS dan Rusia-nya Stalin. Konflik yang tak terelakkan di antara mereka sudah terlihat jelas sebelum akhir Perang tersebut. Pada 9 Agustus 1945, pasukan-pasukan Soviet meluncurkan Operasi Ofensif Strategis Manchuria (Manchurian Strategic Offensive Operation) untuk menyerang Jepang di Manchuria dan di sepanjang perbatasan Tiongkok-Mongolia. Dalam sebuah serangan kilat, tentara Soviet menghancurkan tentara Jepang dan menduduki Manchuria. 700 ribu pasukan Jepang yang ditempatkan di wilayah itu menyerah. Tentara Merah menaklukkan Manchukuo, Mengjiang (pedalaman Mongolia), bagian utara Korea, bagian selatan Sakhalin, dan Kepulauan Kuril

Kekalahan kilat yang dialami Tentara Kwantung-nya Jepang oleh Tentara Merah tidak disebut-sebut oleh siapapun sekarang ini. Tapi ini merupakan faktor yang signifikan dalam menyerahnya Jepang dan berakhirnya PD II. Ini juga merupakan unsur yang signifikan dalam perhitungan Washington di Asia. Kaum imperialis AS takut jangan-jangan Tentara Merah Soviet akan langsung bergerak melalui Tiongkok dan memasuki Jepang, sebagaimana Tentara Merah Soviet telah mencapai Eropa Timur. Jepang akhirnya menyerah kepada AS setelah Angkatan Udara AS menjatuhkan bom-bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Tujuan utama dari penghancuran kota-kota Jepang ini adalah untuk memperlihatkan kepada Stalin bahwa sekarang AS telah memiliki senjata baru yang mengerikan dalam gudang senjatanya.

Di bawah kondisi “menyerah tanpa syarat”-nya Jepang yang didiktekan oleh Amerika Serikat, pasukan Jepang diperintahkan untuk menyerah kepada pasukan Chiang, dan bukan kepada kaum Komunis di wilayah-wilayah Tiongkok yang diduduki. Sebab-musabab pasukan Jepang menyerah kepada Uni Soviet semata-mata karena KMT tidak mempunyai pasukan di sana. Chiang Kai-shek memerintahkan pasukan Jepang agar tetap berada di pos mereka untuk menerima KMT dan tidak menyerahkan senjata mereka kepada kaum Komunis.

Setelah Jepang menyerah, Presiden AS Truman sangat jelas berkenaan dengan apa yang dimaksudnya dengan “menggunakan Jepang untuk membendung kaum Komunis.” Dalam memoarnya ia menulis, “Sepenuhnya jelas bagi kita bahwa bila kita memerintahkan Jepang untuk segera meletakkan senjata mereka dan berangkat ke daerah pesisir, segenap negeri akan diambilalih oleh kaum Komunis. Karena itu kami harus mengambil langkah yang tidak biasa, yakni menggunakan lawan sebagai sebuah garnisun sampai kita dapat mengangkut pasukan Nasional Tiongkok ke Tiongkok Selatan dan mengirim Angkatan Laut untuk menjaga kota-kota pelabuhan laut.”

Stalin dan Revolusi Tiongkok

Posisi apa yang diambil Moskow dalam semua perkara ini? Mula-mula Tentara Merah mengizinkan TPR untuk memperkuat posisinya di Manchuria. Tapi, pada November 1945 Tentara Merah berbalik dari posisi semula. Chiang Kai-shek dan imperialis AS merasa ngeri terhadap prospek pengambilalihan Komunis atas Manchuria setelah kepergian Soviet. Karena itu Chiang membuat kesepakatan dengan Moskow untuk menunda penarikan-mundur mereka sampai ia selesai menempatkan cukup anak buah yang paling terlatih serta perlengkapan modernnya ke wilayah tersebut. Pasukan KMT kemudian diangkut ke wilayah itu dengan pesawat udara Amerika Serikat. Lalu pihak Rusia mengizinkan mereka untuk menduduki kota-kota kunci di Tiongkok Utara. Sementara itu pedesaan tetap di bawah kontrol PKT.

Kenyataannya, Stalin tidak mempercayai pemimpin-pemimpin PKT. Ia tidak yakin bahwa mereka akan berhasil merebut kekuasaan. Birokrasi Moskow lebih tertarik untuk mempertahankan hubungan persahabatan dengan pemerintahan Chiang Kai-shek daripada mendukung Revolusi Tiongkok. Setelah Revolusi, dengan getir Mao mengeluhkan bahwa duta besar asing terakhir yang meninggalkan Chiang Kai-shek adalah duta besar Soviet. Stalin mendesak Mao untuk bergabung dalam pemerintahan koalisi dengan Kuomintang, sebuah gagasan yang mula-mula diterima Mao:

“Sementara perang berlanjut, Mao Tse-tung telah menuntut agar kaum Nasionalis setuju untuk mendirikan sebuah pemerintahan koalisi guna menggantikan pemerintahan satu-partai mereka, dan Stalin dan Molotov telah mengatakan bahwa kedua pihak Tiongkok harus bertemu. Pada 14 Agustus 1945, Uni Soviet bergerak selangkah lebih jauh. Ia merundingkan dengan pemerintahan Chiang Kai-shek sebuah Perjanjian Persahabatan dan Aliansi Tiongkok-Soviet (Sino-Soviet Treaty of Friendship and Alliance). Selanjutnya Stalin menasihati kaum Komunis Tiongkok bahwa pemberontakan mereka “tidak memiliki prospek” dan bahwa mereka harus bergabung dengan pemerintahan Chiang serta membubarkan tentara mereka.”

“Pada hari yang sama, kaum Nasionalis menandatangani Perjanjian mereka dengan Uni Soviet, Chiang Kai-shek – atas desakan Jenderal Hurley – mengundang Mao Tse-tung agar mengunjungi Chungking untuk ikut dalam diskusi.” (Edward E. Rice, Mao’s Way, p.114, penekanan saya, AW)

Pada akhirnya, karena tak terelakkan, perundingan-perundingan gagal dan perang sipil dimulai lagi. Uni Soviet memberikan bantuan yang sangat terbatas kepada TPR, sementara AS membantu kaum Nasionalis dengan pasukan dan perlengkapan militer senilai ratusan juta dollar. Jenderal Marshall mengaku bahwa tidak ada bukti apapun bahwa Uni Soviet memasok TPR. Faktanya, TPR merebut senjata-senjata yang ditinggalkan Jepang, termasuk beberapa tank. Belakangan, sejumlah besar pasukan KMT yang terlatih dengan baik menyerah dan bergabung dengan TPR dengan membawa persenjataan mereka. Senjata-senjata tersebut hampir semuanya dibikin di AS.

Pasukan-pasukan Soviet secara sistematis membongkar basis industrial Manchuria (senilai sampai 2 milyar dollar), memuat ke kapal seluruh pabrik-pabrik ke USSR. Faktanya, sebagaimana telah kita lihat, Stalin skeptis tentang prospek keberhasilan Mao, dan berusaha untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan Chiang Kai-shek, sebagaimana ditunjukkan oleh Schram: “Polanya terus dibikin kabur baik oleh kesibukan Stalin dengan keamanan negara Soviet, maupun oleh tidakadanya antusiasmenya terhadap sebuah gerakan revolusioner yang dinamis yang mungkin tidak dapat dikendalikannya.” (Stuart Schram, Mao Tse-Tung, hlm. 239.)

Jadi, benih-benih konflik Sino-Soviet sudah ada sejak awal: bukan sebuah konflik ideologis, seperti yang seringkali dikemukakan, tetapi sekadar sebuah konflik kepentingan antara dua birokrasi yang saling bersaing, yang masing-masing dengan penuh kewaspadaan membela kepentingan-kepentingan nasional sempit, wilayah, sumber daya, kuasa, dan hak-hak istimewa mereka. Nasionalisme yang sempit ini sepenuhnya kontras dengan internasionalisme proletariannya Lenin dan Trotsky. Lenin menyatakan dalam lebih dari satu kali kesempatan bahwa ia akan bersedia untuk mengorbankan Revolusi Rusia bila itu diperlukan untuk mencapai kemenangan revolusi sosialis di Jerman.

Bila Stalin dan Mao berdiri di atas program Leninisme, sudah seharusnya mereka akan segera mengedepankan penciptaan sebuah Federasi Sosialis Uni Soviet dan Tiongkok, yang akan memberikaan faedah yang luar biasa besar bagi seluruh rakyat. Akan tetapi hubungan-hubungan mereka malah didasarkan pada kepentingan-kepentingan nasional yang sempit dan kalkulasi-kalkulasi yang sinis. Pada akhirnya ini mengakibatkan situasi yang sangat-sangat buruk, di mana para “kamerad” Rusia dan Tiongkok menggelar “perdebatan” dengan menggunakan bahasa roket dan selongsong artileri mengenai perbatasan yang dibuat pada abad ke-19 oleh seorang Tsar Rusia dan Kaisar Tiongkok.

AS Membantu Chiang Kai-shek

Pihak Amerika berambisi untuk membuat Tiongkok menjadi wilayah pengaruh AS (yang dalam praktik, sebuah negeri semi-koloni) setelah PD II. Tetapi, setelah semua pengalaman kelam PD II, rakyat Amerika tidak bakalan siap untuk mendukung sebuah peperangan baru dalam rangka menaklukkan Tiongkok. Yang lebih penting, tentara-tentara Amerika pun tidak akan siap untuk bertempur dalam peperangan seperti itu. Karena itu, ketidakmampuan imperialisme AS untuk mengintervensi Revolusi Tiongkok adalah sebuah unsur penting dalam rumusan politik.

Dalam kondisi begini, kaum imperialis AS terpaksa melancarkan manuver dan intrik. Washington mengutus Jenderal George C. Marshall ke Tiongkok pada 1946, yang katanya bertujuan untuk menyusun perundingan-perundingan antara TPR-nya Mao dan Chiang Kai-shek. Tetapi, dalam prakteknya, ternyata tujuannya adalah untuk memperkuat Chiang dengan menyediakan senjata, uang, dan perlengkapan dalam rangka membangun pasukan Nasionalis sebagai persiapan untuk melancarkan sebuah opensif yang baru. Manuver ini tidak memperdaya Mao begitu saja. Mao setuju untuk berpartisipasi dalam perundingan-perundingan, tetapi terus mempersiapkan diri untuk menghadapi bangkitnya permusuhan.

Kendati imperialisme AS tidak mampu berintervensi dalam perang sipil 1946-9, Washington memberikan uang, senjata, dan pasokan dalam jumlah yang sangat besar kepada kubu Nasionalis. Amerika Serikat membantu KMT dengan pasokan-pasokan militer baru senilai ratusan juta dollar. Tapi, banyak senjata yang dikirimkan Washington di kemudian hari justru digunakan oleh orang-orang Vietnam untuk melawan tentara AS, sebab hampir semua perangkat keras militer itu direbut oleh pasukan-pasukan Mao.

Sejak Konferensi Menteri-menteri Luar Negeri Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Inggris di Moskow pada Desember 1945, Amerika Serikat telah menganut “kebijakan non-intervensi dalam masalah internal Tiongkok”. Tentu saja ini sebuah sandiwara belaka, sama saja dengan kebijakan “non-intervensi” di Spanyol semasa Perang Sipil, ketika “negara-negara demokrasi” memboikot Republik Spanyol, sementara Hitler dan Mussolini mengirim senjata dan anak buah mereka untuk mendukung Franco

Imperialisme AS memasok Kuomintang dengan pesawat pengebom, pesawat tempur, senapan, tank, peluncur roket, pistol otomatis, bom bensin, proyektil gas, dan senjata-senjata lainnya untuk tujuan tersebut. Sebagai imbalan, Kuomintang memindahtangankan kepada imperialisme AS hak-hak berdaulat Tiongkok atas wilayahnya sendiri, perairan, dan kawasan udara, mengizinkannya untuk mendapatkan hak-hak pelayaran dalam negeri dan privilese-privilese komersial khusus, serta memperoleh privilese-privilese khusus dalam urusan-urusan domestik dan luar negeri Tiongkok. Pasukan-pasukan AS bersalah atas banyak kekejaman terhadap rakyat Tiongkok: membunuh rakyat, memukuli mereka, melindas mereka dengan mobil, dan memperkosa kaum perempuan, semuanya dengan kekebalan hukum.

Revolusi Agraria

Pada Juli 1946, dengan dukungan aktif imperialisme AS, Kuomintang menjerumuskan Tiongkok ke dalam perang sipil besar-besaran dengan kebrutalan yang tiada taranya dalam sejarah Tiongkok. Chiang Kai-shek meluncurkan sebuah ofensif kontra-revolusioner melawan TPR. Ia telah melakukan persiapan seksama, dan pada waktu itu KMT mempunyai pasukan sebanyak hampir tiga setengah kali lipat daripada TPR. Sumber-sumber materialnya pun jauh lebih unggul. Ia mempunyai akses ke industri-industri modern dan sarana-sarana komunikasi modern, yang justru tidak dimiliki oleh TPR. Secara teoritis, seyogyanya Chiang dapat meraih kemenangan dengan mudah.

Pada tahun pertama perang sipil (Juli 1946-Juni 1947), Kuomintang berada pada posisi ofensif dan TPR terpaksa berada dalam posisi defensif. Mula-mula pasukan-pasukan Chiang bergerak maju dengan cepat, menduduki banyak kota dan daerah yang dikontrol oleh TPR. Pasukan-pasukan KMT mencapai sesuatu yang nampak sebagai sebuah kemenangan yang menentukan tatkala mereka merebut ibukota TPR, Yenan. Banyak pengamat menganggap hal ini sebagai pertanda kekalahan yang menentukan bagi TPR. Tapi anggapan ini tidak tepat. Berhadapan dengan rintangan yang sama sekali tidak menguntungkan, Mao memutuskan untuk melakukan penarikan-mundur yang strategis. Mao mengambil keputusan untuk tidak berupaya mempertahankan kota-kota besar dengan pasukan-pasukan yang kurang unggul. Alih-alih ia berkonsentrasi pada daerah-daerah pedesaan, di mana ia mempunyai basis yang solid di kalangan kaum tani; dari sana ia dapat mengumpulkan-kembali dan mengkonsentrasikan pasukan-pasukannya untuk melancarkan serangan balik.

Apa yang gagal disadari kaum imperialis AS dan Chiang Kai-shek adalah bahwa senjata paling efektif yang ada di tangan TPR bukanlah senapan atau tank, tetapi propaganda. TPR menjanjikan kepada kaum tak bertanah dan kaum tani yang kelaparan bahwa dengan berjuang untuk TPR mereka akan bisa merebut tanah pertanian dari para tuan-tanah. Dalam hampir semua kasus, daerah pedesaan sekitar dan kota-kota kecil telah berada di bawah kontrol TPR jauh sebelum kota-kota besarnya. Inilah asal-muasal teori Mao, “Desa Mengepung Kota”.

Ketika Stalin mengubah garis Komintern dari kebijakan-kebijakan ultra-kiri “Periode Ketiga” (1928-34) menjadi kebijakan-kebijakan oportunis frontisme-popular, Mao merevisi program agrarianya. Ia meninggalkan kebijakan sebelumnya yang radikal, yakni “tanah bagi penggarap”, dan menggantikannya dengan kebijakan yang lebih moderat, yakni penurunan harga sewa tanah. Ia mempunyai gagasan untuk memenangkan dukungan dari “para tuan-tanah yang progresif” (!). Tapi, setelah 1946 ia mengubah lagi kebijakannya:

“Kebijakan agraria yang selanjutnya adalah lebih radikal daripada kebijakan agraria dalam periode 1937-45, yang melibatkan penurunan bunga pinjaman dan harga sewa daripada reformasi agraria yang menyeluruh; tetapi taktik-taktik baru ini dimaksudkan bersifat gradual dan disesuaikan dengan kondisi-kondisi setempat. Mao masih bermaksud mengikutsertakan kaum menengah-kaya yang patriotik dalam ‘front-persatuan yang sangat luas’ yang ingin dia pertahankan. Baru setelah beberapa tahun kaum Komunis mengontrol daerah tersebut, semua tanah didistribusikan ulang; untuk sementara reforma tidak boleh mempengaruhi lebih dari sepersepuluh penduduk. Mao juga menyebabkan pemberlakuan kembali ‘tiga aturan disiplin’ dan ‘delapan pokok perhatian’; dalam satu atau lain bentuk, ini telah mengekspresikan selama hampir dua puluh tahun penghormatan terhadap penduduk sipil dan pencegahan terhadap penjarahan, yang membedakan Tentara Merah dari semua tentara yang pernah dilihat kaum tani Tiongkok pada masa silam, dan sangat berkontribusi dalam memenangkan dukungan penduduk.” (Stuart Schram, Mao Tse-Tung, p.242.)

Di setiap desa, TPR mendistribusikan tanah kepada kaum tani. Tetapi mereka selalu menyisakan sejumlah kapling – untuk prajurit-prajurit dari tentara Chiang Kai-shek. Para prajurit KMT yang tertangkap tidak dibunuh atau diperlakukan buruk, sebaliknya mereka diberi makan dan diberi perawatan medis, dan kemudian diberi pidato-pidato politik yang mengutuk rezim Chiang Kai-shek yang korup dan reaksioner. Kemudian para tawanan dikirim pulang untuk menyebarkan pesan di kalangan kaum tani dan prajurit-prajurit lainnya bahwa TPR bermaksud mendistribusikan tanah para tuan-tanah kepada kaum tani.

Dengan menjanjikan tanah kepada kaum tani, TPR berhasil memobilisir kaum tani dalam jumlah yang sangat besar agar dapat digunakan untuk bertempur dan menyediakan dukungan logistik. Ini terbukti sangat efektif. Tentara Chiang barangkali mengalami tingkat desersi tertinggi dari tentara manapun dalam sejarah. Artinya, kendati banyak jatuh korban, TPR sanggup untuk terus bertempur dengan pasokan rekrutmen baru yang konstan. Semasa Kampanye Huaihai saja mereka mampu memobilisir 5.430.000 kaum tani untuk bertempur melawan pasukan-pasukan KMT. Stuart Schram menunjukkan bahwa TPR bertambah besar secara dramatis:

“Semasa 1945 pasukan-pasukan militer yang berada di bawah komando Tentara Rute VIII dan Tentara Baru IV telah meluas dari jumlah sekitar setengah juta menjadi sekitar satu juta orang. Pasukan Kuomintang kira-kira empat kali lebih banyak dari jumlah tersebut. Pada pertengahan 1947, setelah setahun perang sipil berskala besar, perbandingannya bergeser dari satu banding empat menjadi satu banding dua.” (Stuart Schram, Mao Tse-Tung, hlm. 242.)

Ofensif Terakhir

Clausewitz mengutarakan bahwa perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain. Politik memainkan peran yang sangat penting dalam setiap perang, terutama dalam perang sipil. Kendati pihak Amerika (seperti biasanya) mempertahankan fiksi bahwa ini merupakan perang antara “Komunisme dan Demokrasi”, faktanya boneka Tiongkok mereka, Chiang Kai-shek, adalah seorang diktator yang brutal. Akan tetapi, barangkali di bawah tekanan Washington, Chiang berpura-pura memperkenalkan sejumlah “reforma demokratis” dalam rangka membungkam para pengkritiknya di dalam dan di luar negeri.

Ia mengumumkan sebuah konstitusi baru dan Majelis Nasional yang baru, yang tentu saja menyisihkan kaum Komunis. Mao segera mengutuk “reforma-reforma” tersebur sebagai sebuah penipuan. Massa-penduduk lebih menaruh perhatian pada korupsi yang merajalela dalam pemerintahan, serta kekacauan politik dan ekonomi: khususnya hiperinflasi yang masif, yang mengakibatkan jatuhnya standar-standar hidup. Ada protes-protes mahasiswa yang besar di seluruh negeri terhadap imperialisme.

Di daerah-daerah yang dikontrol oleh pasukan-pasukan Nasionalis, rezim Teror Putih berkuasa. Chiang mengadopsi taktik yang persis sama dengan para penyerang Jepang: membakar, menjarah, memperkosa, dan membunuh. Jutaan pria dan wanita, muda dan tua, dibantai. Ini memberikan kepada mereka kebencian penduduk dan justru makin memperkuat dukungan bagi TPR.

Secara teori, pihak Nasionalis masih memiliki satu keunggulan yang besar daripada TPR. Di atas kertas, mereka menikmati keunggulan yang nyata baik dalam jumlah personel maupun senjata. Mereka mengontrol wilayah dan penduduk yang jauh lebih besar daripada seteru mereka. Mereka juga menikmati dukungan internasional yang sangat besar dari AS dan Eropa Barat. Tapi itu hanya teori saja. Realitas di lapangan sangat berbeda. Pasukan-pasukan Nasionalis menderita karena tidakadanya semangat juang dan merajalelanya korupsi – yang sangat mengurangi kemampuan mereka untuk bertempur; dan dukungan sipil terhadap mereka telah runtuh.

Pasukan-pasukan Nasionalis yang mengalami demoraliasasi dan tidak berdisiplin meleleh di hadapan derap-laju yang tak terbendung dari Tentara Pembebasan Rakyat. Mereka menyerah atau melarikan diri, meninggalkan begitu saja persenjataan mereka. Penawanan atas sejumlah besar pasukan KMT memberikan kepada TPR tank, artileri berat, dan aset-aset persenjataan-gabungan lainnya yang dibutuhkan untuk meneruskan operasi-operasi ofensif di sebelah selatan Tembok Besar. TPR bukan hanya mampu merebut kota-kota Kuomintang yang memiliki pertahanan yang sangat kuat, tapi juga mengepung dan menghancurkan formasi-formasi pasukan gerak-cepat Kuomintang, seratus ribu atau beberapa ratus ribu pada saat yang bersamaan. Pada April 1948 mereka merebut kota Luoyang, yang memutus pasokan bagi tentara KMT dari Xi'an.

TPR mampu meneruskan kontra-ofensif, yang memaksa Kuomintang meninggalkan rencananya untuk melakukan serangan umum. Setelah merebut senjata dalam jumlah yang sangat besar, TPR mampu memperbaiki kemampuan militernya, membentuk artileri dan kesatuan teknis-nya sendiri, serta menguasai taktik untuk menyerang titik-titik sasaran yang memiliki pertahanan yang kuat. Sebelum ini, TPR tidak mempunyai pesawat tempur atau tank, tapi segera sesudah ia membentuk artileri dan kesatuan teknis yang lebih unggul daripada yang dimiliki tentara Kuomintang, ia sanggup melancarkan bukan hanya pertempuran gerak cepat (mobile warfare) tetapi juga pertempuran posisional (positional warfare). Menurut perkiraan Mao sendiri:

“[…] setiap bulan [TPR] menghancurkan rata-rata sekitar 8 brigade dari pasukan reguler Kuomintang (sama dengan delapan divisi pada masa kini).” (“Carry the Revolution through to the end”, December 30, 1948, Mao, SW, volume IV, hlm. 299)

Perubahana situasi militer ini benar-benar sukar dipercaya. TPR, yang selama bertahun-tahun kalah dalam jumlah, pada Juli-Desember 1948 akhirnya beroleh keunggulan atas pasukan Kuomintang dalam jumlah tentara. Ini adalah jumlah yang diberikan Mao pada waktu itu:

“Pada tahun pertama, 97 brigade, termasuk 46 brigade yang sama sekali dihancurkan; dalam tahun kedua, 94 brigade, termasuk 50 yang sama sekali dihancurkan; dan dalam paroh pertama tahun ketiga, menurut perhitungan yang tidak lengkap, 147 divisi, termasuk 111 divisi yang sama sekali dihancurkan. Dalam enam bulan ini, jumlah divisi musuh yang sama sekali dihancurkan adalah 15 lebih banyak dari jumlah keseluruhan dalam dua tahun sebelumnya. Front musuh secara keseluruhan runtuh sama sekali. Pasukan lawan di Timur Laut telah sepenuhnya dihancurkan, mereka yang di sebelah utara Tiongkok akan segera dihancurkan, dan di sebelah timur Tiongkok dan Dataran Tengah hanya ada beberapa pasukan musuh yang tersisa. Pemusnahan pasukan utama Kuomintang di sebelah utara Sungai Yangtse sangat memudahkan penyeberangan yang akan dilakukan oleh Tentara Pembebasan Rakyat dan perjalanannya ke selatan untuk membebaskan seluruh Tiongkok. Seiring dengan kemenangan pada front militer, rakyat Tiongkok telah mencetak kemenangan-kemenangan menakjubkan pada front politik dan front ekonomi. Karena alasan ini, opini publik dunia luar, termasuk seluruh pers imperialis, tidak lagi memperdebatkan kepastian kemenangan di seantero negeri dari Perang Pembebasan Rakyat Tiongkok.” (Carry the Revolution through to the end, December 30, 1948, Mao, SW, volume IV, p. 299)

Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai bahwa secara substansial perkiraan ini akurat. Semua sejarahwan borjuis menerima bahwa pada periode tersebut pasukan-pasukan Chiang sedang terpukul mundur dalam kondisi yang kacau-berantakan dan bahwa TPR dengan cepat kian bertambah besar dan kuat.

London, 1 Oktober 2009

Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya dari “The Chinese Revolution of 1949 – Part One”, Alan Woods, 1 Oktober 2009


http://www.militanindonesia.org/teori/sejarah/8047-revolusi-tiongkok-1.html

Kamis, 31 Desember 2009

PENUTUPAN TAHUN 2009

Menjelang penutupan tahun 2009, Bangsa Indonesia telah kehilangan Putra terbaiknya Rabu 30.12.2009 Pukul 18.45 , seorang pluralis dan multikulturalis, terus terang saya merasa kehilangan, seorang pelindung bagi kaum minoritas dan kaum marginal, saya sendiri adalah minoritas oleh karena itu saya sengat merasa kehilangan, hari ini saya melihat prosesi pemakan Gus Dur, saya sangat kaget bukan hanya dari kalangan muslim tapi juga Non muslim turut Beduka dengan kepergian Gus Dur, dari situ saya paham bahwa Ia telah meninggalkan Karya Besarnya bagi masyarakat Indonesia Yaitu Pluralistime, kerangka pluralisme inilah yang kemudian mengdekonstruktif kembali proses asimilasi menjadi sebuah kemajemukan, artinya kalau dalam proses asimilasi adanya proses pembauran minoritas terhadap mayoritas dengan adanya paksaan partial baik verbal dan non verbal, maka dengan adanya pluralistis menganggap minoritas dapat berperan dalam membangun Indonesia tanpa harus menafikan identiatas mereka, dan keberadaan mereka adalah satu kesatuan yang diakui oleh NKRI, itulah pluralistis, dan Gus Dur juga memperlihatkan Bagaimana berpikir tidak menggunakan proses linear mainstream tapi menggunkan proses sekunder yang lebih luas yang bisa dinalar oleh setiap Subjek manusia, Salah satu kata yang saya ingat dari Gus Dus ialah bahwa Tuhan tidak perlu Di Tolong, Manusia yang harus diTolong kurang lebih seperti itu
Selamat Tinggal Sang Pluralis dan Multikulturalisme Pelindung bagi Kaum Minoritas dan Marginal

Minggu, 13 Desember 2009

”Marsinah”

Jakarta, Sinar Harapan
Misteri pembunuhan Marsinah—seorang buruh pabrik PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur—tanggal 8 Mei 1993 yang sempat menghebohkan waktu itu dan pelakunya hingga kini belum terungkap diangkat ke layar lebar lewat judul Marsinah (Cry Justice). .

Film berdurasi dua jam yang disutradarai Slamet Rahardjo Djarot itu menggunakan cara bertutur kronologis lengkap dengan tanggal dan tempat kejadian, tak ubahnya seperti film dokumenter. Dibuka dengan adegan unjuk rasa buruh PT CPS, film bergulir dengan adegan penangkapan para buruh dan petinggi PT CPS oleh sejumlah oknum berbaju preman, diselang-seling adegan hitam putih yang menceritakan kilas balik saat Marsinah bersama rekan-rekannya menggerakkan buruh untuk meminta hak mereka.
Seperti yang biasa terjadi di rezim Orde Baru dulu, setiap orang yang diciduk oleh oknum-–sebagai kata ganti aparat militer—mengalami siksaan. Tiga belas orang buruh yang ditangkap, semuanya dituduh PKI, sebuah stigma yang biasa diberikan masa Orde Baru dulu untuk orang-orang yang mengikuti aksi demonstrasi yang dianggap bisa mengganggu stabilitas keamanan nasional. Tak kurang delapan petinggi PT CPS yang ditangkap tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodim Brawijaya.
Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Awalnya mereka semua mengelak terlibat, tapi akibat siksaan yang tiada henti, satu per satu akhirnya terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Mutiari yang sedang hamil muda pun, tak urung keguguran saat diinterogasi.
Menyadari istrinya hilang, suami Mutiari, Hari Sarwono mencari istrinya ke mana-mana. Mulai dari pabrik PT CPS hingga ke kantor polisi setempat. Bisa ditebak, hasilnya nihil. Dari informasi yang diperoleh dari seorang karyawan PT CPS, Hari mengetahui kalau istrinya dibawa oknum tak dikenal. Hari lalu mendatangi LBH Yayasan Persada Indonesia, Surabaya untuk mencari bantuan. Sementara itu, keluarga Hari merasa malu atas pemberitaan media mengenai pelaku pembunuhan Marsinah yang mengarah pada Mutiari dan rekan-rekannya, meminta Hari untuk menceraikan Mutiari.
Hari yang yakin istrinya tidak bersalah, menolak permintaan keluarganya dan semakin getol mencari bantuan. Tak tanggung-tanggung, Hari mendatangi SCTV Surabaya untuk menceritakan istrinya yang hilang. Di situ Hari juga mengungkapkan oknum yang terlibat dalam penangkapan istrinya, yang diduganya sebagai anggota militer. Berita seputar terbunuhnya Marsinah dan penangkapan karyawan PT CPS yang semakin gencar membuat aparat militer panik. Apalagi Hari bermaksud mempraperadilankan aparat atas penangkapan dan penahanan yang tidak sesuai prosedur.
Aparat balik menekan Mutiari dan mempercepat proses pemeriksaan, dipindahkan ke tahanan Polda Jawa Timur hingga akhirnya Mutiari dipaksa menandatangani BAP dan diajukan ke pengadilan sebagai tersangka. Karena keburu diajukan ke pengadilan, gugatan pra peradilan gugur dan sidang Mutiari digelar lebih cepat dibandingkan rekan-rekannya yang lain sebagai ”hukuman” karena suaminya bersikeras mempraperadilankan aparat.
Sisa film dipenuhi dengan adegan pengadilan Mutiari dan rekan-rekannya yang divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo, sampai mereka mengajukan banding dan kasasi ke MA yang membebaskan mereka karena tidak cukup bukti. Sementara pembunuh Marsinah yang sebenarnya tak pernah terungkap. Film diakhiri dengan adegan adik Marsinah, Marsini, yang menangis sambil menatap tumpukan majalah dan koran yang dipenuhi berita Marsinah mempertanyakan siapakah yang sebenarnya membunuh kakak kandungnya.

Dokumenter
Film yang berjudul Marsinah ini boleh dibilang telah lama ditunggu. Ada sepercik harapan untuk menyaksikan kisah perjuangan Marsinah yang menjadi bahan pembicaraan beberapa tahun lampau. Namun ternyata, Slamet Rahardjo tidak memberi porsi penuh pada Marsinah. Alih-alih, ia malah menggambarkan perjuangan Mutiari, mantan tersangka utama pembunuh Marsinah, untuk memperoleh keadilan. Tokoh Marsinah hanya muncul dalam cerita kilas balik yang digambarkan hitam-putih.
Penonton tidak diberi pengantar yang cukup untuk mengetahui sosok Marsinah dan apa yang membuatnya sampai tewas terbunuh, sehingga kematiannya memang perlu dijadikan bahan renungan. Penonton hanya disuguhi adegan Marsinah terbunuh, divisum dan dikuburkan hingga sempat dibongkar lagi untuk diperiksa ulang. Mengingat kurun waktu yang cukup lama dari peristiwa yang terjadi hampir 10 tahun lampau, kata pengantar agaknya diperlukan, apalagi bagi penonton yang ketika itu belum mengikuti peristiwa tersebut sehingga harus meraba-raba peristiwa yang terjadi.
Yang patut dipuji adalah keberanian sang sutradara mengungkap oknum alias aparat yang terlibat. Tanpa menyebut nama, sutradara cukup jelas memberikan gambaran siapa pihak yang berwenang saat itu. Selain itu, akting dan wajah para pemain yang notabene pemain baru, juga cukup lumayan. Sayangnya, hingga akhir film usai pertanyaan besar mengenai perjuangan Marsinah tak pernah terungkap.

Simbol Perjuangan
Disinggung mengenai peran Mutiari yang lebih dominan dalam film ini dibandingkan Marsinah, Slamet Rahardjo mengatakan dirinya memang sengaja ingin menjadikan Marsinah sebagai idiom bahwa Marsinah adalah identik dengan semangat kebebasan, keadilan serta sendi-sendi kehidupan yang saat itu tiba-tiba menjadi beku.
”Marsinah bukan lagi nama gadis desa atau pejuang buruh tetapi telah menjadi idiom permasalahan kita semua. Kebesaran nama Marsinah tidak perlu diungkapkan oleh dirinya sendiri tapi bisa lewat orang lain yaitu Mutiari. Angle yang ingin saya angkat adalah seperti itu dan bukan membuat film biografi,” tandas Slamet usai pemutaran film perdana Marsinah (Cry Justice) di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Rabu malam lalu (3/4).
Kesan film ini terkesan berat sebelah karena kurang mengungkapkan informasi dari sisi aparat keamanan, juga dibantah Slamet. Menurutnya ia sudah berusaha mengungkap apa adanya sesuai data yang timnya peroleh, sementara pihak militer seperti yang terungkap dalam persidangan selalu membantah telah melakukan kesewenang-wenangan.
”Ini adalah film nonfiksi, dialognya dan jalan ceritanya nggak boleh ngarang. Saya memang sengaja tidak menyinggung orang terlalu berat dalam film ini, tapi ada indikasi jika saat itu terjadi komando tunggal,” sahut Slamet yang mengaku tidak takut dan tidak pernah mendapat tekanan selama pembuatan film ini. Apalagi sebelum pembuatan film ini, bersama PT Gedam Sinemuda Perkasa yang memproduksi film ini, dia sudah sowan ke berbagai pejabat militer.
Sesuai jadwal semula, film yang telah dinyatakan lulus sensor ini akan mulai ditayangkan di jaringan Bioskop 21 Jakarta mulai tanggal 18 April mendatang. Setelah itu, Marsinah akan preview dan diputar di kota-kota besar lainnya seperti Surabaya.
Soal pembuatan film yang cukup lama hingga 2 tahun, tak lain karena masalah dana yang terbatas. ”Maklum saja kami kerja tanpa sponsor,” cetus produser Gusti Randa yang mengaku belum memiliki target jumlah penonton film ini. (din)
SUMBER: www.sinarharapan.co.id/berita/0204/05/hib01/html

Kamis, 26 November 2009

Homogenic performs again in Singapore

Sun, 08/30/2009 11:55 AM | Music

Some people say "the first cut is the deepest". Well, Homogenic proved that.

In our local electronic scene, Homogenic is a well-known band. They've been around since 2003, producing rare combinations of electronic music.

If you imagine that electronic music only consists of random beats and sketches from machines, then you're wrong. This band adds angelic voices to those components, making them a rare item in the scene.

Courtesy of FFWD Records

Courtesy of FFWD Records

Homogenic has already released two, Epic Symphony (2003) and Echoes of the Universe (2007). Their third album Let Thousand Flowers Bloom is on its way to being released soon.

All of their records have been released by FFWD Records, a leading name in our independent scene. The Bandung-based label has proven itself in their all-out effort to spread the word about their releases, even outside Indonesia.

The label has also taken Homogenic abroad. In May, they made their first international tour, playing an All-Indonesia series called Rockin' the Region: Indonesia, at Singapore's finest art complex, Esplanade-Theater on Bay.

They did very well in that series. A few days ago, they just did their second show at the same venue, playing on a bigger stage, the Baybeats Festival 2009.

"Homogenic had earlier performed for our On the Waterfront series for a program called Rockin' The Region: Indonesia and were very well-received," says Esther Masada, programming officer from The Esplanade, explaining why she chose to invite the band back.

And, of course, they made a good impression. They added to a list of Indonesian acts that have played at the festival in previous years. This list includes Everybody Loves Irene, Elemental Gaze and Rock N' Roll Mafia.

"We felt that they could benefit from more exposure as a band by playing on a larger festival platform such as Baybeats. The band plays a very interesting style of electronic music," Esther said.

Their long career has made them easy targets for good gigs like this.

"We didn't make such a big difference in our performance. We played the same songs for this gig; all of them are also played in our regular gigs in Indonesia," says Deena Dellyana, the band's main songwriter and synth player.

"Actually, the biggest concern was our outfit. We did a special arrangement for this gig because we had to impress the local audience who had probably never seen us before," she adds.

Besides Deena, the other members of the band are Risa Saraswati (vocals) and Grahadea Kusuf (programming).

You can have sneak peak of their materials at www.homogenicworld.com and If they are around, go and check them out.

- Felix Dass

Sumber:

http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/30/homogenic-performs-again-singapore.html


Senin, 23 November 2009

Runtuhnya Tembok berlin: 20 Tahun Kemudian

Runtuhnya Tembok Berlin: 20 tahun kemudian Cetak E-mail
Ditulis oleh Alan Woods
Senin, 09 November 2009 03:47

Tahun 2009 adalah sebuah tahun yang dipenuhi dengan banyak hari peringatan, termasuk hari peringatan pembunuhan Luxemburg dan Liebknecht, dibentuknya Komunis Internasional, dan Komune Austria. Tidak satupun dari peringatan-peringatan ini yang menemukan gaungnya di pers kapitalis. Tetapi ada satu hari peringatan yang tidak pernah mereka lupakan: pada tanggal 9 November 1989, perbatasan yang memisahkan Jerman Barat dan Timur dibuka.

Runtuhnya Tembok Berlin di dalam sejarah telah menjadi sebuah sinonim untuk runtuhnya “komunisme”. Dalam 20 tahun semenjak peristiwa besar ini, kita telah menyaksikan sebuah ofensif ideologi yang luar biasa besar untuk melawan ide-ide Marxisme dalam skala dunia. Peristiwa ini dijunjung tinggi sebagai bukti matinya Komunisme, Sosialisme, dan Marxisme. Tidak lama yang lalu, ini bahkan dianggap sebagai akhir sejarah. Tetapi semenjak itu roda sejarah telah berputar berkali-kali.

Argumen bahwa sistem kapitalisme adalah satu-satunya alternatif untuk kemanusiaan telah terbukti hampa. Kebenaran yang ada sangatlah berbeda. Pada 20 tahun peringatan runtuhnya Stalinisme, kapitalisme mengalami krisis yang paling dalam semenjak Depresi Hebat. Jutaan rakyat dihadapi dengan masa depan yang dipenuhi dengan pengangguran, kemiskinan, pemotongan anggaran sosial, dan penghematan.

Selama periode ini kampanye anti-komunis ditingkatkan. Alasannya tidaklah sulit untuk dipahami. Krisis kapitalisme yang mendunia ini telah menyebabkan rakyat secara umum mempertanyakan “ekonomi pasar”. Ada kebangkitan rasa ketertarikan pada Marxisme, yang mengkuatirkan kaum borjuis. Kampanye fitnah yang baru ini adalah sebuah refleksi ketakutan mereka.

Karikatur Sosialisme

Yang gagal di Rusia dan Eropa Timur bukanlah komunisme atau sosialisme seperti yang dimengerti oleh Marx dan Lenin, tetapi sebuah karikatur birokratisme dan totalitarianisme. Lenin menjelaskan bahwa gerakan menuju sosialisme membutuhkan kontrol demokratis terhadap industri, masyarakat, dan negara oleh kaum proletar. Sosialisme yang sejati tidaklah kompatibel dengan kekuasaan elit birokrasi yang memiliki hak-hak istimewa, yang niscaya akan ditemani dengan korupsi yang besar, nepotisme, manajemen yang penuh pemborosan, dan kembalinya kapitalisme.

Pada tahun 1980an, Uni Soviet memiliki lebih banyak ilmuwan daripada jumlah seluruh ilmuwan di AS, Jepang, Inggris, dan Jerman; akan tetapi USSR tetap tidak dapat mencapai hasil yang sama seperti di Barat. Dalam aspek-aspek penting seperti produktivitas dan standar hidup, Uni Soviet tertinggal di belakang negara-negara Barat. Sebab utamanya adalah beban yang teramat besar terhadap ekonomi Soviet yang disebabkan oleh kaum birokrasi – jutaan birokrat yang tamak dan korup yang menjalankan Uni Soviet tanpa kontrol dari kelas pekerja.

Kekuasaan birokrasi yang mencekik ini akhirnya menyebabkan penurunan tajam tingkat pertumbuhan USSR. Sebagai akibatnya, Uni Soviet tertinggal di belakang negara-negara Barat. Biaya untuk mempertahankan pengeluaran militer yang tinggi dan biaya untuk mempertahankan kekuasaannya di Eropa Timur semakin menekan ekonomi Soviet. Munculnya seorang pemimpin Soviet yang baru, Mikhail Gorbachev, pada tahun 1985 menandai sebuah perubahan yang besar.

Gorbachev mewakili sayap birokrasi Soviet yang ingin mengadakan reformasi dari atas guna mempertahankan rejim tersebut secara keseluruhan. Akan tetapi, situasi di Uni Soviet menjadi lebih parah di bawah Gorbachev. Ini niscaya menyebabkan sebuah krisis, yang segera mempengaruhi Eropa Timur, dimana krisis Stalinisme diperparah oleh masalah kebangsaan.

Gejolak di Eropa Timur

Pada tahun 1989, dari satu ibukota ke ibukota yang lain, sebuah gelombang pemberontakan menyebar, menjatuhkan satu persatu rejim-rejim Stalinis. Di Rumania, Ceausescu [Sekjen Partai Komunis Polandia dan Presiden Polandia sampai tahun 1989 – Ed.] ditumbangkan oleh sebuah revolusi dan dieksekusi oleh skuad penembak mati. Satu faktor kunci dalam kesuksesan pemberontakan popular ini adalah krisis di Rusia. Di masa lalu, Moskow mengirim Tentara Merah untuk meremukkan pemberontakan-pemberontakan di Jerman Timur (1953), Hungaria (1956), dan Cekoslovakia (1968). Tetapi Gorbachev paham bahwa pilihan ini sudah tidak mungkin lagi.

Pemogokan-pemogokan massa di Polandia pada paruh pertama 1980an adalah sebuah ekspresi awal dari kebuntuan rejim tersebut. Bila gerakan yang besar ini dipimpin oleh kaum Marxis sejati, ini dapat mempersiapkan sebuah dasar untuk revolusi politik, bukan hanya di Polandia tetapi di seluruh Eropa Timur. Tetapi dengan absennya kepemimpinan seperti itu, maka gerakan ini dibajak oleh elemen-elemen konter-revolusioner seperti Lech Walesa.

Awalnya, kaum Stalinis Polandia mencoba untuk menghentikan gerakan ini dengan represi, tetapi pada akhirnya Solidaritas [Serikat Buruh Independen Polandia – Ed.] mendapatkan status legal dan diijinkan untuk berpartisipasi di pemilu tanggal 4 Juni 1989. Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah gempa politik. Kandidat-kandidat Solidaritas memenangi semua kursi yang mereka ikuti. Ini memiliki sebuah pengaruh yang besar pada negara-negara tetangga.

Di Hungaria, Janos Kadar – untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi – telah disingkirkan dari posisi Sekjen Partai Komunis pada tahun 1988, dan rejim ini telah mengadopsi sebuah “paket demokrasi”, termasuk pengadaan pemilu. Cekoslovakia segera terpengaruh dan pada tanggal 20 November 1989 jumlah demonstran yang berkumpul di Prague meningkat dari 200 ribu ke 500 ribu. Sebuah mogok umum 2-jam diluncurkan pada tanggal 27 November.

Peristiwa-peristiwa dramatis ini menandai sebuah titik-tolak besar di dalam sejarah. Selama hampir setengah abad setelah Perang Dunia Kedua kaum Stalinis telah memerintah Eropa Timur dengan tangan besi. Rejim-rejim di Eropa Timur adalah negara-negara satu-partai yang kejam, yang didukung oleh aparatus represi yang kuat, dengan tentara, polisi, agen polisi rahasia, dan mata-mata di setiap blok perumahan, sekolah, universitas, dan pabrik. Tampaknya hampir tidak mungkin pemberontakan popular bisa menang melawan kekuasaan sebuah negara totaliter dan polisi-polisi rahasianya. Tetapi pada momen yang menentukan rejim-rejim yang tampak tak terkalahkan ini ternyata hanyalah raksasa dengan kaki dari tanah liat.

Jerman Timur

Dari semua rejim di Eropa Timur, Republik Demokratik Jerman (GDR) adalah salah satu yang paling maju industri dan teknologinya. Standar hidup disana tinggi, walaupun tidak setinggi Jerman Barat. Tidak ada pengangguran, dan semua orang memiliki akses ke perumahan murah, kesehatan gratis, dan pendidikan yang berstandar tinggi.

Akan tetapi kekuasaan dari negara satu-partai yang totaliter, dengan polisi rahasianya (atau yang dikenal dengan nama Stasi) yang ada dimana-mana dan mata-matanya, korupsi para pejabat, dan kekayaan para elit, adalah sumber ketidakpuasan. Sebelum dibangunnya Tembok Berlin pada tahun 1961, sekitar 2.5 juta penduduk Jerman Timur beremigrasi ke Jerman Barat, banyak yang melalui perbatasan antara Berlin Timur dan Barat. Untuk menghentikan ini, rejim Jerman Timur membangun Tembok Berlin.

Tembok ini dan pembatas-pembatas lainnya sepanjang 1380 kilometer perbatasan yang memisahkan Berlin Barat dan Timur berhasil memangkas emigrasi tersebut. Tindakan ini mungkin membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di GDR. Tetapi ini menyebabkan penderitaan dan kesukaran bagi keluarga-keluarga yang terpisahkan dan ini adalah sebuah hadiah propaganda untuk negara kapitalis Barat, yang memberikan satu lagi contoh “tirani Komunis”.

Pada akhir 1980an situasi di GDR penuh dengan gejolak. Kaum Stalinis tua Erich Honecker [Sekjen Partai Komunis Jerman Timur] menentang dengan keras segala bentuk reformasi. Rejim dia bahkan melarang peredaran publikasi-publikasi “subversif” dari Uni Soviet. Pada tanggal 6 dan 7 Oktober, Gorbachev mengunjungi Jerman Timur dalam rangka ulang tahun Republik Demokratik Jerman yang ke 40, dan dia memberikan tekanan kepada kepemimpinan Jerman Timur untuk melakukan reformasi. Dia dikutip mengatakan: “Wer zu spät kommt, den bestraft das Leben” (Dia yang terlalu telat akan dihukum oleh hidup).

Sementara itu rakyat Jerman Timur sudah menjadi lebih memberontak secara terbuka. Gerakan-gerakan oposisi mulai berjamuran. Ini termasuk Neues Forum (Forum Baru), Demokratischer Aufbruch (Kebangkitan Demokrasi), dan Demokratie Jetzt (Demokrasi Sekarang). Gerakan oposisi terbesar terbentuk melalui sebuah pelayanan gereja Protestan di Leipzig di gereja Nikolaikirche, bahasa Jerman untuk gereja Santo Nicholas, dimana setiap Senin setelah pelayanan penduduk berkumpul di luar menuntut perubahan di Jerman Timur. Akan tetapi, gerakan-gerakan ini tidak punya arah dan naif secara politik.

Sebuah gelombang demonstrasi massa sekarang menyapu seluruh kota-kota Jerman Timur, terutama sangat kuat di Leipzig. Ratusan ribu rakyat bergabung di demo-demo ini. Rejim ini memasuki krisis yang menyebabkan tersingkirnya pemimpin Stalinis garis-keras, Erick Honecker, dan mundurnya seluruh kabinet. Di bawah tekanan gerakan massa, pemimpin partai yang baru, Egon Krenz, menyerukan pemilu yang demokratis. Tetapi reformasi-reformasi yang diusulkan oleh rejim ini terlalu kecil dan terlalu terlambat.

Para pemimpin “komunis” ini mempertimbangkan untuk menggunakan kekerasan tetapi merubah pikiran mereka (dengan sedikit desakan dari Gorbachev). Situasi sekarang berputar di luar kendali. Hari-hari selanjutnya hampir seperti anarki: toko-toko buka sepanjang hari, paspor GDR menjadi tiket gratis untuk transportasi publik. Dalam kalimat seorang pengamat: “secara umum tidak ada peraturan pada saat itu”. Kekuasaan ada di jalanan, tetapi tidak ada yang memungutnya.

Dihadapi dengan pemberontakan massa, negara Jerman Timur yang tampak kuat ini runtuh begitu saja. Pada tanggal 9 November 1989, setelah beberapa minggu gejolak massa, pemerintahan Jerman Timur mengumumkan bahwa seluruh penduduk GDR dapat mengunjungi Jerman Barat dan Berlin Barat. Ini adalah sinyal untuk sebuah ledakan massa yang baru. Secara spontan, kerumunan rakyat Jerman Timur memanjati Tembok Berlin untuk menemui rakyat Jerman Barat di seberang.

Konter Revolusi

Tembok Berlin adalah sebuah simbol dan titik utama dari semua yang dibenci di rejim Jerman Timur. Pembongkaran Tembok ini dimulai cukup spontan. Selama beberapa minggu kemudian, beberapa bagian dari Tembok ini mulai dihancurkan. Kemudian mesin-mesin industri digunakan untuk merobohkan seluruh tembok yang tersisa. Ada atmosfer perayaan, sebuah perasaan sukacita, yang tampak lebih seperti sebuah karnival daripada sebuah revolusi. Tetapi ini benar untuk semua tahap awal dari setiap revolusi yang megah, seperti halnya revolusi 1789.

Pada bulan November 1989, penduduk GDR dipenuhi dengan perasaan emosional – sebuah perasaan pembebasan, dipenuhi dengan perasaan sukacita secara umum. Seperti seluruh bangsa mengalami kemabukan, dan oleh karena itu rentan terhadap saran-saran dan impuls-impuls spontan. Menumbangkan rejim yang lama ini ternyata lebih mudah daripada yang diperkirakan oleh semua orang. Tetapi, setelah menumbangkan rejim ini, apa yang akan menggantikannya. Rakyat yang telah menumbangkan rejim lama ini mengetahui dengan pasti apa yang tidak mereka inginkan, tetapi mereka tidak mengetahui dengan jelas apa yang mereka inginkan, dan tidak ada seorangpun yang menawarkan sebuah jalan keluar.

Semua kondisi objektif untuk sebuah revolusi politik sekarang tersedia. Mayoritas populasi tidak menginginkan restorasi kapitalisme. Mereka menginginkan sosialisme, tetapi dengan hak-hak demokrasi, tanpa Stasi, tanpa birokrat-birokrat yang korup, dan tanpa sebuah negara satu-partai yang diktatorial. Bila sebuah kepemimpinan Marxis yang sejati ada pada saat itu, sebuah revolusi politik sudah pasti akan terjadi dan demokrasi buruh akan terbentuk.

Akan tetapi, jatuhnya Tembok Berlin tidak menghasilkan sebuah revolusi politik tetapi konter-revolusi dalam bentuk unifikasi dengan Jerman Barat. Tuntutan ini (unifikasi dengan Jerman Barat) bukanlah tuntutan utama pada awal demonstrasi. Tetapi tanpa adanya sebuah program yang jelas, tuntutan ini dikedepankan dan perlahan-lahan menempati peran utama.

Kebanyakan pemimpin oposisi tidak memiliki program, kebijakan, atau perspektif yang jelas, selain sebuah harapan untuk demokrasi dan hak sipil. Seperti halnya alam, politik membenci vakum. Keberadaan sebuah negara kapitalis yang kuat dan kaya di seberang oleh karena itu memainkan sebuah peran yang menentukan untuk mengisi vakum ini.

Kanselir Jerman Barat Helmut Kohl adalah seorang wakil imperialisme yang agresif. Dia menggunakan penyuapan yang paling tidak tahu malu untuk membujuk rakyat Jerman Timur untuk setuju dengan unifikasi segera, dengan menawarkan menukarkan mata uang Ostmark dengan Deutschmark dengan nilai tukar satu-untuk-satu. Tetapi yang Kohl tidak katakan kepada rakyat Jerman Timur adalah bahwa unifikasi tidak berarti mereka akan menikmati standar hidup Jerman Barat.

Pada bulan Juli 1990, halangan terakhir untuk unifikasi Jerman tersingkirkan ketika Gorbachev setuju untuk menjatuhkan keberatan Uni Soviet terhadap unifikasi Jerman di bawah NATO, sebagai imbalannya adalah bantuan ekonomi yang cukup bear dari Jerman kepada Uni Soviet. Unifikasi Jerman secara formal selesai pada tanggal 3 Oktober 1990.

Rakyat Tertipu

Rakyat Jerman Timur telah tertipu. Mereka tidak diberitahu bahwa introduksi ekonomi pasar akan berarti pengangguran besar-besaran, penutupan pabrik, dan penghancuran hampir seluruh basis industri di GDR, atau peningkatan harga barang, dan demoralisasi kaum muda, atau bahwa mereka akan dianggap sebagai penduduk kelas-dua di negara mereka sendiri. Mereka tidak diberitahukan hal-hal tersebut tetapi mereka telah mengetahuinya dari pengalaman pahit.

Reunifikasi Jerman menyebabkan anjloknya PDB per kapita Jerman Timur, 15.6% pada tahun 1990 dan 22.7% pada tahun 1991, total sepertiga penurunan PDB. Jutaan lapangan pekerjaan hilang. Banyak pabrik-pabrik Jerman Timur yang dibeli oleh kompetitor Barat dan ditutup. Dari tahun 1992, Jerman Timur mengalamai 4 tahun pemulihan ekonomi, tetapi ini diikuti dengan stagnasi.

Sebelum Perang Dunia Kedua, PDB per kapita Jerman bagian timur sedikit lebih tinggi dari rata-rata Jerman, dan Jerman bagian timur pada saat itu lebih kaya dari negara-negara Eropa Timur lainnya. Tetapi 20 tahun setelah unifikasi, standar hidup Jerman Timur masih tertinggal di belakang Jerman Barat. Tingkat pengangguran 2 kali lipat lebih tinggi daripada Jerman Barat, dan upah jauh lebih rendah.

Di GDR tidak ada pengganguran. Tetapi dari tahun 1989-1992 lapangan kerja menurun 3.3 juta. PDB Jerman Timur tidak pernah meningkat lebih dari tingkat PDB tahun 1989, dan lapangan kerja hanya sekitar 60% dari level 1989. Sekarang, tingkat pengangguran di Jerman secara keseluruhan adalah sekitar 8%, tetapi di Jerman Timur sebesar 12.3%. Akan tetapi, perkiraan tidak-resmi memberikan figur setinggi 20%, dan di antara kaum muda 50%.

Perempuan, yang telah mendapatkan persamaan yang tinggi di GDR, seperti di negara-negara Eropa Timur lainnya, sekarang paling menderita. Data dari Panel Sosio-Ekonomi Jerman untuk pertengahan tahun 1990an menemukan bahwa 15 persen perempuan Jerman Timur dan 10 persen laki-laki menggangur.

Pada bulan Juli 1990, “kanselir persatuan”, Helmut Kohl, menjanjikan: “Dengan usaha bersama kita akan segera merubah [daerah Jerman Timur] Mecklenburg-Vorpommern dan Saxony-Anhalt, Brandenburg, Saxony dan Thuringia menjadi daerah yang sejahtera.” 15 tahun kemudian, sebuah laporan dari BBC mengakui bahwa “statistik sangatlah suram.” Walaupun kapital sebesar 1.25 trillion Euro telah diinjeksi, tingkat pengganguran di Jerman Timur masih 18.5% pada tahun 2005 (sebelum resesi sekarang ini) dan di banyak daerah tingkat pengangguran lebih dari 25%.

Halle di Saxony-Anhalt, yang dulunya adalah sebuah pusat industri kimia yang penting dengan lebih dari 315.000 orang, telah kehilangan hampir 1/5 penduduknya. Sebelum Tembok Berlin jatuh pada tahun 1989, “segitiga kimia” Leuna-Halle-Bitterfield menyediakan 100 ribu pekerjaan – sekarang hanya 10,000 yang tertinggal. Gera dulu memiliki industri tekstil dan pertahanan yang besar, dan beberapa pertambangan uranium. Mereka telah hilang, dan hal-hal yang serupa terjadi di banyak industri-industri milik negara sejak 1989.

PBD per kapita Jerman Timur meningkat dari 49% PDB barat pada tahun 1991 hingga 66% pada tahun 1995, dan semenjak itu tidak ada peningkatan lagi. Ekonomi tumbuh sekitar 5,5% per tahun, tetapi ini tidak menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Sebagai akibatnya banyak penduduk yang meninggalkan Jerman Timur. Semenjak unifikasi sekitar 1,4 juta orang telah pindah ke Barat, kebanyakan dari mereka masih muda dan berpendidikan tinggi. Emigrasi dan penurunan tajam kesuburan telah menyebabkan jumlah populasi Timur menurun setiap tahun semenjak unifikasi.

Adalah sebuah ironi sejarah bahwa 20 tahun setelah unifikasi orang-orang meninggalkan Jerman Timur, bukan untuk lari dari Stasi, tetapi untuk lari dari tingkat pengganguran yang tinggi. Tentu saja beberapa orang hidupnya sangat baik. Laporan BBC mengatakan: “Rumah-rumah borjuasi yang megah, yang dulu dipenuhi lubang-lubang peluru dari Perang Dunia Kedua sampai tahun 1989, telah dikembalikan ke kemegahan mereka yang dulu.”

Marxisme Bangkit Kembali

Seperti banyak orang Jerman Timur lainnya, Ralf Wulff mengatakan bahwa dia gembira dengan jatuhnya Tembok Berlin dan gembira melihat kapitalisme menggantikan komunisme. Tetapi kesukacitaan ini tidak bertahan lama. “Hanya butuh beberapa minggu saja untuk melihat apa sesungguhnya ekonomi pasar bebas ini,” kata Wulff. “Ini adalah materialisme dan eksploitasi besar-besaran. Manusia kehilangan arah. Kita tidak memiliki kenyamanan materi tetapi komunisme memiliki banyak hal.” (Laporan Reuters)

Hans-Juergen Schneider, seorang insinyur berumur 49 telah menggangur semenjak Januari 2004. Dia telah mengirim 286 lamaran kerja semenjak itu, tanpa sukses. “Ekonomi pasar tidak dapat menyelesaikan masalah kami,” katanya, “bisnis besar hanya meraup untung tanpa mengambil tanggungjawab.” Dia tidak sendirian. Sebuah survey oleh Der Spiegel menyatakan bahwa 73% rakyat Jerman Timur percaya bahwa kritik Karl Marx terhadap kapitalisme masihlah valid.

Survey lainnya yang dipublikasikan pada bulan Oktober 2008 di majalah Super Illus menyatakan bahwa 52% orang di Jerman Timur menganggap ekonomi pasar “tidak berguna” dan “tidak dapat berfungsi”. 43% memilih sistem ekonomi sosialis, karena “sistem ini melindungi orang-orang kecil dari krisis finansial dan ketidakadilan lainnya”. 55% menolak bailout bank oleh negara.

Dari orang-orang muda (18 sampai 29 tahun), yang tidak pernah tinggal di GDR, atau hanya sebentar saja, 51% menginginkan sosialisme. Angka untuk orang berumur 30 sampai 49 tahun adalah 35%. Tetapi untuk mereka yang lebih dari 50 tahun adalah 46%. Penemuan ini dikonfirmasikan di wawancara-wawancara dengan puluhan rakyat Jerman Timur. “Kita membaca mengenai ‘horor kapitalisme’ di sekolah. Mereka benar. Karl Marx sungguh benar,” kata Thomas Pivitt, seorang pekerja IT berumur 46 dari Berlin Timur. Das Kapital laku terjual untuk penerbit Karl-Dietz-Verlag, terjual lebih dari 1.500 kopi pada tahun 2008, tiga kali lipat dari tahun 2007, dan 100 kali lipat semenjak 1990.

“Semua orang berpikir bahwa tidak akan ada lagi permintaan untuk Das Kapital,” kata direktur manajemen Joern Schuetrumpf kepada Reuters. “Bahkan para bankir dan manejer sekarang membaca Das Kapital untuk mencoba memahami apa yang terjadi. Marx sekarang popular,” katanya.

Krisis kapitalisme telah meyakinkan banyak rakyat Jerman, baik Timur maupun Barat, bahwa sistem ini telah gagal. “Saya dulu mengira komunisme adalah buruh, tetapi kapitalisme bahkan lebih parah,” kata Hermann Haibel, tukang besi berumur 76 yang sudah pensiun. “Pasar bebas sungguhlah brutal. Kaum kapitalis ingin memeras keuntungan lebih, lebih, dan lebih,” katanya. “Saya memiliki kehidupan yang baik sebelum Tembok runtuh,” dia menambahkan. “Tidak ada yang kawatir mengenai uang karena uang tidaklah penting. Kau memiliki pekerjaan bahkan jika kau tidak menginginkannya. Ide komunis tidaklah buruk.”

“Saya pikir kapitalisme bukanlah sistem yang tepat bagi kita,” kata Monika Weber, seorang pegawai kota berumur 46. “Distribusi kekayaan tidaklah adil. Kita melihat itu sekarang. Orang kecil seperti saya harus membayar mahal untuk kekacauan finansial ini dengan pajak yang lebih tinggi karena para bankir yang tamak.”

Yang lebih penting dari survey-survey ini adalah hasil pemilu Jerman baru-baru ini. Partai Kiri meraih kemajuan yang penting, mendapatkan hampir 30% suara di Timur. Di Timur sekarang tidak ada mayoritas untuk partai-partai borjuis. Apa yang jelas ditunjukkan disini adalah bahwa rakyat Jerman Timur tidak menginginkan kapitalisme, tetapi menginginkan sosialisme – bukan karikatur birokratik totaliter dari sosialisme yang mereka miliki sebelumnya, tetapi sebuah sosialisme demokratis yang sejati – sosialismenya Marx, Engels, Liebknecht, dan Luxemburg.

London, 19 Oktober, 2009

Diterjemahkan oleh Ted Sprague dari “The fall of the Berlin Wall: 20 years later”, Alan
Sumber:
Woods.http://www.militanindonesia.org/teori/sejarah/8023-tembok-berlin-20tahun.html


Runtuhnya Tembok berlin: 20 Tahun Kemudian

Runtuhnya Tembok Berlin: 20 tahun kemudian Cetak E-mail
Ditulis oleh Alan Woods
Senin, 09 November 2009 03:47

Tahun 2009 adalah sebuah tahun yang dipenuhi dengan banyak hari peringatan, termasuk hari peringatan pembunuhan Luxemburg dan Liebknecht, dibentuknya Komunis Internasional, dan Komune Austria. Tidak satupun dari peringatan-peringatan ini yang menemukan gaungnya di pers kapitalis. Tetapi ada satu hari peringatan yang tidak pernah mereka lupakan: pada tanggal 9 November 1989, perbatasan yang memisahkan Jerman Barat dan Timur dibuka.

Runtuhnya Tembok Berlin di dalam sejarah telah menjadi sebuah sinonim untuk runtuhnya “komunisme”. Dalam 20 tahun semenjak peristiwa besar ini, kita telah menyaksikan sebuah ofensif ideologi yang luar biasa besar untuk melawan ide-ide Marxisme dalam skala dunia. Peristiwa ini dijunjung tinggi sebagai bukti matinya Komunisme, Sosialisme, dan Marxisme. Tidak lama yang lalu, ini bahkan dianggap sebagai akhir sejarah. Tetapi semenjak itu roda sejarah telah berputar berkali-kali.

Argumen bahwa sistem kapitalisme adalah satu-satunya alternatif untuk kemanusiaan telah terbukti hampa. Kebenaran yang ada sangatlah berbeda. Pada 20 tahun peringatan runtuhnya Stalinisme, kapitalisme mengalami krisis yang paling dalam semenjak Depresi Hebat. Jutaan rakyat dihadapi dengan masa depan yang dipenuhi dengan pengangguran, kemiskinan, pemotongan anggaran sosial, dan penghematan.

Selama periode ini kampanye anti-komunis ditingkatkan. Alasannya tidaklah sulit untuk dipahami. Krisis kapitalisme yang mendunia ini telah menyebabkan rakyat secara umum mempertanyakan “ekonomi pasar”. Ada kebangkitan rasa ketertarikan pada Marxisme, yang mengkuatirkan kaum borjuis. Kampanye fitnah yang baru ini adalah sebuah refleksi ketakutan mereka.

Karikatur Sosialisme

Yang gagal di Rusia dan Eropa Timur bukanlah komunisme atau sosialisme seperti yang dimengerti oleh Marx dan Lenin, tetapi sebuah karikatur birokratisme dan totalitarianisme. Lenin menjelaskan bahwa gerakan menuju sosialisme membutuhkan kontrol demokratis terhadap industri, masyarakat, dan negara oleh kaum proletar. Sosialisme yang sejati tidaklah kompatibel dengan kekuasaan elit birokrasi yang memiliki hak-hak istimewa, yang niscaya akan ditemani dengan korupsi yang besar, nepotisme, manajemen yang penuh pemborosan, dan kembalinya kapitalisme.

Pada tahun 1980an, Uni Soviet memiliki lebih banyak ilmuwan daripada jumlah seluruh ilmuwan di AS, Jepang, Inggris, dan Jerman; akan tetapi USSR tetap tidak dapat mencapai hasil yang sama seperti di Barat. Dalam aspek-aspek penting seperti produktivitas dan standar hidup, Uni Soviet tertinggal di belakang negara-negara Barat. Sebab utamanya adalah beban yang teramat besar terhadap ekonomi Soviet yang disebabkan oleh kaum birokrasi – jutaan birokrat yang tamak dan korup yang menjalankan Uni Soviet tanpa kontrol dari kelas pekerja.

Kekuasaan birokrasi yang mencekik ini akhirnya menyebabkan penurunan tajam tingkat pertumbuhan USSR. Sebagai akibatnya, Uni Soviet tertinggal di belakang negara-negara Barat. Biaya untuk mempertahankan pengeluaran militer yang tinggi dan biaya untuk mempertahankan kekuasaannya di Eropa Timur semakin menekan ekonomi Soviet. Munculnya seorang pemimpin Soviet yang baru, Mikhail Gorbachev, pada tahun 1985 menandai sebuah perubahan yang besar.

Gorbachev mewakili sayap birokrasi Soviet yang ingin mengadakan reformasi dari atas guna mempertahankan rejim tersebut secara keseluruhan. Akan tetapi, situasi di Uni Soviet menjadi lebih parah di bawah Gorbachev. Ini niscaya menyebabkan sebuah krisis, yang segera mempengaruhi Eropa Timur, dimana krisis Stalinisme diperparah oleh masalah kebangsaan.

Gejolak di Eropa Timur

Pada tahun 1989, dari satu ibukota ke ibukota yang lain, sebuah gelombang pemberontakan menyebar, menjatuhkan satu persatu rejim-rejim Stalinis. Di Rumania, Ceausescu [Sekjen Partai Komunis Polandia dan Presiden Polandia sampai tahun 1989 – Ed.] ditumbangkan oleh sebuah revolusi dan dieksekusi oleh skuad penembak mati. Satu faktor kunci dalam kesuksesan pemberontakan popular ini adalah krisis di Rusia. Di masa lalu, Moskow mengirim Tentara Merah untuk meremukkan pemberontakan-pemberontakan di Jerman Timur (1953), Hungaria (1956), dan Cekoslovakia (1968). Tetapi Gorbachev paham bahwa pilihan ini sudah tidak mungkin lagi.

Pemogokan-pemogokan massa di Polandia pada paruh pertama 1980an adalah sebuah ekspresi awal dari kebuntuan rejim tersebut. Bila gerakan yang besar ini dipimpin oleh kaum Marxis sejati, ini dapat mempersiapkan sebuah dasar untuk revolusi politik, bukan hanya di Polandia tetapi di seluruh Eropa Timur. Tetapi dengan absennya kepemimpinan seperti itu, maka gerakan ini dibajak oleh elemen-elemen konter-revolusioner seperti Lech Walesa.

Awalnya, kaum Stalinis Polandia mencoba untuk menghentikan gerakan ini dengan represi, tetapi pada akhirnya Solidaritas [Serikat Buruh Independen Polandia – Ed.] mendapatkan status legal dan diijinkan untuk berpartisipasi di pemilu tanggal 4 Juni 1989. Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah gempa politik. Kandidat-kandidat Solidaritas memenangi semua kursi yang mereka ikuti. Ini memiliki sebuah pengaruh yang besar pada negara-negara tetangga.

Di Hungaria, Janos Kadar – untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi – telah disingkirkan dari posisi Sekjen Partai Komunis pada tahun 1988, dan rejim ini telah mengadopsi sebuah “paket demokrasi”, termasuk pengadaan pemilu. Cekoslovakia segera terpengaruh dan pada tanggal 20 November 1989 jumlah demonstran yang berkumpul di Prague meningkat dari 200 ribu ke 500 ribu. Sebuah mogok umum 2-jam diluncurkan pada tanggal 27 November.

Peristiwa-peristiwa dramatis ini menandai sebuah titik-tolak besar di dalam sejarah. Selama hampir setengah abad setelah Perang Dunia Kedua kaum Stalinis telah memerintah Eropa Timur dengan tangan besi. Rejim-rejim di Eropa Timur adalah negara-negara satu-partai yang kejam, yang didukung oleh aparatus represi yang kuat, dengan tentara, polisi, agen polisi rahasia, dan mata-mata di setiap blok perumahan, sekolah, universitas, dan pabrik. Tampaknya hampir tidak mungkin pemberontakan popular bisa menang melawan kekuasaan sebuah negara totaliter dan polisi-polisi rahasianya. Tetapi pada momen yang menentukan rejim-rejim yang tampak tak terkalahkan ini ternyata hanyalah raksasa dengan kaki dari tanah liat.

Jerman Timur

Dari semua rejim di Eropa Timur, Republik Demokratik Jerman (GDR) adalah salah satu yang paling maju industri dan teknologinya. Standar hidup disana tinggi, walaupun tidak setinggi Jerman Barat. Tidak ada pengangguran, dan semua orang memiliki akses ke perumahan murah, kesehatan gratis, dan pendidikan yang berstandar tinggi.

Akan tetapi kekuasaan dari negara satu-partai yang totaliter, dengan polisi rahasianya (atau yang dikenal dengan nama Stasi) yang ada dimana-mana dan mata-matanya, korupsi para pejabat, dan kekayaan para elit, adalah sumber ketidakpuasan. Sebelum dibangunnya Tembok Berlin pada tahun 1961, sekitar 2.5 juta penduduk Jerman Timur beremigrasi ke Jerman Barat, banyak yang melalui perbatasan antara Berlin Timur dan Barat. Untuk menghentikan ini, rejim Jerman Timur membangun Tembok Berlin.

Tembok ini dan pembatas-pembatas lainnya sepanjang 1380 kilometer perbatasan yang memisahkan Berlin Barat dan Timur berhasil memangkas emigrasi tersebut. Tindakan ini mungkin membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di GDR. Tetapi ini menyebabkan penderitaan dan kesukaran bagi keluarga-keluarga yang terpisahkan dan ini adalah sebuah hadiah propaganda untuk negara kapitalis Barat, yang memberikan satu lagi contoh “tirani Komunis”.

Pada akhir 1980an situasi di GDR penuh dengan gejolak. Kaum Stalinis tua Erich Honecker [Sekjen Partai Komunis Jerman Timur] menentang dengan keras segala bentuk reformasi. Rejim dia bahkan melarang peredaran publikasi-publikasi “subversif” dari Uni Soviet. Pada tanggal 6 dan 7 Oktober, Gorbachev mengunjungi Jerman Timur dalam rangka ulang tahun Republik Demokratik Jerman yang ke 40, dan dia memberikan tekanan kepada kepemimpinan Jerman Timur untuk melakukan reformasi. Dia dikutip mengatakan: “Wer zu spät kommt, den bestraft das Leben” (Dia yang terlalu telat akan dihukum oleh hidup).

Sementara itu rakyat Jerman Timur sudah menjadi lebih memberontak secara terbuka. Gerakan-gerakan oposisi mulai berjamuran. Ini termasuk Neues Forum (Forum Baru), Demokratischer Aufbruch (Kebangkitan Demokrasi), dan Demokratie Jetzt (Demokrasi Sekarang). Gerakan oposisi terbesar terbentuk melalui sebuah pelayanan gereja Protestan di Leipzig di gereja Nikolaikirche, bahasa Jerman untuk gereja Santo Nicholas, dimana setiap Senin setelah pelayanan penduduk berkumpul di luar menuntut perubahan di Jerman Timur. Akan tetapi, gerakan-gerakan ini tidak punya arah dan naif secara politik.

Sebuah gelombang demonstrasi massa sekarang menyapu seluruh kota-kota Jerman Timur, terutama sangat kuat di Leipzig. Ratusan ribu rakyat bergabung di demo-demo ini. Rejim ini memasuki krisis yang menyebabkan tersingkirnya pemimpin Stalinis garis-keras, Erick Honecker, dan mundurnya seluruh kabinet. Di bawah tekanan gerakan massa, pemimpin partai yang baru, Egon Krenz, menyerukan pemilu yang demokratis. Tetapi reformasi-reformasi yang diusulkan oleh rejim ini terlalu kecil dan terlalu terlambat.

Para pemimpin “komunis” ini mempertimbangkan untuk menggunakan kekerasan tetapi merubah pikiran mereka (dengan sedikit desakan dari Gorbachev). Situasi sekarang berputar di luar kendali. Hari-hari selanjutnya hampir seperti anarki: toko-toko buka sepanjang hari, paspor GDR menjadi tiket gratis untuk transportasi publik. Dalam kalimat seorang pengamat: “secara umum tidak ada peraturan pada saat itu”. Kekuasaan ada di jalanan, tetapi tidak ada yang memungutnya.

Dihadapi dengan pemberontakan massa, negara Jerman Timur yang tampak kuat ini runtuh begitu saja. Pada tanggal 9 November 1989, setelah beberapa minggu gejolak massa, pemerintahan Jerman Timur mengumumkan bahwa seluruh penduduk GDR dapat mengunjungi Jerman Barat dan Berlin Barat. Ini adalah sinyal untuk sebuah ledakan massa yang baru. Secara spontan, kerumunan rakyat Jerman Timur memanjati Tembok Berlin untuk menemui rakyat Jerman Barat di seberang.

Konter Revolusi

Tembok Berlin adalah sebuah simbol dan titik utama dari semua yang dibenci di rejim Jerman Timur. Pembongkaran Tembok ini dimulai cukup spontan. Selama beberapa minggu kemudian, beberapa bagian dari Tembok ini mulai dihancurkan. Kemudian mesin-mesin industri digunakan untuk merobohkan seluruh tembok yang tersisa. Ada atmosfer perayaan, sebuah perasaan sukacita, yang tampak lebih seperti sebuah karnival daripada sebuah revolusi. Tetapi ini benar untuk semua tahap awal dari setiap revolusi yang megah, seperti halnya revolusi 1789.

Pada bulan November 1989, penduduk GDR dipenuhi dengan perasaan emosional – sebuah perasaan pembebasan, dipenuhi dengan perasaan sukacita secara umum. Seperti seluruh bangsa mengalami kemabukan, dan oleh karena itu rentan terhadap saran-saran dan impuls-impuls spontan. Menumbangkan rejim yang lama ini ternyata lebih mudah daripada yang diperkirakan oleh semua orang. Tetapi, setelah menumbangkan rejim ini, apa yang akan menggantikannya. Rakyat yang telah menumbangkan rejim lama ini mengetahui dengan pasti apa yang tidak mereka inginkan, tetapi mereka tidak mengetahui dengan jelas apa yang mereka inginkan, dan tidak ada seorangpun yang menawarkan sebuah jalan keluar.

Semua kondisi objektif untuk sebuah revolusi politik sekarang tersedia. Mayoritas populasi tidak menginginkan restorasi kapitalisme. Mereka menginginkan sosialisme, tetapi dengan hak-hak demokrasi, tanpa Stasi, tanpa birokrat-birokrat yang korup, dan tanpa sebuah negara satu-partai yang diktatorial. Bila sebuah kepemimpinan Marxis yang sejati ada pada saat itu, sebuah revolusi politik sudah pasti akan terjadi dan demokrasi buruh akan terbentuk.

Akan tetapi, jatuhnya Tembok Berlin tidak menghasilkan sebuah revolusi politik tetapi konter-revolusi dalam bentuk unifikasi dengan Jerman Barat. Tuntutan ini (unifikasi dengan Jerman Barat) bukanlah tuntutan utama pada awal demonstrasi. Tetapi tanpa adanya sebuah program yang jelas, tuntutan ini dikedepankan dan perlahan-lahan menempati peran utama.

Kebanyakan pemimpin oposisi tidak memiliki program, kebijakan, atau perspektif yang jelas, selain sebuah harapan untuk demokrasi dan hak sipil. Seperti halnya alam, politik membenci vakum. Keberadaan sebuah negara kapitalis yang kuat dan kaya di seberang oleh karena itu memainkan sebuah peran yang menentukan untuk mengisi vakum ini.

Kanselir Jerman Barat Helmut Kohl adalah seorang wakil imperialisme yang agresif. Dia menggunakan penyuapan yang paling tidak tahu malu untuk membujuk rakyat Jerman Timur untuk setuju dengan unifikasi segera, dengan menawarkan menukarkan mata uang Ostmark dengan Deutschmark dengan nilai tukar satu-untuk-satu. Tetapi yang Kohl tidak katakan kepada rakyat Jerman Timur adalah bahwa unifikasi tidak berarti mereka akan menikmati standar hidup Jerman Barat.

Pada bulan Juli 1990, halangan terakhir untuk unifikasi Jerman tersingkirkan ketika Gorbachev setuju untuk menjatuhkan keberatan Uni Soviet terhadap unifikasi Jerman di bawah NATO, sebagai imbalannya adalah bantuan ekonomi yang cukup bear dari Jerman kepada Uni Soviet. Unifikasi Jerman secara formal selesai pada tanggal 3 Oktober 1990.

Rakyat Tertipu

Rakyat Jerman Timur telah tertipu. Mereka tidak diberitahu bahwa introduksi ekonomi pasar akan berarti pengangguran besar-besaran, penutupan pabrik, dan penghancuran hampir seluruh basis industri di GDR, atau peningkatan harga barang, dan demoralisasi kaum muda, atau bahwa mereka akan dianggap sebagai penduduk kelas-dua di negara mereka sendiri. Mereka tidak diberitahukan hal-hal tersebut tetapi mereka telah mengetahuinya dari pengalaman pahit.

Reunifikasi Jerman menyebabkan anjloknya PDB per kapita Jerman Timur, 15.6% pada tahun 1990 dan 22.7% pada tahun 1991, total sepertiga penurunan PDB. Jutaan lapangan pekerjaan hilang. Banyak pabrik-pabrik Jerman Timur yang dibeli oleh kompetitor Barat dan ditutup. Dari tahun 1992, Jerman Timur mengalamai 4 tahun pemulihan ekonomi, tetapi ini diikuti dengan stagnasi.

Sebelum Perang Dunia Kedua, PDB per kapita Jerman bagian timur sedikit lebih tinggi dari rata-rata Jerman, dan Jerman bagian timur pada saat itu lebih kaya dari negara-negara Eropa Timur lainnya. Tetapi 20 tahun setelah unifikasi, standar hidup Jerman Timur masih tertinggal di belakang Jerman Barat. Tingkat pengangguran 2 kali lipat lebih tinggi daripada Jerman Barat, dan upah jauh lebih rendah.

Di GDR tidak ada pengganguran. Tetapi dari tahun 1989-1992 lapangan kerja menurun 3.3 juta. PDB Jerman Timur tidak pernah meningkat lebih dari tingkat PDB tahun 1989, dan lapangan kerja hanya sekitar 60% dari level 1989. Sekarang, tingkat pengangguran di Jerman secara keseluruhan adalah sekitar 8%, tetapi di Jerman Timur sebesar 12.3%. Akan tetapi, perkiraan tidak-resmi memberikan figur setinggi 20%, dan di antara kaum muda 50%.

Perempuan, yang telah mendapatkan persamaan yang tinggi di GDR, seperti di negara-negara Eropa Timur lainnya, sekarang paling menderita. Data dari Panel Sosio-Ekonomi Jerman untuk pertengahan tahun 1990an menemukan bahwa 15 persen perempuan Jerman Timur dan 10 persen laki-laki menggangur.

Pada bulan Juli 1990, “kanselir persatuan”, Helmut Kohl, menjanjikan: “Dengan usaha bersama kita akan segera merubah [daerah Jerman Timur] Mecklenburg-Vorpommern dan Saxony-Anhalt, Brandenburg, Saxony dan Thuringia menjadi daerah yang sejahtera.” 15 tahun kemudian, sebuah laporan dari BBC mengakui bahwa “statistik sangatlah suram.” Walaupun kapital sebesar 1.25 trillion Euro telah diinjeksi, tingkat pengganguran di Jerman Timur masih 18.5% pada tahun 2005 (sebelum resesi sekarang ini) dan di banyak daerah tingkat pengangguran lebih dari 25%.

Halle di Saxony-Anhalt, yang dulunya adalah sebuah pusat industri kimia yang penting dengan lebih dari 315.000 orang, telah kehilangan hampir 1/5 penduduknya. Sebelum Tembok Berlin jatuh pada tahun 1989, “segitiga kimia” Leuna-Halle-Bitterfield menyediakan 100 ribu pekerjaan – sekarang hanya 10,000 yang tertinggal. Gera dulu memiliki industri tekstil dan pertahanan yang besar, dan beberapa pertambangan uranium. Mereka telah hilang, dan hal-hal yang serupa terjadi di banyak industri-industri milik negara sejak 1989.

PBD per kapita Jerman Timur meningkat dari 49% PDB barat pada tahun 1991 hingga 66% pada tahun 1995, dan semenjak itu tidak ada peningkatan lagi. Ekonomi tumbuh sekitar 5,5% per tahun, tetapi ini tidak menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Sebagai akibatnya banyak penduduk yang meninggalkan Jerman Timur. Semenjak unifikasi sekitar 1,4 juta orang telah pindah ke Barat, kebanyakan dari mereka masih muda dan berpendidikan tinggi. Emigrasi dan penurunan tajam kesuburan telah menyebabkan jumlah populasi Timur menurun setiap tahun semenjak unifikasi.

Adalah sebuah ironi sejarah bahwa 20 tahun setelah unifikasi orang-orang meninggalkan Jerman Timur, bukan untuk lari dari Stasi, tetapi untuk lari dari tingkat pengganguran yang tinggi. Tentu saja beberapa orang hidupnya sangat baik. Laporan BBC mengatakan: “Rumah-rumah borjuasi yang megah, yang dulu dipenuhi lubang-lubang peluru dari Perang Dunia Kedua sampai tahun 1989, telah dikembalikan ke kemegahan mereka yang dulu.”

Marxisme Bangkit Kembali

Seperti banyak orang Jerman Timur lainnya, Ralf Wulff mengatakan bahwa dia gembira dengan jatuhnya Tembok Berlin dan gembira melihat kapitalisme menggantikan komunisme. Tetapi kesukacitaan ini tidak bertahan lama. “Hanya butuh beberapa minggu saja untuk melihat apa sesungguhnya ekonomi pasar bebas ini,” kata Wulff. “Ini adalah materialisme dan eksploitasi besar-besaran. Manusia kehilangan arah. Kita tidak memiliki kenyamanan materi tetapi komunisme memiliki banyak hal.” (Laporan Reuters)

Hans-Juergen Schneider, seorang insinyur berumur 49 telah menggangur semenjak Januari 2004. Dia telah mengirim 286 lamaran kerja semenjak itu, tanpa sukses. “Ekonomi pasar tidak dapat menyelesaikan masalah kami,” katanya, “bisnis besar hanya meraup untung tanpa mengambil tanggungjawab.” Dia tidak sendirian. Sebuah survey oleh Der Spiegel menyatakan bahwa 73% rakyat Jerman Timur percaya bahwa kritik Karl Marx terhadap kapitalisme masihlah valid.

Survey lainnya yang dipublikasikan pada bulan Oktober 2008 di majalah Super Illus menyatakan bahwa 52% orang di Jerman Timur menganggap ekonomi pasar “tidak berguna” dan “tidak dapat berfungsi”. 43% memilih sistem ekonomi sosialis, karena “sistem ini melindungi orang-orang kecil dari krisis finansial dan ketidakadilan lainnya”. 55% menolak bailout bank oleh negara.

Dari orang-orang muda (18 sampai 29 tahun), yang tidak pernah tinggal di GDR, atau hanya sebentar saja, 51% menginginkan sosialisme. Angka untuk orang berumur 30 sampai 49 tahun adalah 35%. Tetapi untuk mereka yang lebih dari 50 tahun adalah 46%. Penemuan ini dikonfirmasikan di wawancara-wawancara dengan puluhan rakyat Jerman Timur. “Kita membaca mengenai ‘horor kapitalisme’ di sekolah. Mereka benar. Karl Marx sungguh benar,” kata Thomas Pivitt, seorang pekerja IT berumur 46 dari Berlin Timur. Das Kapital laku terjual untuk penerbit Karl-Dietz-Verlag, terjual lebih dari 1.500 kopi pada tahun 2008, tiga kali lipat dari tahun 2007, dan 100 kali lipat semenjak 1990.

“Semua orang berpikir bahwa tidak akan ada lagi permintaan untuk Das Kapital,” kata direktur manajemen Joern Schuetrumpf kepada Reuters. “Bahkan para bankir dan manejer sekarang membaca Das Kapital untuk mencoba memahami apa yang terjadi. Marx sekarang popular,” katanya.

Krisis kapitalisme telah meyakinkan banyak rakyat Jerman, baik Timur maupun Barat, bahwa sistem ini telah gagal. “Saya dulu mengira komunisme adalah buruh, tetapi kapitalisme bahkan lebih parah,” kata Hermann Haibel, tukang besi berumur 76 yang sudah pensiun. “Pasar bebas sungguhlah brutal. Kaum kapitalis ingin memeras keuntungan lebih, lebih, dan lebih,” katanya. “Saya memiliki kehidupan yang baik sebelum Tembok runtuh,” dia menambahkan. “Tidak ada yang kawatir mengenai uang karena uang tidaklah penting. Kau memiliki pekerjaan bahkan jika kau tidak menginginkannya. Ide komunis tidaklah buruk.”

“Saya pikir kapitalisme bukanlah sistem yang tepat bagi kita,” kata Monika Weber, seorang pegawai kota berumur 46. “Distribusi kekayaan tidaklah adil. Kita melihat itu sekarang. Orang kecil seperti saya harus membayar mahal untuk kekacauan finansial ini dengan pajak yang lebih tinggi karena para bankir yang tamak.”

Yang lebih penting dari survey-survey ini adalah hasil pemilu Jerman baru-baru ini. Partai Kiri meraih kemajuan yang penting, mendapatkan hampir 30% suara di Timur. Di Timur sekarang tidak ada mayoritas untuk partai-partai borjuis. Apa yang jelas ditunjukkan disini adalah bahwa rakyat Jerman Timur tidak menginginkan kapitalisme, tetapi menginginkan sosialisme – bukan karikatur birokratik totaliter dari sosialisme yang mereka miliki sebelumnya, tetapi sebuah sosialisme demokratis yang sejati – sosialismenya Marx, Engels, Liebknecht, dan Luxemburg.

London, 19 Oktober, 2009

Diterjemahkan oleh Ted Sprague dari “The fall of the Berlin Wall: 20 years later”, Alan Woods.

Sabtu, 14 November 2009

Steve Taylor Batal Hengkang?
Kamis, 12 November 2009 12.50 WIB

foto:rockthisway.de

(Vibizlife – Music News) Vokalis Aerosmith, Steven Taylor membantah dirinya telah meninggalkan grup band tersebut.

Beberapa waktu lalu gitaris Aerosmith, Joe Perry mengeluarkan pernyataan bahwa Steven Tyler hengkang sebagai vokalis. Kurangnya komunikasi antara Steven dan personel lainnya jadi salah satu penyebab.

Berita tersebut heboh berat. Namun Steven tak jua mau bicara. Hingga akhirnya Steven terlihat membantu pentas Joe di Filmore, New York, 10 November waktu setempat.

Dalam kesempatan tersebut ayah model Liv Tyler itu angkat bicara. Ia membantah dirinya meninggalkan Aerosmith yang telah eksis selama 40 tahun itu.

"Saya hanya mau New York tahu, saya tidak meninggalkan Aerosmith," teriak Steven di atas pentas dikutip dari NME.

Bagi Steven, Aerosmith adalah keluarga. Ia mengaku tak akan meninggalkan Aerosmith terutama Joe yang telah lama menjadi rekan kerjanya tersebut.

"Joe Perry, kamu adalah pria dengan banyak warna, tapi saya adalah pelangi!," teriaknya lagi.

Sumber; www.vibizlife.com/music_news_details.php?id

Sulit dipercaya kalo steven tylor hengkang dari aerosmith, jujur saya tahu kabar yang aneh tersebut pertama kali dari wall teman saya, awalnya saya tidakpercaya, namun setelah saya googling beberapa sites ubtuk mengkonfirmasi kabar tersebut, ternyata memeng benar Stven Tylor sang vokaclis Aerosmith telah hengkang dari BAnd yang telah membesarkan para personilnya termasuk Steven Tylor